Cara Licik Kepala Daerah Menikmati Bunga Bank Dana APBD

Rabu, 17 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

cmbnews.id/,- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa proyek jalan yang seharusnya selesai dalam beberapa bulan malah molor bertahun-tahun? Atau mengapa puskesmas kekurangan tenaga, padahal anggaran sudah disiapkan? Atau bahkan, mengapa bantuan sosial yang seharusnya membantu masyarakat miskin malah datang terlambat?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana yang kita pikirkan. Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, malah “tidur” di bank, menghasilkan bunga yang menggiurkan bagi segelintir elite.

Dana transfer dari pemerintah pusat, seperti DAU, DAK, dan DBH, resmi masuk ke kas daerah. Namun, alih-alih segera dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, sebagian justru dibiarkan mengendap berbulan-bulan di rekening kas umum daerah. Dalihnya klasik: menunggu kegiatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktanya, uang rakyat sedang bekerja… menghasilkan bunga. Bunga yang seharusnya menjadi pendapatan daerah, malah dinikmati oleh segelintir orang. Ini bukan sekadar soal administrasi keuangan, tapi soal etika kekuasaan.

Uang rakyat seharusnya bekerja untuk rakyat, bukan bermeditasi di bank demi kepentingan segelintir elite. Ketika rakyat menunggu layanan, dananya justru sibuk beranak-pinak. Ini adalah wajah licik birokrasi: tak mencuri, tapi menunda. Tak merampas, tapi memetik bunga.

BPK telah berulang kali menemukan pengelolaan bunga deposito APBD yang tak tertib, bahkan tak dicatat. Nilainya bisa miliaran per daerah. Namun, pertanggungjawaban sering berakhir normatif: sudah disetor. Disetor ke mana, dan dinikmati siapa, publik jarang tahu.

Ini adalah saatnya kita mempertanyakan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah. Uang rakyat harus bekerja untuk rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir elite. Saatnya kita menuntut perubahan, agar uang rakyat tidak lagi “tidur” di bank.

Penulis: Chris Bani 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polemik Kepengurusan Swasti Sari, Pengurus Tegaskan Mekanisme UKK
KKJ NTT dan AJI Kupang Bersuara: Bildad Tonak Diantara Pemberitaan dan Penghakiman
Anatomi Problematika Pendidikan Dasar di Indonesia
Menyalakan Asa dari Wilayah 3T, KADIN NTT Tuai Apresiasi Presiden
Menyulam Kembali Asa, Hotel Sasando Mulai Babak Baru di Tangan Perusahaan Induk
Anggota DPR RI Usman Husin Desak Pertamina Transparan Soal Kuota BBM Subsidi untuk Petani
Usman Husin Teguhkan Komitmen: Kelompok Tani Nekmese B Desa Pollo Terima Bantuan Aspirasi Traktor Roda Empat 
Langkah Pasti Falent Kebo Bangun TTU, Penerimaan Pajak Tembus 11 Miliar

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 00:28

Polemik Kepengurusan Swasti Sari, Pengurus Tegaskan Mekanisme UKK

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 02:48

Anatomi Problematika Pendidikan Dasar di Indonesia

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:05

Menyalakan Asa dari Wilayah 3T, KADIN NTT Tuai Apresiasi Presiden

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:01

Menyulam Kembali Asa, Hotel Sasando Mulai Babak Baru di Tangan Perusahaan Induk

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:47

Anggota DPR RI Usman Husin Desak Pertamina Transparan Soal Kuota BBM Subsidi untuk Petani

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.