Di tanah Amfoang, seorang anak tidak pernah lahir hanya untuk ayah dan ibunya. Sejak tangis pertamanya memecah keheningan rumah, ia telah menjadi milik sebuah lingkaran keluarga yang lebih luas. Ada tangan-tangan yang akan menopangnya, ada mata-mata yang akan mengawasinya tumbuh, dan ada hati-hati yang ikut memikul tanggung jawab atas masa depannya. Karena itulah masyarakat Atoin Meto’ mewariskan satu tradisi bernama Iu Nakaf, sebuah upacara sederhana yang menyimpan kebijaksanaan mendalam tentang arti kekerabatan.
Dalam tradisi ini, rambut bayi laki-laki tidak dipotong oleh sembarang orang. Kehormatan itu diberikan kepada seseorang yang pangkat om, yakni saudara laki-laki dari pihak ibu. Beberapa helai rambut di bagian ubun-ubun dipotong dengan penuh kasih dan penghormatan. Di mata orang luar, tindakan itu mungkin tampak sederhana. Namun, bagi masyarakat Atoin Meto di Amfo’ang, sehelai rambut yang dipotong merupakan tanda bahwa seorang anak telah diterima dan dipeluk oleh keluarga besar ibunya. Ia bukan lagi hanya anak dari sebuah rumah, melainkan bagian dari sebuah pohon kekerabatan yang akarnya menjalar jauh ke masa lalu.
Melalui Iu Nakaf, para leluhur seakan hendak mengingatkan bahwa membesarkan anak bukanlah pekerjaan satu atau dua orang saja. Seorang anak memerlukan banyak bahu untuk bersandar dan banyak tangan untuk membimbingnya. Kehadiran seorang paman dari pihak ibu dalam prosesi ini menjadi lambang bahwa keluarga ibu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, menasihati, dan melindungi keponakannya sepanjang perjalanan hidup. Dalam pandangan adat, hubungan darah tidak boleh berhenti pada penyebutan nama kerabat, tetapi harus diwujudkan dalam perhatian dan kepedulian nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prosesi ini semakin bermakna ketika sang paman menyerahkan temef mese, uang perak bergambar ratu yang dahulu bernilai satu ringgit. Benda itu bukan sekadar alat tukar. Ia adalah simbol berkat yang dititipkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Kilau perak menjadi lambang harapan agar hidup anak kelak bercahaya, bertumbuh sehat, kuat, dan memperoleh rezeki yang cukup. Kini, ketika uang perak tersebut semakin sulit ditemukan, nilainya dapat digantikan dengan uang yang disepakati bersama. Namun makna yang diwariskan tetap sama: bahwa kasih sayang tidak diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari ketulusan hati yang menyertainya.
Di tengah arus zaman yang semakin menonjolkan kehidupan individual, Iu Nakaf mengajarkan pelajaran yang berharga. Seorang manusia tidak pernah tumbuh sendirian. Ia dibentuk oleh keluarga, dipelihara oleh kasih sayang kerabat, dan dikuatkan oleh ikatan sosial yang saling menopang. Sebagaimana beberapa helai rambut yang dipotong pada ubun-ubun bayi, demikian pula ego dan keterpisahan dipangkas agar tumbuh kesadaran bahwa hidup adalah tentang kebersamaan. Itulah kebijaksanaan yang disimpan oleh para leluhur Atoin Meto’ Amfo’ang: bahwa keluarga bukan sekadar hubungan darah, melainkan perjanjian kasih yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Penulis: Arnichus Loit
Editor: Heronimus Bani









