OPINI
Kupang,- Di balik gemuruh sidak lapangan yang pernah dilakukan, tersembunyi sebuah rahasia yang tak terungkap. Temuan-temuan yang seharusnya menjadi titik awal bagi penegakan hukum, kini hanya menjadi arsip yang tak bernilai. Apakah ini hanya sebuah ritual tahunan, ataukah ada yang disembunyikan?
Kabupaten Kupang, yang pernah bergemuruh dengan janji-janji perubahan, kini menjadi sunyi. Kasus-kasus yang pernah diungkap, kini menjadi kabur. Apakah ini hanya sebuah kebetulan, ataukah ada yang salah dalam sistem? Masyarakat menanti jawaban, namun hanya ada keheningan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sidak lapangan yang seharusnya menjadi senjata ampuh dalam memberantas korupsi, kini menjadi sebuah lelucon. Temuan-temuan yang seharusnya menjadi dasar bagi penegakan hukum, kini hanya menjadi arsip yang tak bernilai. Apakah kita harus terus menunggu, ataukah kita harus bertindak?
Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang, Yupiter Selan, S.H.,M.Hum, menjadi sorotan masyarakat pada 2025 lalu. Adanya beberapa kasus korupsi lama yang kembali diungkap dalam perjalanan Yupiter menjadi Kajari yang baru, membuat masyarakat Kabupaten Kupang bereforia tinggi menyaksikan tarung Kajari Yupiter dalam meringkus koruptor.
Namun, dalam perjalanan dan pengamatan media, kinerja Yupiter Selan tidak sejalan dengan harapan masyarakat. Alih-alih menangkap koruptor Tier A, Kajari pada faktanya hanya mampu menetapkan dan menangkap koruptor kelas teriz atau kasus lama. Contohnya, Sukur Bor Oenuntono dan Pembangunan Gedung Puskesmas Oesao.
Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan yang pernah dikeluarkan Yupiter Selan beberapa waktu lalu, bahwa ikan kecil atau ikan besar tidak ada perbedaan ketika menjalankan tugasnya. Faktanya, persoalan krusial dengan angka puluhan miliar yang disidak hanya arsip dan tak kunjung nampak ada perkembangan di muka publik, salah satunya pembangunan objek wisata Pantai Teres yang hancur dan mubasir.
Yupiter Selan sempat membuktikan keseriusannya dalam memberantas korupsi dengan menetapkan dan menahan mantan kepala dinas di Kabupaten Kupang, seperti Robert Amheka dan Johny Nomseo. Namun, dalam perjalanan, taji Yupiter Selan mulai mengendur. Yang katanya ada ikan kakap dalam pusaran dugaan korupsi luput dari ketegasan jaksa.
Masyarakat Kabupaten Kupang masih menanti gebrakan sang pahlawan Yupiter Selan menumpas para koruptor di Kabupaten Kupang yang saat ini sangat meresahkan. Menurut pemikiran saya, Kajari Yupiter Selan jangan membuat.asyarakat menjadi skeptis dengan kinerja kejaksaan. Setiap tindakan harus ada wujud nyata tindak lanjutnya.
Apakah Yupiter Selan hanya menjadi pahlawan ilusi? Apakah keseriusan dalam memberantas korupsi hanya sebatas retorika? Masyarakat Kabupaten Kupang masih menunggu jawaban. Dalam situasi ini, masyarakat berharap agar Yupiter Selan dapat meningkatkan kinerjanya sebagai pahlawan anti-korupsi.
Namun, apakah harapan itu akan terwujud? Masyarakat Kabupaten Kupang masih menunggu dan melihat. Kinerja Yupiter Selan akan menjadi ujian bagi masyarakat Kabupaten Kupang dalam menilai keseriusannya dalam memberantas korupsi.(*CMBN01)









