KEFAMENANU,- Di sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra ternak di Nusa Tenggara Timur, cerita tentang sapi bukan sekadar soal perdagangan. Bagi banyak keluarga peternak di Pulau Timor, sapi adalah tabungan hidup, harapan masa depan, sekaligus simbol keberlanjutan ekonomi keluarga. Dari ruang inilah perjalanan bisnis CV Rijanni yang dipimpin pengusaha muda Riko Yusanto Nitti menemukan maknanya.
Riko tidak memulai dari ruang kosong. Ia tumbuh dalam keluarga yang telah lama mengenal dunia perdagangan sapi di NTT. Dari sang ayah, ia belajar bahwa bisnis ternak bukan sekadar menghitung keuntungan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan peternak dan memastikan rantai ekonomi tetap hidup dari desa hingga pasar besar.
Langkahnya kemudian perlahan namun pasti. Melalui CV Rijanni, Riko mulai menata usaha dari perdagangan hasil bumi hingga pengiriman sapi antar daerah. Pengalaman keluarga menjadi modal awal, namun pendekatan yang ia bangun membawa warna baru—lebih terbuka, lebih kolaboratif, dan menempatkan peternak sebagai mitra sejajar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah perjalanan itu, dinamika bisnis tentu tak terhindarkan. Persaingan, isu, hingga berbagai tudingan seringkali menjadi bagian dari realitas dunia usaha. Namun bagi Riko, tantangan semacam itu justru menjadi ujian ketahanan dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Di balik hiruk-pikuk persaingan, CV Rijanni justru memilih fokus pada hal yang lebih mendasar: pemberdayaan peternak. Salah satu langkah yang dilakukan adalah program pembagian sapi betina produktif kepada kelompok ternak di berbagai wilayah, seperti Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), hingga Timor Tengah Utara (TTU).
Program tersebut tidak hanya dilihat sebagai bantuan semata, melainkan sebagai strategi jangka panjang. Dengan memperkuat populasi ternak di tingkat peternak, roda ekonomi desa bisa bergerak lebih stabil. Peternak memiliki aset produktif, sementara perusahaan memiliki ekosistem usaha yang sehat.
Pendekatan inilah yang kemudian menemukan titik temu dengan semangat pembangunan di Kabupaten Timor Tengah Utara. Pemerintah daerah melihat bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan masyarakat dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang nyata.
Di bawah kepemimpinan Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo, pemerintah daerah menaruh perhatian besar pada sektor peternakan sebagai kekuatan ekonomi masyarakat. Sebagai purnawirawan TNI AD, karakter kepemimpinan yang tegas dan disiplin menjadikan pembangunan daerah diarahkan pada program-program yang menyentuh langsung kehidupan rakyat.
Kemitraan antara CV Rijanni dan Pemerintah Kabupaten TTU kemudian berkembang dalam semangat yang sama: memperkuat peternak sebagai fondasi ekonomi daerah. Di sini, bisnis tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan berdampingan dengan kepentingan masyarakat.
Bagi peternak, kehadiran perusahaan seperti CV Rijanni membuka peluang pasar yang lebih luas. Sementara bagi pemerintah daerah, kerja sama dengan pelaku usaha yang berpihak pada masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.
Model kerja seperti ini menunjukkan bahwa perdagangan sapi tidak harus berjalan dalam pola lama yang tertutup. Ketika transparansi, kemitraan, dan keberpihakan pada peternak menjadi prinsip utama, maka ruang monopoli perlahan menghilang dengan sendirinya.
Cerita tentang CV Rijanni pada akhirnya bukan hanya kisah tentang perusahaan yang berkembang. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang bagaimana bisnis dapat berjalan dengan nurani—membangun kepercayaan peternak, membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, dan memastikan bahwa kesejahteraan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.**









