Thriller Sunyi Kepedulian Gavriel Novanto: Ketika Pendidikan Jadi Keputusan Paling Personal 

Kamis, 5 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPR RI, Gavriel Novanto berkunjung dan melihat langsung kondisi sekolah ruang kelas dan gedung yang dibangun oleh Novanto Center.

Anggota DPR RI, Gavriel Novanto berkunjung dan melihat langsung kondisi sekolah ruang kelas dan gedung yang dibangun oleh Novanto Center.

Di Pedalaman Timor, Harapan Tak Lagi Berlantaikan Tanah

TIMOR,- Di sebuah pagi yang masih berkabut di perbukitan Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, tiga ruang kelas berdinding bambu itu berdiri dalam diam dan rapuh, namun setia. Selama sembilan tahun terakhir, ruang-ruang itulah yang menjadi saksi ketekunan anak-anak SMA Kristen Kusi dari Yayasan Agape Soe, yang belajar di atas lantai tanah, menulis di meja seadanya, dan menata mimpi di bawah atap yang menua dimakan waktu.

Tak banyak yang tahu, sebuah keputusan lahir tanpa seremoni dan tanpa sorotan kamera. Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Gavriel Novanto, memilih datang bukan dengan pidato panjang, melainkan dengan tindakan sunyi: merehabilitasi tiga ruang kelas sekolah tersebut melalui Novanto Center. Aksi itu dilakukan Rabu, 29 Oktober 2025, jauh dari hiruk-pikuk politik kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisahnya bermula dari sebuah panggilan telepon. Ketua Yayasan Agape Soe, Greet S. Daniel, menerima kabar dari Wakil Ketua DPRD TTS, Yoksan Benu, bahwa yayasan akan mendapatkan bantuan sarana pendidikan. Di seberang sana, suara itu terdengar seperti kabar yang sulit dipercaya. Sebab bagi yayasan yang mengelola banyak sekolah dengan sumber daya terbatas, membangun ruang kelas permanen adalah kemewahan yang nyaris mustahil.

“Saat ditanya setuju atau tidak, tentu saya sangat setuju,” tutur Greet dengan mata yang berkaca-kaca. Baginya, ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan jawaban atas pergumulan panjang pelayanan pendidikan di bawah naungan Gereja Masehi Injili di Timor. Sekolah-sekolah GMIT, katanya, kerap kaya semangat, namun miskin biaya.

Gavriel Novanto berkunjung dan melihat langsung keceriaan anak-anak sekolah.

Di balik keputusan itu, Gavriel mengaku semuanya bermula dari kegelisahan sederhana. Suatu pagi, tanpa agenda resmi, tanpa proposal di meja kerja, ia merasakan dorongan untuk membangun sekolah. Ia lalu berkoordinasi dengan Direktur Novanto Center, Sokan Teibang, mencari sekolah darurat di pedalaman Pulau Timor yang benar-benar membutuhkan sentuhan pertama.

“Tidak ada angin, tidak ada hujan,” ujarnya jujur. Namun justru dalam spontanitas itulah tersimpan makna: bahwa kepedulian tak selalu menunggu momentum politik. Meski bidang pendidikan bukan berada di komisinya di DPR RI, ia merasa NTT tak bisa menunggu terlalu lama untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusianya.

Ia menegaskan, bantuan tersebut tidak bersumber dari program pemerintah, melainkan dana pribadi. Bagi Gavriel, ini adalah pesan moral kepada sesama anggota legislatif bahwa pengabdian tidak selalu harus terikat pada garis komisi atau kepentingan anggaran negara. Pendidikan, katanya, adalah fondasi yang tak boleh ditawar.

Perjalanan menuju Desa Kusi bukan tanpa ujian. Akses jalan dari Oebaki ke Kuanfatu rusak parah—berlubang, terjal, dan berdebu. Namun medan yang keras justru mempertegas kontras antara keterbatasan fisik wilayah itu dengan besarnya harapan anak-anaknya. Di tengah jalan yang berguncang, tekad untuk meletakkan batu pertama tetap teguh.

Di hadapan para siswa, Gavriel tak hanya berbicara tentang bangunan, melainkan tentang mimpi. Ia mengisahkan perjalanan Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar yang tumbuh dari Fak-Fak, Papua, hingga menjadi Menteri ESDM. Sebuah narasi tentang bagaimana pendidikan mampu menembus batas geografis dan stigma daerah tertinggal.

Kini, tiga ruang kelas itu tak lagi sekadar bangunan. Ia menjelma simbol bahwa di pelosok Timor, di antara debu jalan rusak dan dinding bambu yang mulai ditanggalkan, ada tangan-tangan yang diam-diam bekerja. Di ruang-ruang baru itu, anak-anak SMA Kristen Kusi tak hanya belajar membaca dan berhitung—mereka belajar percaya bahwa masa depan bisa dibangun, bahkan dari tempat yang paling sunyi. (*Chris Bani)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Stop Buang Sampah Sembarang: Potret dan Jeritan Sunyi dari Jembatan Nonobai Osiloa
Komitmen PT Lince Maju Jaya: Integritas dalam Menjaga Amanah di Perbatasan Negara
Paskah Bermakna: Sentuhan Sosial CRS Bank NTT dan Inovasi Keuangan Modern di Satu Panggung
Mengurai Tuduhan Jalan Sabuk Merah: Tak Ada Monopoli, Tanggung Jawab Proyek Prioritas
Bupati Kupang Lepas Alumni Pejuang Digital: Misi Sunyi Kelas Konvensional ke Smart School
Daniel Taimenas: DPRD Dukung dan Apresiasi Pawai Paskah Pemuda Kristen Kabupaten Kupang 
Kadis PUPR NTT Turut Sambut Kunjungan Wapres Gibran, Pawai Paskah dan Isyarat Pembangunan
JEJAK BATU DI JALAN GELAP: Ketika Pengeroyokan Menghapus Masa Depan Seorang Sopir dan Hukum Jalan di Tempat

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 11:55

Stop Buang Sampah Sembarang: Potret dan Jeritan Sunyi dari Jembatan Nonobai Osiloa

Kamis, 9 April 2026 - 09:54

Komitmen PT Lince Maju Jaya: Integritas dalam Menjaga Amanah di Perbatasan Negara

Kamis, 9 April 2026 - 03:52

Paskah Bermakna: Sentuhan Sosial CRS Bank NTT dan Inovasi Keuangan Modern di Satu Panggung

Rabu, 8 April 2026 - 10:40

Mengurai Tuduhan Jalan Sabuk Merah: Tak Ada Monopoli, Tanggung Jawab Proyek Prioritas

Selasa, 7 April 2026 - 14:06

Bupati Kupang Lepas Alumni Pejuang Digital: Misi Sunyi Kelas Konvensional ke Smart School

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.