Bupati Kupang Lepas Alumni Pejuang Digital: Misi Sunyi Kelas Konvensional ke Smart School

Selasa, 7 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Kupang, Yosef Lede, melepas 40 Alumni Pejuang Digital.

Bupati Kupang, Yosef Lede, melepas 40 Alumni Pejuang Digital.

KUPANG,- Selasa, 7 April 2026, halaman Rumah Jabatan Bupati Kupang di Kelurahan Kelapa Lima terasa berbeda. Di tengah suasana yang sederhana namun penuh harap, sebanyak 40 Alumni Pejuang Digital berdiri bersiap, bukan sekadar untuk dilepas, tetapi untuk memulai sebuah perjalanan sunyi: mengubah wajah pendidikan di Kabupaten Kupang.

Bupati Kupang, Yosef Lede, melepas secara resmi. Dalam pengantanya, ia tidak hanya berbicara tentang program, tetapi tentang masa depan. Baginya, pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi utama pembangunan manusia.

“Pendidikan adalah pondasi untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Ini adalah jalan panjang menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya, dengan nada yang menekankan urgensi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap kenyataan. Kabupaten Kupang seperti banyak daerah lain di Nusa Tenggara Timur yang masih bergulat dengan ketimpangan akses dan mutu pendidikan, terutama di wilayah terpencil. Infrastruktur terbatas, distribusi guru belum merata, dan keterbatasan literasi digital menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Pada titik itulah program Alumni Pejuang Digital menemukan relevansinya.

Selama 12 minggu ke depan, para alumni ini tidak akan berdiri di depan kelas sebagai pengajar utama. Mereka akan berjalan di samping para guru—mendampingi, menguatkan, dan perlahan menggeser cara belajar dari konvensional menuju digital yang lebih adaptif.

Transformasi, menurut Yosef Lede, tidak bisa berhenti pada distribusi perangkat teknologi. Ia harus menyentuh cara berpikir.

“Yang kita butuhkan bukan hanya alat, tetapi perubahan pola pembelajaran dan peningkatan kapasitas guru. Di situlah kunci keberlanjutan,” katanya.

Pernyataan ini menggarisbawahi satu hal penting: digitalisasi pendidikan bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang yang bertumpu pada manusia bukan sekadar mesin.

Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Wati Yuliawati, menegaskan posisi para alumni sebagai pendamping. Mereka hadir bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan memperkuatnya.

“Ini adalah kerja kolaboratif. Para alumni membantu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan digital, tetapi tetap menghormati peran utama guru,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadi penting, karena perubahan yang dipaksakan tanpa keterlibatan guru sering kali gagal bertahan. Program ini mencoba menghindari jebakan itu dengan menjadikan guru sebagai pusat transformasi.

Sementara itu, dari sisi kebijakan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melihat program ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral alumni. Kepala Subdivisi Penyaluran Alumni LPDP, Shera Betania, menyebut kegiatan ini sebagai momentum yang telah lama dinantikan.

“Alumni tidak hanya kami siapkan untuk unggul secara akademik, tetapi juga untuk memberi dampak nyata di masyarakat,” katanya.

Ia berharap, kehadiran para alumni di Kupang tidak berhenti sebagai program temporer, melainkan meninggalkan jejak yang berkelanjutan—sebuah “legacy” berupa peningkatan kapasitas guru, lahirnya konten pembelajaran inovatif, dan tumbuhnya ekosistem pendidikan yang lebih adaptif.

Di balik seremoni pelepasan itu, tersimpan sebuah harapan besar: bahwa sekolah-sekolah di Kabupaten Kupang suatu hari tidak lagi tertinggal dalam arus digitalisasi, melainkan mampu berdiri sejajar sebagai “smart school” yang responsif terhadap zaman.

Bupati pun menutup arahannya dengan pesan sederhana namun strategis kepada para pemangku kepentingan pendidikan di daerah.

“Manfaatkan momentum ini. Jadikan ini titik awal transformasi di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Karena pada akhirnya, perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar—melainkan dari langkah kecil yang konsisten, dari ruang-ruang kelas yang perlahan berubah, dan dari kolaborasi yang dijaga. Dari Kabupaten Kupang, langkah kecil itu baru saja dimulai.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang
Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Rabu, 23 September 2026 - 01:36

Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.