Tangan Dingin Dokter Andrew Hartanto: Lompatan La Moringa Angkat Kelor NTT ke Level Global

Sabtu, 28 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasil produksi La Moringa

Hasil produksi La Moringa

Kupang,- Di sebuah sudut kawasan industri di Nusa Tenggara Timur, aroma daun kelor kering menyeruak dari ruang produksi sebuah pabrik yang perlahan menjelma menjadi simpul harapan baru bagi petani lokal. Di sanalah La Moringa berdiri—bukan sekadar pabrik pengolahan, tetapi jembatan antara kebun-kebun kelor di desa dengan pasar global yang terus tumbuh.

Sejak resmi dioperasikan dan diresmikan oleh Gubernur NTT, Melki Laka Lena, pada 9 September 2025, La Moringa menunjukkan geliat ekspansi yang konsisten. Sepanjang 2025, perusahaan ini menyerap 3 hingga 5 ton bahan baku kelor per bulan dari petani. Memasuki 2026, kebutuhan melonjak signifikan menjadi 10 ton per bulan—sebuah sinyal kuat bahwa permintaan pasar terhadap produk turunan kelor NTT terus meningkat.

Founder La Moringa, dr. Andrew Hartanto, menuturkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Bersama sang istri, ia membangun rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari pengeringan daun, pengolahan teh kelor, hingga produksi biskuit kelor dan biskuit sehat berbasis kelor. Diversifikasi produk ini menjadi strategi penting untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasilnya mulai terlihat. Produk La Moringa kini telah menembus pasar ekspor seperti Qatar, Australia, Jepang, dan Kanada. Namun di balik capaian itu, tantangan distribusi masih membayangi. Produk dari NTT masih harus dikirim lebih dulu ke Pulau Jawa sebelum diteruskan ke luar negeri, termasuk ketika mengikuti pameran dan business matching yang difasilitasi Kementerian Perdagangan. Biaya logistik dan akses terhadap buyer internasional menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terurai.

Dari sisi legalitas dan mutu, perusahaan ini memperkuat fondasinya dengan berbagai sertifikasi, mulai dari BPOM, Halal, HACCP hingga sertifikasi organik. Pada Maret 2026, La Moringa dijadwalkan memperoleh sertifikasi organik dari lembaga internasional, langkah strategis untuk memperluas akses pasar ekspor yang mensyaratkan standar ketat dan transparansi rantai pasok.

Secara kualitas, dr. Andrew meyakini kelor NTT memiliki daya saing tinggi dibandingkan produk dari India dan Sri Lanka—dua negara yang selama ini mendominasi pasar global. Berdasarkan uji kandungan, kadar protein, vitamin, dan nutrisi pada kelor NTT disebut lebih tinggi. Keunggulan komparatif inilah yang menjadi modal utama untuk membangun positioning sebagai produk premium berbasis bahan baku lokal.

Model bisnis yang diterapkan La Moringa juga dirancang inklusif. Perusahaan bertindak sebagai off-taker dengan membeli hasil panen petani pada kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Tidak berhenti pada transaksi jual beli, perusahaan memberikan pendampingan teknis mengenai budidaya organik, teknik panen yang tepat, hingga pengelolaan pascapanen agar kualitas gizi tetap terjaga.

Dampaknya terasa di tingkat akar rumput. Sejumlah kelompok usaha tani binaan mengalami peningkatan pendapatan yang berimplikasi pada kesejahteraan keluarga, termasuk akses pendidikan anak. Dalam penguatan kapasitas, La Moringa juga menggandeng Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT untuk pelatihan manajemen usaha dan tata kelola keuangan, memperkuat fondasi ekonomi petani secara berkelanjutan.

Kunjungan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI

La Moringa juga menyampaikan apresiasi atas visi pengembangan kelor yang pernah diletakkan mantan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Visi tersebut dinilai selaras dengan berbagai riset medis yang menunjukkan potensi kelor sebagai anti-kanker, anti-diabetes, anti-inflamasi, serta dikenal luas sebagai “pohon ajaib”. Ke depan, perusahaan berharap dukungan pemerintah daerah, perbankan, dan media terus mengalir agar budidaya kelor di NTT semakin luas, dengan komitmen pembelian hasil panen yang berkelanjutan bagi para petani.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Langkah Valen Kebo Pimpin PERBAKIN: Rapikan Organisasi, Siapkan Atlet NTT Berprestasi
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Tersandung Korupsi Tambang Nikel
Kerja Keras Tanpa Batas: Maruarar Sirait Wujudkan Sila Kelima di Sektor Perumahan
Dugaan Pemerasan: Polda Usut Gerombolan Penjahat Digital di Balik Akun Tiktok Lika-Liku NTT
Menembus Batas Desa: Asten Bait Nyalakan Asa Pendidikan di Pelosok
Suara Lantang Usman Husin dari Senayan: Ungkap Potret Nyata Kegelisahan di Kawasan Mutis
Motor Tak Kunjung Kembali, Oknum Polisi Dilaporkan ke Polres Kupang 
Proyek Insinerator Rp5,9 Miliar Masuk Tahap Penyidikan di Kejati NTT 

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 12:23

Langkah Valen Kebo Pimpin PERBAKIN: Rapikan Organisasi, Siapkan Atlet NTT Berprestasi

Kamis, 16 April 2026 - 07:41

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Tersandung Korupsi Tambang Nikel

Kamis, 16 April 2026 - 04:56

Kerja Keras Tanpa Batas: Maruarar Sirait Wujudkan Sila Kelima di Sektor Perumahan

Rabu, 15 April 2026 - 08:22

Dugaan Pemerasan: Polda Usut Gerombolan Penjahat Digital di Balik Akun Tiktok Lika-Liku NTT

Selasa, 14 April 2026 - 12:06

Menembus Batas Desa: Asten Bait Nyalakan Asa Pendidikan di Pelosok

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.