KUPANG TIMUR, CMBNews.id ~ Guna menjawab tantangan perkembangan teknologi yang pesat tanpa kehilangan jati diri Kristiani, SD GMIT 2 Oesao menggelar Workshop Pembuatan Perangkat Ajar Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Terintegrasi Firman Tuhan dan Berbasis Digital. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru SD GMIT 2 Oesao serta perwakilan guru dari SD GMIT 1 Oesao.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber berkompeten dari Yayasan Transformasi Bagimu Negeri (TBN) di bawah naungan Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia (MPK), yaitu Bapak Topilus, S.Pd dan Bapak Dandi Sanki, S.Pd. Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Majelis Jemaat Kasih Karunia Oesao, Bapak Nofentus E. Polin, serta Sekretaris Komite Sekolah, Ibu Aplonia Seubelan.
Transformasi Kelas Menjadi Ladang Pelayanan
Pengawas Sekolah Kecamatan Kupang Timur, Herman Nggili yang hadir sekaligus membuka kegiatan secara resmi menekankan bahwa Deep Learning merupakan pendekatan baru yang menuntut guru tidak sekadar mentransfer ilmu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pembelajaran Mendalam menumbuhkan pemahaman, keterampilan kritis, dan karakter peserta didik. Ketika diintegrasikan dengan Firman Tuhan, pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati dan karakter Kristiani anak-anak kita,” ujar Herman.
Herman juga mengingatkan bahwa sebagai sekolah di bawah naungan gereja, SD GMIT Oesao memikul tanggung jawab ganda untuk mendidik secara akademik sekaligus menanamkan nilai-nilai iman. Guru-guru pun diajak untuk menjadikan ruang kelas sebagai ladang pelayanan yang nyata.
Jati Diri Sekolah Kristen di Era Digital
Kepala Sekolah SD GMIT 2 Oesao, Ibu Mery S. Puling, S.Pd.SD, dalam sambutannya menyatakan bahwa perubahan zaman menuntut dunia pendidikan terus berinovasi. Guru dituntut mampu merancang pengalaman belajar yang mendalam, bermakna, dan relevan melalui pengembangan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. “Sebagai sekolah Kristen, Firman Tuhan bukan hanya diajarkan dalam mata pelajaran Agama Kristen, tetapi harus menjadi dasar dan roh yang menjiwai seluruh proses pendidikan di sekolah,” tegas Ibu Mery.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Majelis Jemaat Gereja Kasih Karunia, Bapak Nofentus E. Polin, menyampaikan apresiasi penuh dari pihak gereja. Mengutip kitab Amsal 1:7 bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,” beliau mengingatkan bahwa teknologi digital seharusnya menjadi sarana yang memperkuat pelayanan pendidikan, bukan menggantikan nilai-nilai luhur Alkitab. “Integrasi Firman Tuhan bukan sekadar menempelkan ayat Alkitab dalam pembelajaran, tetapi menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam setiap proses belajar,” jelasnya.
Menghasilkan Output Perangkat Ajar yang Khas
Melalui workshop ini, para guru ditargetkan mampu menyusun perangkat ajar yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah lahirnya perangkat ajar Pembelajaran Mendalam Terintegrasi Firman Tuhan Berbasis Digital.
Produk akademis ini diharapkan akan menjadi ciri khas yang kuat bagi sekolah Kristen, sekaligus media pembelajaran kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman namun tetap berlandaskan pada nilai-nilai Kerajaan Allah.
Koresponden: Herman Nggili
Editor: Heronimus Bani









