KUPANG,- Di sebuah desa sederhana di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi pernah terasa begitu jauh. Keterbatasan ekonomi membuat banyak anak muda harus mengubur cita-cita mereka sebelum sempat diperjuangkan. Namun, harapan selalu menemukan jalannya ketika ada tangan yang rela membuka pintu bagi masa depan.
Rekardina D. Boromeo dan Inacio Da Costa Lopez, yang akrab disapa Kevin, adalah dua dari sembilan pemuda asal Desa Naunu yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Sunan Gresik, Surabaya. Perjalanan mereka bukan sekadar kisah tentang kuliah di luar daerah, tetapi juga kisah tentang mimpi yang bertemu dengan kepedulian.
Kesempatan itu hadir melalui Anggota DPR RI, Usman Husin. Meski di parlemen ia bertugas di Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan, dan pangan, kepeduliannya tidak berhenti pada ruang lingkup komisi yang diembannya. Bagi Usman Husin, masa depan generasi muda Flobamora juga layak diperjuangkan melalui akses terhadap pendidikan yang lebih baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Barangkali inilah sisi humanis yang jarang terlihat. Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Usman Husin memilih membuka jalan bagi anak-anak muda yang selama ini terhalang keterbatasan ekonomi. Ia meyakini bahwa pendidikan adalah investasi terbaik untuk memutus rantai kemiskinan dan melahirkan generasi yang mampu mengangkat harkat keluarganya serta membangun daerah.
Bagi Rekardina dan Kevin, kuliah sebelumnya hanyalah impian. Kondisi ekonomi keluarga membuat mereka hampir menyerah sebelum mencoba. Namun kesempatan yang diberikan Usman Husin mengubah jalan hidup mereka. Seluruh biaya pendidikan mereka ditanggung sehingga keduanya dapat belajar dengan tenang tanpa dihantui persoalan biaya kuliah.
Kesempatan itu dijawab dengan prestasi. Rekardina, mahasiswi Program Studi S1 Hukum, berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,71 pada semester pertamanya. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ketika anak-anak daerah diberi kesempatan, mereka mampu bersaing dan menunjukkan kualitasnya.
Sementara itu, Kevin memilih Program Studi S1 Akuntansi sebagai bekal untuk mendalami ilmu keuangan. Ia berharap suatu hari nanti dapat kembali dan mengabdikan ilmu yang diperolehnya bagi pembangunan daerah asalnya.
Di lingkungan kampus, keduanya juga merasakan suasana yang penuh kehangatan. Mereka diterima dengan baik oleh dosen maupun rekan-rekan mahasiswa tanpa membedakan latar belakang daerah ataupun kondisi ekonomi. Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinan bahwa pendidikan adalah ruang yang mempersatukan setiap orang untuk tumbuh bersama.
Apa yang dilakukan Usman Husin sesungguhnya menunjukkan bahwa pengabdian seorang wakil rakyat tidak selalu dibatasi oleh komisi tempatnya bertugas. Kepedulian terhadap pendidikan lahir dari panggilan hati dan rasa tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak Nusa Tenggara Timur memiliki kesempatan yang sama meraih masa depan.
Bantuan kepada sembilan pemuda Desa Naunu bukan sekadar memberikan akses kuliah. Lebih dari itu, bantuan tersebut menghadirkan harapan baru bagi keluarga mereka, sekaligus menjadi pesan bahwa masih ada sosok yang percaya pada potensi generasi muda Flobamora.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, ketulusan seperti inilah yang sering kali memberi dampak paling besar. Ketika seorang wakil rakyat memilih membantu tanpa melihat apakah hal itu menjadi bidang komisinya atau tidak, maka yang lahir bukan sekadar program, melainkan jejak kemanusiaan yang akan terus dikenang.
Kisah Rekardina, Kevin, dan tujuh pemuda lainnya adalah bukti harapan yang dipelihara dengan kepedulian. Bagi Usman Husin, kebahagiaan bukan hanya ketika melihat hasil pembangunan berdiri megah, tetapi juga ketika menyaksikan anak-anak Flobamora mampu berdiri tegak, mengenakan toga kelulusan, lalu pulang membawa ilmu untuk membangun tanah kelahirannya. Itulah makna pengabdian yang sesungguhnya: menghadirkan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.**









