KUPANG,- Di tengah sorotan publik atas proyek strategis Jalan Sabuk Merah di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste, komitmen tanggung jawab kontraktor kembali diuji.
- Menjaga Kepercayaan di Ujung Perbatasan
Kritik yang dilontarkan Ketua Aliansi Rakyat Anti Korupsi (ARAKSI) NTT, Alfred Baun, menjadi bagian dari dinamika pengawasan. Namun di balik itu, PT Lince Maju Jaya memilih berdiri pada satu prinsip: menyelesaikan pekerjaan dengan tanggung jawab penuh.
Proyek Jalan Sabuk Merah bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa. Ia adalah urat nadi konektivitas perbatasan, membuka akses ekonomi, sosial, dan pertahanan negara. Karena itu, setiap tahapan pekerjaan—termasuk masa pemeliharaan—menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, PT Lince Maju Jaya menegaskan bahwa seluruh pekerjaan yang berada dalam tanggung jawabnya masih dalam koridor kontraktual, termasuk kewajiban perbaikan selama masa pemeliharaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorotan terhadap kerusakan di beberapa titik proyek, baik di sektor barat maupun timur, direspons sebagai bagian dari dinamika teknis lapangan. Pekerjaan jalan dengan metode hotmix di wilayah dengan kondisi tanah labil dan cuaca ekstrem memang memiliki tantangan tersendiri. Namun, bagi perusahaan, kondisi tersebut bukan alasan untuk menghindar, melainkan justru menjadi dasar untuk memperkuat komitmen perbaikan.
Prinsipnya PT Lince Maju Jaya bertanggung jawab atas pekerjaan. Ini menjadi penegasan yang mencerminkan sikap profesional perusahaan. Aktivitas yang sempat terhenti karena momentum libur Paskah dipastikan bukan bentuk pengabaian, melainkan jeda operasional yang lazim, dan pekerjaan akan kembali dilanjutkan sesuai rencana.
Tudingan terkait dugaan monopoli maupun kesamaan kendali antarperusahaan secara tegas dibantah. PT Lince Maju Jaya memastikan bahwa seluruh proses tender telah berjalan sesuai mekanisme dan regulasi yang berlaku. Keikutsertaan dalam proyek merupakan hasil dari proses yang terbuka dan kompetitif, bukan praktik penguasaan oleh kelompok tertentu sebagaimana yang dituduhkan.
Dalam catatan proyek, keterlibatan PT Lince Maju Jaya termasuk dalam penanganan jalan ambruk di Oelbinose pada awal 2025, menjadi bukti konkret kehadiran perusahaan di lapangan. Penanganan material longsor hingga perbaikan akses sementara dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab teknis, memastikan konektivitas tetap terjaga meski dalam kondisi darurat.
Bagi perusahaan, kepercayaan dari negara, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum, adalah hal yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Karena itu, menjaga kualitas pekerjaan bukan hanya kewajiban kontrak, tetapi juga bentuk integritas. Setiap kerusakan yang muncul dalam masa pemeliharaan justru menjadi ruang evaluasi dan perbaikan, bukan indikasi kegagalan.
Di tengah arus kritik, PT Lince Maju Jaya memilih menjawab dengan kerja. Bahwa jalan yang dibangun harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat perbatasan. Bahwa setiap rupiah anggaran negara harus kembali dalam bentuk infrastruktur yang layak dan berkelanjutan.
Narasi pembangunan di perbatasan tidak boleh berhenti pada tudingan. Ia harus dilanjutkan dengan pembuktian di lapangan. Dan bagi PT Lince Maju Jaya, pembuktian itu sedang berjalan pelan, teknis, tetapi pasti demi menjaga kepercayaan yang telah diberikan.*(//)








