Penulis: Chris M. Bani, S.H
(Advokat & Konsultan Hukum)
KUPANG,- Politik selalu menyimpan ruang untuk kejutan. Apa yang tampak pasti pada pagi hari, belum tentu bertahan hingga malam. Dalam dinamika Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Kupang, perubahan arah dukungan menjadi bukti bahwa keputusan politik tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa hari terakhir, perhatian publik tertuju pada konsolidasi Partai Golkar yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Golkar Kabupaten Kupang, Jerry Manafe. Forum yang berlangsung pada 18 Juli 2026 itu mempertemukan para Ketua PAC, organisasi sayap, organisasi massa pendiri dan yang didirikan, serta dua bakal calon yang telah lebih dahulu mendaftarkan diri, yakni Alberto Arigustus Tatibun dan Johan Oematan.
Di tengah jalannya konsolidasi, muncul fakta baru yang langsung memantik perbincangan. Sebanyak 12 PAC disebut memberikan dukungan kepada Plt Ketua Jerry Manafe untuk maju dalam kontestasi Musda. Bagi sebagian kader, situasi itu dianggap sebagai dinamika yang lumrah. Namun bagi kubu Alberto Tatibun, terdapat tanda tanya besar yang belum terjawab.
Ketua Tim Pemenangan Alberto Tatibun, Rita Saduk, mengingatkan publik agar tidak melupakan fakta yang pernah menjadi konsumsi media. Saat Musda ditunda pada akhir Juni lalu, proses verifikasi menunjukkan Alberto Tatibun telah mengantongi sekitar 19 dukungan sah, sementara kandidat lain memperoleh sekitar tujuh dukungan. Angka itu menjadi pijakan awal yang selama ini diyakini banyak pihak.
Karena itu, ketika muncul peta baru yang memperlihatkan sebagian dukungan berpindah kepada Plt Ketua, pertanyaan pun bermunculan. Rita bahkan menduga terdapat tanda tangan yang diperoleh dalam situasi yang menurutnya tidak sepenuhnya bebas dari tekanan. Dugaan tersebut tentu menjadi bagian dari dinamika politik internal yang pada akhirnya perlu dijawab melalui mekanisme organisasi.
Namun politik memang tidak pernah berhenti pada satu babak. Hanya berselang beberapa hari, arah angin kembali berubah.
Informasi yang berkembang menyebutkan sejumlah PAC mulai menarik kembali dukungan yang sebelumnya diberikan kepada Plt Ketua Jerry Manafe. Mereka memilih kembali memberikan dukungan kepada Alberto Tatibun. Di antara yang telah menyatakan sikap tersebut adalah PAC Takari, PAC Kupang Tengah dan beberapa PAC lainnya yang jumlahnya mendekati 10 PAC.
Yang menarik, surat dukungan itu memuat pernyataan yang tegas. Di atas meterai, para penandatangan menyatakan memberikan dukungan kepada Alberto Arigustus Tatibun, S.Pi., S.H. sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang periode 2026–2031 “secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun.” Kalimat sederhana itu justru memiliki makna politik yang sangat kuat karena menegaskan bahwa pilihan tersebut lahir dari kehendak sendiri.
Perubahan ini membuat peta kekuatan kembali bergeser. Jika sebelumnya muncul kesan bahwa dukungan kepada Plt Ketua sedang menguat, kini situasinya tidak lagi sesederhana itu. Dukungan yang kembali mengalir kepada Alberto Tatibun menunjukkan bahwa preferensi politik kader masih sangat cair dan belum ada kesimpulan akhir mengenai siapa yang benar-benar akan keluar sebagai pemenang.
Inilah wajah demokrasi di tubuh Partai Golkar. Dinamis, penuh manuver, kadang mengejutkan, tetapi tetap menjadi ruang bagi kader untuk menentukan pilihan politiknya. Musda bukan sekadar soal siapa yang memperoleh kursi ketua, melainkan juga ujian tentang bagaimana demokrasi internal dijalankan secara jujur, bermartabat, dan menghormati kehendak para pemilik suara.
Kini publik tinggal menunggu babak berikutnya. Sebab ketika arah angin mulai berubah, tidak ada yang benar-benar bisa memastikan ke mana ia akan berhenti.***









