Di dalam bahasa Amarasi-Kotos, ungkapan kais am’aijoo’ gom bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cara masyarakat membaca watak manusia melalui alam. Frasa kais am’aijoo’ gom ~ kaisa’ am aijoo’ gom, yang secara harfiah berarti “jangan menjadi seperti pohon kasuari” memperlihatkan bagaimana struktur bahasa, morfologi, dan pengalaman ekologis bertemu dalam satu nasihat sosial yang padat.
Secara linguistik, frasa ini tersusun dari beberapa unsur yang saling mengikat makna. Kaisa’ berfungsi sebagai penanda larangan yang tegas. Ia bukan sekadar “jangan”, tetapi mengandung nuansa etis, batas yang tidak seharusnya dilanggar. Prefiks am- memberi arah tindakan atau keadaan yang hendak dihindari. Sementara aijoo’ (atau aijo’o) merujuk pada pohon kasuari/cemara, satu entitas alam yang dikenal baik oleh masyarakat Pah Amarasi. Kata ‘gom’ sebagai pronomina orang ketiga objek menegaskan bahwa larangan ini diarahkan pada subjek yang sedang dibicarakan, suatu bentuk pengingatan sosial yang bisa hadir dalam percakapan langsung maupun tidak langsung.
Namun, kekuatan ungkapan ini tidak berhenti pada tataran leksikal. Ia hidup dalam pengalaman kolektif. Pohon kasuari dikenal sebagai pohon yang kokoh, batangnya tegak, akarnya menghunjam kuat ke tanah. Tetapi di saat yang sama, pucuknya yang runcing dan lentur mudah digoyang angin. Di sinilah metafora bekerja: kekuatan yang tidak diimbangi dengan keteguhan arah akan menjadikan seseorang mudah “digoyahkan”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks sosial Amarasi-Kotos, frasa ini menjadi kritik halus terhadap cara bertutur dan bersikap. Seseorang yang bertele-tele, berputar-putar dalam percakapan, atau tidak langsung pada pokok persoalan, dianalogikan seperti pucuk kasuari yang terus bergoyang. Ia mungkin memiliki kapasitas: kuat, cerdas, bahkan berpengaruh, namun kehilangan ketegasan arah. Dalam situasi seperti itu, ia tidak hanya berpotensi “mempermainkan” orang lain melalui kata-kata yang tidak lurus, tetapi juga membuka ruang bagi dirinya sendiri untuk dipermainkan oleh kepentingan orang lain.
Ungkapan ini dengan demikian mengandung dua lapis peringatan. Pertama, pada tataran etika komunikasi: berbicaralah dengan lurus, jujur, dan tidak berputar-putar. Kedua, pada tataran karakter: kekuatan pribadi harus disertai keteguhan sikap. Tanpa itu, kekuatan justru menjadi pintu masuk bagi manipulasi, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.
Di sini kita melihat bagaimana bahasa daerah tidak hanya menyimpan kosakata, tetapi juga menyimpan filsafat hidup. Kaisa’ am aijoo’ gom bukan sekadar larangan menjadi “seperti pohon kasuari”, melainkan ajakan untuk menjadi manusia yang utuh: kuat di akar, tegak di batang, dan tidak mudah goyah di pucuk, baik dalam kata maupun dalam laku.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara









