(Entah bisa Menjawab rasa Penasaran Pembaca??)

Jumat, 11 Agustus 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bersama Prof. Dr. Joseph Grimes, Ph.D dan dua cucunya di Bandara Gove

Bersama Prof. Dr. Joseph Grimes, Ph.D dan dua cucunya di Bandara Gove

MENIKAH A-LA HUKUM PERKAWINAN ADAT AMARASI RAYA
DI YIRRKALA-GOVE-ARHMLAND-AUSTRALIA UTARA

Penulis dalam perjalanan ke Yirrkala-Gove-Arhmland

Pengantar

Menjawab rasa penasaran pembaca yang disampaikan kepada Pemred http://infontt.com// atas potongan empat kabar dari Yirrkala-Gove-Arhmland-Australia Utara, dengan judul: Pertukaran Budaya Maso Minta, maka saya mencoba menggambarkannya lewat tulisan bersambung berikut ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada tanggal 5 Juni 2017 saya berangkat ke Darwin-Australia Utara via dari Deanpasar. Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Darwin, pukul 04.30 subuh waktu Darwin. Saya dijemput oleh seorang anggota keluarga Grimes, Benjamin Grimes pada pukul 05.00. Kami berangkat dari Darwin di Utara ke Arhmland di Selatan. Sungguh suatu pengalaman perjalanan baru bagi saya. Sepagi itu kami menikmat kopi di atas mobil yang kami tumpangi setelah kami memesannya di satu “kedai” kopi yang sudah modern.

Kami menempuh perjalanan di atas 300 km untuk tiba di satu kota bernama Chatterine. Dari sana rombongan bertambah. Kami menggunakan 2 unit kendaraan yang sengaja dipersiapkan secara khusus untuk menempuh perjalanan di atas 1.000 km. rombongan mempersiapkan bekal dan segala keperluan yang berhubungan dengan urusan perkawinan.

Rombongan berangkat sekitar jam 09.00 waktu setempat. Kendaraan pertama berisi 3 orang dewasa 2 anak kecil. Kendaraan kedua berisi 3 orang dewasa dan 3 anak kecil. Sebelum menempuh perjalanan yang jauh itu, kami harus mempunyai stok bahan bakar. Maka, rombongan menggunakan jerigen, mengisi bahan bakar sebanyak 15 liter di stasiun pengisian bahan bakar (untuk) umum (SPBU). Lalu, masih sempat memesan kopi dan sarapan pagi yang semuanya dinikmati di atas kendaraan. Mengapa? Karena kampong kecil yang dituju membutuhkan waktu perjalanan yang lama, dengan kecepatan rata-rata di atas 90 km/per jam, dan butuh beberapa kali istirahat, termasuk istirahat makan siang. Istirahat diperlukan untuk kesegaran terutama pengemudi, dan anak-anak yang dibawa dalam rombongan, apalagi di antaranya ada anak yang masih menyusu. Alasan kecepatan kendaraan minimal 80-90 km/jam karena adanya anak-anak yang turut serta di dalam rombongan itu.

Sangat jauh perjalanan. Saya nyatakan demikian karena untuk pertama kalinya saya merasakan perjalanan di atas 1.000 km, dengan jalan aspal 300-an km dan jalan sisanya tanpa aspal; dengan resiko yang harus ditanggung seperti kehabisan bahan bakar, tidak ada SPBU atau penjual bbm eceran seperti di Timor. Resiko lain, kecelakaan lalin, dan lain-lain yang sebelumnya sudah harus bisa diprediksi untuk mengantisipasi semua itu.

Di perjalanan, ternyata ada polisi yang terus berpatroli. Mereka siap setiap saat untuk dipanggil melalui radio panggil (handy talky/HT) yang wajib dibawa oleh semua pengguna kendaraan jarak jauh. Hal ini dilakukan oleh keluarga Grimes yang dalam perjalanan itu. Polisi akan datang menolong bila terjadi sesuatu di perjalanan.

Sampai di sini bila pembaca bertanya, “Ke Darwin-Australia dalam rangka apa?”

Inilah yang akan saya ceritakan di dalam tulisan ini. (bersambung)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Stevano dan Perjuangan Menjaga Mimpi Anak-Anak Sumba Timur
Estafet Kepemimpinan HIMARASI Berlanjut, Pesan Ary Buraen Dibawa Spirit “Im Tabua Tafena Amarasi”
KKJ NTT dan AJI Kupang Bersuara: Bildad Tonak Diantara Pemberitaan dan Penghakiman
Anatomi Problematika Pendidikan Dasar di Indonesia
Di Antara Sawah dan Laut Ada Nama Usman Husin, Politik yang Menyapa dari Pintu Rumah Rakyat
Merawat Jiwa Bangsa di Panggung Kemerdekaan
Tak Sekadar Wakil Rakyat, Usman Husin Menjadi Jembatan Pendidikan bagi Generasi NTT
Ketika PLT Ikut Bertanding: Dugaan Pelanggaran Etika Organisasi dalam Musda Golkar Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:35

Stevano dan Perjuangan Menjaga Mimpi Anak-Anak Sumba Timur

Minggu, 9 Agustus 2026 - 03:30

Estafet Kepemimpinan HIMARASI Berlanjut, Pesan Ary Buraen Dibawa Spirit “Im Tabua Tafena Amarasi”

Minggu, 9 Agustus 2026 - 00:21

KKJ NTT dan AJI Kupang Bersuara: Bildad Tonak Diantara Pemberitaan dan Penghakiman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 02:48

Anatomi Problematika Pendidikan Dasar di Indonesia

Jumat, 31 Juli 2026 - 04:15

Di Antara Sawah dan Laut Ada Nama Usman Husin, Politik yang Menyapa dari Pintu Rumah Rakyat

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.