KUPANG,- Di setiap hentakan genderang dan gerak lincah singa warna-warni, barongsai tidak sekadar menampilkan atraksi. Kesenian ini adalah perpaduan keberanian, ketangkasan, disiplin, dan semangat kebersamaan. Sejak berabad-abad lalu, barongsai menjadi simbol keberuntungan dan persatuan, sebuah pertunjukan budaya yang menyatukan seni, olahraga, dan tradisi dalam satu panggung yang memikat.
Semangat itulah yang kini mendapat perhatian di Nusa Tenggara Timur. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menunjukkan dukungannya terhadap perkembangan kesenian sekaligus olahraga barongsai di daerah ini.
Dukungan tersebut terungkap saat menerima audiensi pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, Jumat (6/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar silaturahmi. Ia menjelma menjadi ruang dialog tentang bagaimana barongsai tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai cabang olahraga yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Dalam audiensi tersebut, Sekretaris Umum PSMTI, Peng Suyoto, hadir bersama sejumlah pengurus pusat dan daerah. Ia didampingi Ketua Harian PSMTI Pusat Djoni Toat serta Sekretaris Jenderal Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Heryanto Salim. Turut hadir pula jajaran pengurus PSMTI Provinsi NTT, di antaranya Bobby Lianto dan Sonny Tamara.
Percakapan berlangsung cair, namun penuh gagasan. Salah satu topik penting yang mengemuka adalah peluang besar bagi atlet barongsai NTT untuk tampil dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang, terlebih ketika NTT dipercaya menjadi tuan rumah.
Gubernur Melki Laka Lena menyambut gagasan tersebut dengan optimisme. Baginya, barongsai bukan hanya seni budaya komunitas tertentu, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang dapat berkembang di mana saja, termasuk di NTT yang dikenal sebagai tanah keberagaman.
Sebagai langkah awal, dibahas pula rencana penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Barongsai bertajuk Gubernur Cup. Ajang ini diharapkan menjadi panggung pembinaan sekaligus pemanasan bagi para atlet sebelum berlaga di kompetisi yang lebih besar.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan barongsai kepada masyarakat luas di NTT. Dengan demikian, generasi muda dapat melihat bahwa di balik tarian singa yang atraktif, terdapat latihan keras, kekompakan tim, dan semangat sportivitas yang tinggi.
Di tengah dinamika masyarakat yang beragam, barongsai justru menjadi simbol bagaimana budaya dapat menjembatani perbedaan. Melalui gerakan yang kompak dan irama yang energik, barongsai menyampaikan pesan sederhana: bahwa kebersamaan selalu memiliki ruang untuk tumbuh.
Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan olahraga dan seni seperti ini menjadi penanda penting bahwa NTT tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat ruang kebudayaan dan kreativitas masyarakatnya.
Jika kelak barongsai benar-benar tampil gemilang di panggung PON dari tanah NTT, maka kisahnya mungkin akan selalu diingat bermula dari sebuah pertemuan sederhana—ketika semangat budaya, olahraga, dan kebersamaan bertemu dalam satu meja audiensi.**









