Kotaraja Kolana suatu Keniscayaan

Senin, 11 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kotaraja Kolana suatu Keniscayaan

 

Heronimu Bani

Pengantar

Desember 2017 rombongan dari dari Kota Kupang ke Kabupaten Alor. Rombongan terdiri dari UBB GMIT plus dua pendeta mewakili Kantor MS GMIT. Di sana ada kegiatan peluncuran Injil Markus untuk Bahasa Wersing, Klon dan Teiwa. Saya, menghadiri satu di antara tiga acara ini, yang dilangsungkan di Kotaraja Kolana. Nah, ada apa dengan judul ini?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Kampung Kolana Kotaraja Kolana

Siapapun yang masuk ke Kolana akan disambut di pintu gerbang oleh barisan petidur (kuburan) dan tugu selamat datang. Di tugu selamat datang tertulis, SELAMAT DATANG DI KAMPUNG KOLANA.

 

Saya tertegun membacanya. Sebelum tiba di sana, sedikit informasi yang mengandung pengetahuan tentang  Kolana telah saya miliki. Membayangkan Kolana sebagai ibukota Lerian Taruamang (Alor Timur), menjadi sebab-musabab saya tertegun. Mengapa? Karena sebagai ibukota Lerian, tidaklah pantas disebutkan sebagai kampung. Pikiran ini terus menggoda, hingga akhirnya saya mengajak berdiskusi dengan bapak Samuel Tubulau, mantan Camat Alor Timur.

 

Dalam diskusi itu, saya langsung masuk pada inti dari ide yang hendak saya sampaikan pada mantan Camat ini yang pernah menjalani tugas di Alor Timur dan berkali-kali mengunjungi Kolana. Mengapa berkali? Karena di sana, bukan sekedar kampung belaka. Di sana ada sejumlah hal yang mesti diretas dari sana bila ingin Alor Timur berkembang.

 

Beberapa aspek yang membuat Kolana mesti bukan kampung tetapi kota saya paparkan pada sang mantan Camat Alor Timur ini. Ia mengangguk pertanda memahami maksud dari apa yang saya sampaikan. Lalu, saya pesankan agar dapat mendiskusikannya dengan para pini sepuh, tokoh dan terutama Leri Kolana saat ini yang menjadi symbol budaya Alor Timur. Apa yang sampaikan? Saya sampaikan agar diksi KAMPUNG diganti dengan KOTARAJA. Cukup itu saja lalu disambung dengan Kolana yang lengkapnya Kotaraja Kolana.  Hal ini telah berlangsung pada Desember 2017.

 

Hari ini (11/11/2019), saya bertemu dengan bapak Samuel Tubulau di UBB GMIT Kupang. Ia kembali menyegarkan ingatan saya tentang diskusi itu. Ia menyempatkan bercerita tentang ide yang pernah saya sampaikan dan mulai mendapat tanggapan untuk didiskusikan lebih lanjut terutama oleh Leri Kolana, Yusuf Makunimau. Ada perasaan senang dan bangga ketika bapak Samuel Tubulau bercerita, tapi diselipi keterangan tambahan, bagaimana dan darimana memulainya?

 

Kembali saya sarankan agar mulai berdiskusi. Jalani diskusi itu hingga matang lalu laporkan kepada Bupati agar mendapatkan pertimbangannya. Ada nilai dan dampak yang akan diperoleh bila menggunakan term baru, Kotaraja Kolana.

 

Penutup

Hal-hal yang sifatnya historis yang memberi dampak kebanggaan pada generasi berikutnya tidak harus memulainya dari buku-buku sejarah yang isinya di luar ekspektasi anak-anak. Maka, suatu keniscayaan bila Kampung Kolana berganti nama menjadi Kotaraja Kolana.

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pihak Bildad Thonak Minta Polda NTT Lanjutkan Proses Hukum dan Semua Fakta Harus Diuji
Stevano dan Perjuangan Menjaga Mimpi Anak-Anak Sumba Timur
Polemik Kepengurusan Swasti Sari, Pengurus Tegaskan Mekanisme UKK
Estafet Kepemimpinan HIMARASI Berlanjut, Pesan Ary Buraen Dibawa Spirit “Im Tabua Tafena Amarasi”
BPJN NTT Sukses Tangani Proyek Sabuk Merah di Ujung Negeri, Jalan yang Membawa Harapan
KKJ NTT dan AJI Kupang Bersuara: Bildad Tonak Diantara Pemberitaan dan Penghakiman
Dugaan Muskot Ilegal Guncang PBVSI Kota Kupang, Empat Orang Dilaporkan ke Polisi
Anatomi Problematika Pendidikan Dasar di Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:25

Pihak Bildad Thonak Minta Polda NTT Lanjutkan Proses Hukum dan Semua Fakta Harus Diuji

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:35

Stevano dan Perjuangan Menjaga Mimpi Anak-Anak Sumba Timur

Selasa, 11 Agustus 2026 - 00:28

Polemik Kepengurusan Swasti Sari, Pengurus Tegaskan Mekanisme UKK

Minggu, 9 Agustus 2026 - 03:30

Estafet Kepemimpinan HIMARASI Berlanjut, Pesan Ary Buraen Dibawa Spirit “Im Tabua Tafena Amarasi”

Minggu, 9 Agustus 2026 - 02:24

BPJN NTT Sukses Tangani Proyek Sabuk Merah di Ujung Negeri, Jalan yang Membawa Harapan

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.