Pemerintah Pusat Harus Evaluasi Kinerja PT Adhi Karya di NTT, Banyak Proyek Inpres Rugikan Petani

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Proyek irigasi yang dikerjakan PT Adhi Karya di Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Proyek irigasi yang dikerjakan PT Adhi Karya di Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Kupang,- Kementerian Pertanian dan PUPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp12 triliun untuk membangun saluran irigasi yang akan mencakup 2 juta hektare sawah di seluruh Indonesia. Program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan memperkuat sektor pertanian demi mencapai swasembada pangan.

Namun perhatian Presiden terhadap irigasi yang sangat luar biasa ini, menjadi luka bagi para petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana tidak, proyek Instruksi Presiden yang seharusnya dikerjakan secara teliti dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, justru sebaliknya merupakan petani, bahkan terancam kelaparan.

Kondisi pekerjaan PT Adhi Karya di Kabupaten Belu yakni DI Raimetan dan DI Raiikun

Pemerintah Pusat harus segera melakukan evaluasi terhadap kinerja PT Adhi Karya, salah satu BUMN yang ditugaskan untuk menangani proyek Instruksi Presiden (Inpres) infrastruktur irigasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan petani ini justru menimbulkan kerugian bagi mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di NTT, PT Adhi Karya menangani 34 titik proyek irigasi yang sebagian besar tidak tuntas dan bahkan merugikan petani. Salah satu contoh adalah proyek irigasi di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Kupang, di mana saluran irigasi tidak bisa diairi sehingga petani tidak bisa menanam di periodik pertama awal Januari 2026.

Ini sangat merugikan masyarakat. Petani sudah menunggu lama untuk bisa menanam, tapi karena saluran irigasi tidak siap, mereka harus menunggu lagi.

Pekerjaan irigasi belum maksimal di Desa Kolabe, Kabupaten Kupang

Kinerja PT Adhi Karya di NTT memang sudah menjadi sorotan banyak pihak dua pekan terakhir. Banyak proyek yang tidak tuntas, tidak sesuai dengan spesifikasi, dan bahkan ada yang tidak dikerjakan sama sekali.

PT Adhi Karya harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh petani. Mereka harus menyelesaikan proyek ini dengan baik dan memastikan saluran irigasi bisa diairi.

Pemerintah Pusat juga harus segera melakukan evaluasi terhadap kinerja PT Adhi Karya dan mengambil tindakan tegas jika ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian.

Kita tidak bisa membiarkan PT Adhi Karya terus-menerus melakukan kesalahan dan merugikan rakyat. Pemerintah harus bertindak. Proyek irigasi di NTT ini sebenarnya sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan produksi pertanian. Namun, karena kinerja PT Adhi Karya buruk, proyek ini justru menjadi beban bagi petani.

Nampak pekerjaan irigasi oleh PT Adhi Karya sudah memasuki pertengahan Januari 2026 namun hasilnya belum maksimal.

Pemerintah harus memastikan bahwa proyek ini diselesaikan dengan baik dan bermanfaat bagi petani. Tentu masyarakat penerima manfaat tidak ingin melihat proyek ini menjadi sia-sia.

PT Adhi Karya juga diminta segera menyelesaikan proyek irigasi di NTT dan memastikan saluran irigasi bisa diairi. Pemerintah Pusat melalui satuan kerja dan aparat penegak hukum harus memantau kinerja PT Adhi Karya dan mengambil tindakan tegas jika ada kesalahan.

Masyarakat ingin memastikan bahwa proyek ini diselesaikan dengan baik dan bermanfaat bagi rakyat. PT Adhi Karya harus bertanggung jawab. Evaluasi kinerja PT Adhi Karya di NTT harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Pemerintah Pusat harus memastikan bahwa kesalahan tidak terulang lagi di masa depan.

Papan informasi proyek di Amfoang Utara, Kabupaten Kupang.

Pemerintah Pusat harus segera melakukan evaluasi terhadap kinerja PT Adhi Karya di NTT dan mengambil tindakan tegas jika ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian. Rakyat NTT menunggu jawaban dan tindakan nyata dari pemerintah.

Penulis: Chris Bani

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Agustinus Tae dan Kuasa Hukum Serahkan Bukti ke Polisi soal Muskot PBVSI Kota Kupang
Mesin Perahu dari Usman Husin Jadi Jawaban Aspirasi Nelayan Sumba Timur
Usman Husin Temui Bupati Sumba Timur, Dorong Penguatan Pertanian dan Serahkan Bantuan Alsintan
UDN dan Jurnalis Bangun Ruang Belajar Bersama, Dari Kualitas Berita hingga Isu Kelompok Rentan
Bupati Falen Kebo Apresiasi Blue Ocean Salt, Investasi Pantura TTU Masuk Tahap Pelaksanaan
Dukungan Penuh Daniel Taimenas Perluas Akses KUR Bank NTT bagi UMKM
Soal Keberatan Tiga Anggota DPRD TTU, Egiardus Bana Desak BK Berpedoman pada UU 30/2014
Silaturahmi Bawaslu dan PKB Kabupaten Kupang, Sinergi Menuju Tahapan Pemilu

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:12

Agustinus Tae dan Kuasa Hukum Serahkan Bukti ke Polisi soal Muskot PBVSI Kota Kupang

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:03

Mesin Perahu dari Usman Husin Jadi Jawaban Aspirasi Nelayan Sumba Timur

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:53

Usman Husin Temui Bupati Sumba Timur, Dorong Penguatan Pertanian dan Serahkan Bantuan Alsintan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 03:40

UDN dan Jurnalis Bangun Ruang Belajar Bersama, Dari Kualitas Berita hingga Isu Kelompok Rentan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 03:37

Bupati Falen Kebo Apresiasi Blue Ocean Salt, Investasi Pantura TTU Masuk Tahap Pelaksanaan

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.