Flotim,- Sebuah langkah besar telah diambil untuk meningkatkan kualitas hidup penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT. Pembangunan jalan menuju lokasi hunian tetap (Huntap) telah dimulai, dengan anggaran Rp38.550.834.000 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Proyek ini merupakan harapan baru bagi penyintas yang telah lama menanti akses jalan yang lebih baik. “Kami sudah mulai, ada penggalian (tanah), ini kami masih bergerak persiapan,” kata PPK 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Viktor Nalle, dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Februari 2026.
Viktor menjelaskan bahwa proyek ini sejatinya dimulai pada 15 Desember 2025, namun pengerjaan fisiknya baru berjalan pada 1 Januari 2026. Proyek yang dikerjakan PT Dewi Graha Indah ini berlangsung selama 180 hari kerja hingga 14 Juni 2026, serta waktu pemeliharaan 365 hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyintas erupsi Lewotobi Laki-laki, Krensen Ladjar, berharap agar proyek ini dikerjakan dengan mengutamakan kualitas. “Jangan kerja asal-asalan, jangan sekongkol untuk keuntungan diri. Kami sampaikan rasa terima kasih, semoga pekerjaan berjalan baik sesuai dengan aturan, utamakan kualitas,” ujarnya.
Kepala Dinas Perumahan Flores Timur, Eduard Fernandez, mengatakan bahwa lokasi Huntap di Kuhe sudah ditetapkan dan lunas, dengan harga Rp9.000 per meter. Selain Kuhe, Pemkab Flores Timur juga membidik Todo dan Kureng di Kecamatan Titehena sebagai lokasi pembangunan Huntap.
Dengan pembangunan jalan ini, penyintas erupsi Lewotobi Laki-laki dapat menanti akses jalan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Proyek multiyears yang dimulai dari wilayah Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang ke Kuhe itu sejatinya dimulai pada 15 Desember 2025, sesuai dengan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Proyek ini dipastikan kedepankan kualitas fisik proyek di bawah pengawasan CV Secon Dwitunggal Putra (KSO).
Penyintas erupsi Lewotobi Laki-laki dengan jumlah 9.579 jiwa dari enam desa terdampak kini menempati Huntara. Ada pula pengungsi mandiri yang tinggal di rumah warga.**









