Kupang,- Di Desa Netemnanu, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, ratusan petani menggantungkan harapan pada distribusi air dari Sungai Noel Fael. Namun, proyek rehabilitasi saluran irigasi yang seharusnya mengairi lebih dari 800 hektar lahan sawah aktif masih belum rampung.
Proyek ini merupakan tanggung jawab Satuan Kerja (Satker) NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Nusa Tenggara (Nusra) II di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II Provinsi NTT. Pengerjaannya dibagi dalam dua paket proyek dengan total anggaran miliar rupiah.
Paket pertama dikerjakan oleh PT Cinta Karya Membangun dengan panjang rehabilitasi jaringan irigasi sekitar 11 kilometer nilai miliaran rupiah. Ham yang sama juga terhadap paket kedua ditangani CV Gwensa sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan nilai kontrak miliaran rupiah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pembongkaran saluran irigasi di sejumlah titik memang telah dilakukan sejak Oktober 2025, tetapi hingga pertengahan Februari 2026, sejumlah ruas dengan panjang belasan hingga puluhan meter yang telah dibongkar total terlihat belum juga dirampungkan.
Yan Tampani selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi Rawa BWS Nusa Tenggara II, menegaskan bahwa proyek ini harus diselesaikan sesuai dengan syarat-syarat dalam kontrak.
“Tentu kami tidak ingin proyek ini ada keterlambatan. Maka dari itu, selaku PPK Saya aktif melakukan pemantauan lapangan dan berkoordinasi dengan pelaksana proyek. Kami ingin memastikan bahwa proyek ini dapat diselesaikan dengan baik dan tidak ada kerugian lebih besar baik pada petani maupun pihak ketiga dalam pembayaran denda,” ujar Yan, Selasa (17/2/2026) sore.
Menurutnya, paket pertama dikerjakan oleh PT Cinta Karya Membangun sudah dalam tahap pemeliharaan dan sementara memperbaiki patahan saluran lama. Sedangkan CV GWENSA sudah didenda karena keterlambatan.

“Kami kejar agar akhir bulan ini atau bulan depan sudah bisa diselesaikan untuk paket dua,” jelas Yan Tampani.
Keterlambatan proyek ini telah menyebabkan kekhawatiran di kalangan petani. Namun PPK tetap optimis proyek ini diselesaikan secepatnya agar petani dapat memulai musim tanam.**









