KUPANG – Pengalaman panjang dalam menyalurkan pupuk bersubsidi menjadi pelajaran berharga bagi Silverius Mau, salah satu Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) asal Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu. Selama hampir satu dekade, ia dipercaya menjadi mitra penyalur pupuk bersubsidi yang melayani petani di enam kecamatan, termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Pengalaman tersebut dibagikannya dalam kegiatan Bimbingan Teknis Sinergi Penyaluran Pupuk Bersubsidi yang diselenggarakan PT Pupuk Indonesia bersama Komisi IV DPR RI atas inisiasi Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Anggota Panitia Kerja (Panja) Pupuk Bersubsidi, Usman Husin, di Kupang, Jumat (17/7/2026).
Dalam testimoninya, Silverius menegaskan bahwa keberhasilan penyaluran pupuk bersubsidi tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada komitmen seluruh pihak untuk memudahkan akses petani memperoleh pupuk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangan persulit petani. Kalau petani tidak menanam, maka semua manusia tidak akan makan. Karena itu, kita harus menghargai perjuangan petani sekaligus mengapresiasi PT Pupuk Indonesia yang terus memastikan pupuk bersubsidi tersedia bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Silverius, berbagai kendala di lapangan harus diselesaikan melalui komunikasi yang baik antara PPTS, penyuluh pertanian lapangan (PPL), pemerintah daerah, dan pihak terkait lainnya. Koordinasi yang kuat dinilai menjadi kunci agar distribusi pupuk tetap berjalan lancar hingga ke daerah perbatasan.
“Sebagai distributor kami harus bekerja keras. Jika ada persoalan dalam sistem atau di lapangan, jangan dibiarkan berlarut-larut. Bangun komunikasi dengan PPL dan seluruh pihak agar petani tidak dirugikan,” katanya.
PPTS sendiri merupakan entitas resmi penyalur pupuk bersubsidi sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025. Sistem ini melibatkan empat jenis lembaga penyalur, yakni pengecer, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), dan koperasi.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, mengajak para petani di Nusa Tenggara Timur untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan produktif guna meningkatkan produksi pangan. Menurutnya, pemerintah akan terus mendorong peningkatan produktivitas melalui bantuan sarana dan prasarana pertanian.
“Kami akan terus memperjuangkan berbagai bantuan untuk petani, mulai dari traktor hingga alat dan mesin pertanian lainnya agar produktivitas pertanian di NTT semakin meningkat,” ujar Usman.
Di kesempatan yang sama, Direktur Supply Chain PT Pupuk Indonesia, Robby Setiabudi Madjid, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra penyalur yang selama ini menjadi ujung tombak distribusi pupuk bersubsidi di berbagai daerah.
Menurutnya, keberhasilan menjaga ketersediaan pupuk bagi petani tidak terlepas dari peran para mitra yang bekerja hingga ke pelosok, sehingga program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional dapat terus berjalan.
Robby juga mengungkapkan bahwa besaran fee kios penyalur pada 2025 telah mengalami peningkatan sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap mitra. Selain itu, seluruh masukan yang disampaikan dalam kegiatan bimbingan teknis akan diteruskan ke kantor pusat untuk menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut.
“Kami memiliki komitmen untuk terus berpihak kepada para mitra PT Pupuk Indonesia. Peran mereka sangat strategis karena menjadi penghubung utama dengan petani sekaligus sumber masukan bagi kami dalam menyempurnakan sistem penyaluran pupuk bersubsidi,” pungkasnya.***









