Hari Minggu (21/6), seluruh mimbar Jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) serentak merenungkan bagian firman Tuhan yang sangat akrab di telinga kita: Kisah Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37). Mengusung tema “Gereja yang Hadir, Menemani, dan Merawat,” nas ini membawa pesan kontekstual yang sangat tajam. Tentu, para pengkhotbah memiliki perspektif yang kaya dan beragam. Namun, ada satu sudut pandang krusial yang patut kita renungkan bersama mengenai respons manusia ketika berhadapan dengan sesama yang terluka.
Jika kita membedah teks tersebut, setidaknya ada tiga tipikal sikap manusia saat melihat korban perampokan yang tergeletak sekarat di pinggir jalan:
-
Pertama, melihat namun tidak peduli. Ini digambarkan oleh sang Imam. Ia melihat, tetapi memilih melewatinya dari seberang jalan. Kesibukan ritual dan status religius justru menutup mata hati mereka dari kemanusiaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
-
Kedua, melihat, peduli, namun tidak berbuat apa-apa. Sikap yang mandul secara tindakan. Ini diperlihatkan oleh orang Lewi. Ia menengok sebentar, lalu beranjak dan melanjutkan perjalanan. Hanya sebatas kasihan di dalam hati, tanpa ada realisasi yang berdampak bagi si korban.
-
Ketiga, melihat, peduli, dan berbuat. Inilah yang dilakukan oleh si orang Samaria. Seseorang yang secara sosial dianggap asing, bahkan musuh, justru menjadi sesama manusia yang sesungguhnya.
Keteladanan Orang Samaria
Alkitab mencatat dengan sangat detail bagaimana kepedulian orang Samaria ini bukanlah kepedulian yang setengah-setengah. Ketika melihat korban, terbitlah rasa kasihan yang mendalam di hatinya. Hati yang tergerak itu langsung menggerakkan tangan dan seluruh sumber daya yang dimilikinya.
Ia datang mendekat, membersihkan luka-luka korban, meminyakinya, lalu menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri. Tidak sampai di situ, ia membawanya ke tempat penginapan, menitipkannya untuk dirawat, membayar biaya perawatan awal, bahkan menjamin seluruh sisa biaya yang mungkin timbul di kemudian hari. Ini adalah potret utuh dari sebuah kehadiran yang menemani dan merawat hingga tuntas.
Refleksi Bagi Gereja Zaman Ini
Melihat realitas tersebut, sebuah pertanyaan reflektif muncul dan menggugat kita: Mungkinkah Gereja masa kini mampu memiliki sikap radikal seperti orang Samaria itu di tengah dunia yang sedang carut-marut?
Hari-hari ini, kita hidup di dalam dunia yang sedang terluka parah. Martabat manusia seolah terabaikan. Manusia dilukai dan disakiti oleh berbagai sistem, bahkan oleh kebijakan-kebijakan yang memicu demonstrasi di mana-mana, baik dari kubu pro maupun kontra.
Bukan hanya manusianya, bumi yang kita tinggali pun sedang menjerit kesakitan akibat eksploitasi alam yang serakah tanpa kendali. Ironisnya, di tengah eksploitasi sumber daya yang melimpah itu, kesusahan ekonomi dan kemiskinan ekstrem masih mencekik kehidupan masyarakat kecil.
Dunia kita hari ini bagai sedang menjadi “korban yang tergeletak sekarat di pinggir jalan“, yang sedang membutuhkan pertolongan.
Jika diarahkan kepada jemaat-jemaat, pasti ada di antaranya yang kiranya menjadi “korban yang tergeletak sekarat di pinggir jalan”, yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di sinilah esensi keberadaan Gereja diuji. Gereja tidak boleh menjelma menjadi seperti Imam atau orang Lewi modern—yang sibuk dengan liturgi di dalam gedung yang nyaman, namun menutup mata terhadap jeritan di luar tembok gereja. Gereja juga tidak boleh sekadar menjadi pengamat yang ramah, yang hanya “prihatin dan mengasihani” tanpa tindakan nyata.
Gereja dipanggil untuk hadir secara inkarnatif—turut merasakan penderitaan jemaat dan masyarakat. Gereja harus berani melangkah turun ke jalan-jalan yang berdebu, membersihkan luka-luka sosial, meminyaki hati yang patah, serta mengorbankan waktu dan materi untuk merawat kehidupan yang rusak.
Menjadi “Gereja yang Hadir, Menemani, dan Merawat” berarti bersedia merepotkan diri demi keselamatan sesama tanpa memandang sekat suku, agama, maupun golongan. Semoga khotbah Minggu ini tidak berlalu begitu saja menjadi angin lalu, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang memulihkan sesama dan memuliakan Tuhan. (Roni)









