KUPANG,-Pagi itu, angin laut di Pelabuhan Penyeberangan Bolok, Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, berembus pelan. Di antara deru mesin dan riak kecil ombak, sebuah momen yang lama dinanti akhirnya tiba. Di hadapan masyarakat dan para pemangku kepentingan, mewakili Bupati Kupang, Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang, Mateldius S.J. Sanam, S.T, berdiri menjadi penanda dimulainya kembali pelayaran feri rute Bolok–Naikliu.
Selasa, 17 Maret 2026, bukan sekadar pelayaran perdana. Kehadiran Sekda di dermaga itu seolah menjadi simbol hadirnya Pemerintah Kabupaten Kupang di tengah kerinduan masyarakat Amfoang yang selama ini terisolasi oleh rusaknya akses darat dan cuaca yang tak bersahabat.
Bersama pihak ASDP dan KSOP, Mateldius Sanam meresmikan beroperasinya KMP Cakalang II yang akan melayani rute Bolok–Amfoang dan Amfoang–Kupang. Kapal itu perlahan bersiap, membawa lebih dari sekadar penumpang—ia membawa harapan yang sempat tertunda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hari ini kita melakukan sesuatu yang bersejarah di Kabupaten Kupang,” ujar Mateldius dalam sambutannya. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam maknanya. Sebab, bagi masyarakat Amfoang, akses transportasi bukan hanya soal perjalanan, melainkan tentang keterhubungan dengan kehidupan.
Selama berbulan-bulan, terutama sejak musim hujan melanda pada November, jalur darat menjadi momok. Jalan yang rusak dan kondisi alam yang tak menentu membuat mobilitas warga terhambat. Distribusi barang tersendat, aktivitas ekonomi melambat, dan pelayanan publik ikut terganggu.
Di titik itulah, kehadiran kembali jalur laut menjadi jawaban.
Pemerintah Kabupaten Kupang, melalui koordinasi lintas sektor bersama Dinas Perhubungan, ASDP, dan KSOP, akhirnya membuka kembali trayek yang sempat terhenti. Upaya ini bukan tanpa alasan—ini adalah bentuk respon atas kebutuhan riil masyarakat.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kupang, Frits Kuhurima, menegaskan bahwa kondisi geografis dan cuaca di wilayah Amfoang—meliputi Amfoang Timur, Amfoang Utara, Amfoang Barat Laut, dan Amfoang Barat Daya—memang membutuhkan solusi transportasi alternatif yang lebih andal.
“Keberadaan feri ini diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang beraktivitas dari dan menuju Amfoang,” ujarnya.
Namun, pemerintah juga belajar dari masa lalu. Trayek ini pernah berhenti beroperasi karena minimnya jumlah penumpang. Karena itu, komitmen tak berhenti pada peresmian. Sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci agar layanan ini benar-benar dimanfaatkan dan berkelanjutan.
Di tengah suasana itu, Ambrosius, salah seorang penumpang, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, kehadiran feri bukan sekadar kemudahan, melainkan penyelamat dari keterbatasan.
Ia berharap kapal ini tidak lagi sekadar hadir sesaat, tetapi terus berlayar, menghubungkan Amfoang dengan Kupang tanpa jeda.
Ketika KMP Cakalang II perlahan meninggalkan dermaga, yang terlihat bukan hanya perjalanan biasa. Ada harapan yang ikut berlayar—bahwa keterisolasian akan perlahan terputus, dan kehidupan masyarakat Amfoang kembali bergerak.
Dan di balik semua itu, langkah Sekda di dermaga pagi itu menjadi tanda bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia hadir, menyaksikan, sekaligus memastikan bahwa konektivitas yang sempat hilang, kini kembali menyala.***









