KUPANG,- Di ujung selatan Pulau Timor, jalan bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Bagi masyarakat Amarasi dan Amarasi Timur, jalan adalah nadi kehidupan, jalur yang mengantarkan hasil kebun ke pasar, anak-anak menuju sekolah, dan warga menuju layanan publik seperti kesehatan dan pemerintahan.
Namun dalam beberapa hari terakhir, nadi itu nyaris terputus. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Amarasi. Air yang datang bersama banjir perlahan menggerus tanah di bawah jembatan kecil atau deker di ruas jalan Oekaunoe. Tanah tak lagi mampu menahan beban. Deker ambruk, tanah runtuh, dan jalan yang biasanya dilalui warga kini menyisakan lubang besar yang menganga.
Warga yang melintas hanya bisa memperlambat kendaraan. Sebagian memilih berhenti sejenak, memandang kerusakan itu dengan rasa khawatir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi itu, aparat kepolisian bergerak cepat. Kapolsek Amarasi Iptu Basilio Pereira bersama anggotanya turun langsung ke lokasi longsor. Tak lama berselang, Kapolsek Amarasi Timur Ipda Fransiskus Lanto bersama personel juga melakukan pengecekan lapangan di titik jalan yang nyaris putus.

Di tengah jalan yang retak dan tanah yang terus bergerak, mereka memastikan situasi tetap aman bagi warga yang melintas. Kapolsek Amarasi dan Kapolsek Amarasi Timur memberikan warning dengan memasang police line.
Kekhawatiran yang sama juga terasa di ruas jalan Oebesi menuju Rabeka, kawasan Perumahan Sosial di Amarasi Timur. Badan jalan di titik ini sudah tergerus. Aspal yang dulu kokoh kini tampak menggantung di atas tanah yang mulai longsor. Jika hujan deras kembali turun, bukan tidak mungkin jalan itu putus total.
Artinya, aktivitas masyarakat bisa lumpuh. Akses keluar masuk wilayah Amarasi Timur akan terganggu. Warga yang biasa mengandalkan jalur tersebut untuk bekerja, berdagang, atau kendaraan roda empat membawa penumpang atau hasil pertanian dan peternakan bisa kehilangan satu-satunya akses yang mereka miliki.
Laporan dari lapangan itu kemudian sampai ke Pemerintah Provinsi NTT. Respons cepat pun datang dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT, Benyamin Nahak. Tanpa menunggu lama, ia langsung meminta Bidang Bina Marga turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lapangan secara menyeluruh.
Langkah itu penting agar kondisi kerusakan dapat segera dipetakan dan langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Bagi masyarakat Amarasi dan Amarasi Timur, respons cepat itu memberi secercah harapan. Karena di daerah seperti ini, ketika jalan rusak, kehidupan ikut tersendat. Tetapi ketika ada perhatian dan tindakan cepat, harapan kembali terbuka bahwa akses yang menghubungkan mereka dengan dunia luar tidak akan benar-benar terputus.
Satu hal yang pasti, di tengah retakan tanah serta ancaman longsor, Pemerintah Daerah terus memberikan harapan, bahwa hak masyarakat menikmati infrastruktur yang baik sedang dirawat dan dijaga.**









