Tenun yang Sedang Berjalan
Mereka berdiri di atas panggung, tetapi sesungguhnya mereka sedang berdiri di atas sejarah.
Pada pinggang mereka melilit lembaran kain tenun, tais. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pakaian adat tradisional yang dikenakan ketika ada acara resmi. Namun bagi tanah Timor, setiap helai benang menjadi ingatan; setiap motif merupakan bahasa yang tidak diucapkan dan dilafalkan, tetapi diwariskan dari tangan ke tangan, dari ibu kepada anak, dari nenek kepada cucu, dari masa lalu kepada masa depan.
Mereka mengenakannya bukan karena diwajibkan, melainkan karena ada kesadaran, ada identitas yang tak boleh jatuh dari tubuh mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di belakang mereka terbentang sebuah tema: “Jadilah Cermin Kristus di Tengah Dunia.”
Kalimat itu mengandung tanggung jawab yang tidak ringan. Menjadi cermin berarti tidak memantulkan diri sendiri, tetapi memantulkan terang yang lebih besar. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari foto ini: iman tidak sedang menghapus budaya, tetapi menyucikan cara manusia memandang budayanya.
Sebab Kristus tidak datang untuk mencabut manusia dari tanah tempat ia berakar dan bertumbuh. Ia justru mengajarkan bagaimana tanah itu diolah menjadi ladang kasih, keadilan, dan pengharapan.
Para muda ini merupakan generasi yang hidup di antara dua arus besar. Di tangan kanan mereka ada telepon pintar yang membuka dunia tanpa batas. Di tangan kiri mereka ada warisan leluhur yang tidak pernah mengirimkan notifikasi, tetapi diam-diam memanggil agar jangan dilupakan.
Dunia menawarkan kecepatan. Budaya mengajarkan akar. Iman memberi arah. Mereka membutuhkan ketiganya.
Mari membayangkan, beberapa tahun dari sekarang, mungkin sebagian dari mereka akan menjadi guru, pendeta, perawat, petani, pegawai negeri, polisi, pengusaha, atau memilih merantau ke kota-kota besar. Ada pula yang mungkin kembali ke kampung untuk mengurus ladang, menggembalakan ternak, atau menenun bersama ibunya.
Hidup akan membawa mereka ke jalan yang berbeda-beda. Namun semoga, ke mana pun langkah itu pergi, mereka tetap mengingat hari ketika mereka berdiri bersama, mengenakan tenun tais Amarasi, memandang kamera dengan senyum sederhana, dan tanpa banyak kata berkata kepada dunia,
“Kami tidak malu menjadi anak Timor-Pah Amarasi.”
Sebab satu bangsa tidak kehilangan budayanya ketika kain tenunnya berhenti dipakai. Ia mulai kehilangan budayanya ketika generasi mudanya merasa malu mengenakannya. Dan saya bersyukur, foto ini justru menceritakan hal yang sebaliknya.
Di sini, saya melihat harapan. Harapan itu tidak berteriak. Ia berdiri tenang di atas panggung, mengenakan kain tenun, menyanyikan pujian, lalu pulang membawa keyakinan bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan melupakan masa lalu.
Mungkin beginilah cara Tuhan bekerja di sebuah pulau yang sederhana. Bukan selalu melalui mukjizat yang menggemparkan dunia. Melainkan melalui sekelompok anak muda yang memilih tetap menjadi dirinya sendiri, mengasihi Kristus dengan segenap hati, mencintai tanah kelahirannya dengan segenap jiwa, dan merawat budayanya dengan segenap tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, satu produk tenun tais yang paling indah bukanlah yang digantung di dinding museum. Melainkan yang hidup, berjalan, tertawa, melayani, dan memberi harapan. Pada hari-hari itu, tenun-tenun itu sedang berjalan. Mereka bernama generasi muda Amarasi.
Heronimus Bani~Pemulung Aksara









