KUPANG,- Menjelang Kongres/Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI di Ruteng pada 19–25 Juli 2026, arah masa depan organisasi menjadi perbincangan penting di tengah dinamika kebangsaan yang terus berubah. PMKRI tidak hanya membutuhkan seorang ketua, tetapi seorang pemimpin yang mampu membaca zaman, menyatukan energi kader, dan mengembalikan organisasi sebagai kekuatan intelektual yang relevan bagi Gereja, bangsa, dan negara.
Dalam konteks itulah, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PMKRI Cabang Kupang Santo Fransiskus Xaverius secara resmi mengusung Marianus D. Humau sebagai calon Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2026–2028. Dukungan ini lahir bukan sebagai keputusan emosional ataupun kepentingan sesaat, melainkan hasil refleksi mendalam atas kebutuhan organisasi akan kepemimpinan yang berintegritas, visioner, serta lahir dari proses kaderisasi yang utuh.
PMKRI sejak awal berdiri dikenal sebagai ruang pembentukan pemimpin. Karena itu, organisasi ini semestinya dipimpin oleh kader yang telah melewati setiap tahapan pengabdian, memahami denyut organisasi dari akar rumput, dan memiliki keberanian membawa perubahan. Marianus D. Humau dinilai memenuhi prasyarat tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai Presidium Pendidikan dan Kaderisasi Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, Marianus tidak hanya memahami teori tentang kaderisasi, tetapi juga terlibat langsung membangun kualitas kader di berbagai cabang. Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dalam mengawal proses pendidikan organisasi sekaligus membangun komunikasi yang inklusif di tengah beragam karakter cabang PMKRI di seluruh Indonesia.
Kepemimpinan modern tidak lagi diukur dari kemampuan berbicara di podium semata. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menyatukan perbedaan, membangun kolaborasi, serta menghadirkan solusi nyata atas tantangan organisasi. Pada titik inilah Marianus dinilai memiliki keunggulan. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu mengubah gagasan menjadi kerja nyata, membangun jejaring lintas daerah, serta menjaga semangat persaudaraan di tengah dinamika organisasi.
Visi yang diusung melalui konsep PMKRI Nexus 5.0 menjadi gambaran arah pembaruan organisasi. Pilar Networking, Educate, Explore, Upward, dan Synergy bukan sekadar slogan, tetapi menawarkan paradigma baru agar PMKRI semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, responsif terhadap persoalan bangsa, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai kekatolikan, kemahasiswaan, dan keindonesiaan.
Di tengah tantangan polarisasi, krisis kepercayaan publik, dan perubahan sosial yang begitu cepat, PMKRI membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul seluruh cabang tanpa sekat wilayah maupun kepentingan kelompok. Organisasi sebesar PMKRI akan kehilangan daya pengaruh apabila kepemimpinannya hanya sibuk mengelola perbedaan, bukan menyatukan kekuatan.
Dukungan DPC PMKRI Kupang kepada Marianus D. Humau menjadi penegasan bahwa proses kaderisasi yang baik harus melahirkan regenerasi kepemimpinan yang berkualitas. Dari Timur, lahir optimisme bahwa PMKRI dapat dipimpin oleh figur yang memahami akar organisasi sekaligus memiliki pandangan jauh ke depan.
Semangat “Dari Kota Kasih Kupang Kita Rajut Asa” bukan sekadar slogan deklaratif. Ia merupakan ajakan untuk memastikan bahwa kepemimpinan nasional PMKRI ke depan dibangun di atas fondasi integritas, kapasitas, dan komitmen terhadap cita-cita perhimpunan. Sebab pada akhirnya, organisasi besar tidak ditentukan oleh siapa yang paling populer, melainkan oleh siapa yang paling siap mengabdi dan membawa PMKRI tetap relevan dalam menjawab tantangan Indonesia hari ini dan masa depan.
Editor: Chris Bani









