Kupang,- Delapan tahun lalu, ketika Viktor Bungtilu Laiskodat berdiri di hadapan masyarakat Nusa Tenggara Timur, tak banyak yang benar-benar menangkap arah pikirannya.
Ia tidak berbicara tentang tambang besar atau mega proyek beton. Ia berbicara tentang kelor—daun kecil yang tumbuh liar di halaman rumah, di tepi kebun, bahkan sering dianggap tak lebih dari tanaman biasa. Namun di benaknya, kelor bukan sekadar daun. Ia adalah visi. Ia adalah cetak biru ekonomi rakyat.
Saat itu, banyak yang tersenyum ragu. “Masa daun begitu bisa ubah nasib?” tanya sebagian orang. Tapi bagi Viktor, kelor adalah revolusi hijau yang rasional, terukur, dan berbasis keunggulan lokal. Ia mengajak masyarakat menanam, mengonsumsi, dan menjadikannya komoditas strategis. Ide itu sederhana, namun cerdas: membangun ekonomi dari apa yang sudah tersedia, bukan dari apa yang harus didatangkan. Di situlah letak kecerdasan pengelolaan gagasan—mengubah yang terabaikan menjadi bernilai tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Waktu berjalan. Mimpi diuji oleh konsistensi. Di sela agenda resesnya sebagai Ketua Fraksi NasDem DPR RI, Viktor menyempatkan diri melangkah ke fasilitas produksi PT Beta Moringa Indonesia di Kupang.

Deru mesin pengolah menyambut. Aroma khas kelor memenuhi ruangan. Di hadapannya, daun basah dari Soe, Kefamenanu, dan Malaka tak lagi menjadi tanaman liar—ia telah bertransformasi menjadi produk bernilai ekspor: teh premium, biskuit sehat, dan berbagai olahan nutrisi.
Di sanalah politikus senior Nasdem tersebut bertemu Bobby Lianto selaku Ketua KADIN NTT sekaligus investor dan juga Dokter Andree Hartanto sang founder. Dengan mata berbinar, Ketua KADIN Bobby Lianto menyampaikan kabar yang dulu terasa mustahil: produk kelor NTT kini hadir di meja keluarga di Qatar, Australia, Kanada, Singapura, hingga Amerika.
Bobby menjelaskan, dari lahan-lahan sederhana di pedalaman NTT, lahir rantai pasok global yang menjangkau benua. Sebuah lompatan ekonomi yang dibangun bukan dari eksploitasi sumber daya besar, melainkan dari kecerdasan membaca potensi lokal.
Secara ekonomi, dampaknya bukan cerita kosong. Dalam satu tahun, satu hektar lahan kelor mampu menghasilkan hingga empat kali panen. Dengan harga rata-rata dua puluh ribu rupiah per kilogram daun basah, petani berpeluang meraih pendapatan hingga delapan puluh juta rupiah per hektar per tahun. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah napas baru bagi keluarga petani. Ia adalah biaya sekolah anak, perbaikan rumah, dan perputaran ekonomi desa yang lebih sehat.
Kelor kini menjelma menjadi ekosistem. Petani menanam, tenaga kerja pabrik mengolah, distributor memasarkan, dan pemerintah memfasilitasi. Inilah model pembangunan ekonomi berbasis hilirisasi—mengolah bahan mentah menjadi produk jadi bernilai tambah tinggi. Ide yang dulu dianggap sederhana ternyata menyimpan daya ungkit luar biasa ketika dikelola dengan visi dan keberanian mengambil risiko.
Lebih dari sekadar komoditas, kelor telah menjadi simbol kecerdasan mengelola ide. Bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan mahal. Ia bisa lahir dari keberanian melihat potensi di halaman sendiri. Dari daun kecil yang dulu terabaikan, kini lahir kebanggaan kolektif—emas hijau yang memperkuat identitas ekonomi NTT di mata dunia.
Hari ini, kisah kelor adalah kisah tentang konsistensi visi dan keberanian mengeksekusi. Tentang bagaimana mimpi yang ditertawakan bisa menjelma menjadi peluang nyata. Dari tanah Nusa Tenggara Timur, lahir pelajaran penting: ketika ide dikelola dengan kecerdasan bisnis dan keberpihakan pada rakyat, maka sesuatu yang kecil pun mampu menggerakkan ekonomi global.**
Sumber: Facebook Viktor Bungtilu Laiskodat
Editor: Chris Bani









