KUPANG,- Turnamen Catur Persaudaraan yang digelar GAMKI NTT bersama GMKI Kupang resmi ditutup pada Sabtu (28/3/2026), setelah berlangsung selama dua hari dengan persaingan ketat dalam lima babak pertandingan.
Ajang yang diikuti 46 pecatur ini tak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi dan pembinaan kader muda. Percasi NTT menilai turnamen ini sebagai momentum strategis untuk mendorong lahirnya atlet catur potensial di daerah.
Wakil Ketua Percasi NTT, Herry Mesakh, yang memimpin langsung jalannya pertandingan, mengapresiasi seluruh pihak atas suksesnya kegiatan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Turnamen ini berjalan baik berkat dukungan panitia dan peserta. Ini bukti bahwa kolaborasi mampu melahirkan kegiatan berkualitas,” ujarnya saat penutupan di Rumah Orela, Sekretariat DPD GAMKI NTT.
Dari hasil akhir, Irman Baleng tampil dominan dan keluar sebagai juara pertama dengan catatan sempurna—lima kemenangan dari lima pertandingan. Marta Miracle menempati posisi kedua, sementara Roni Da Costa mengamankan peringkat ketiga.
Persaingan ketat juga terlihat dari komposisi 10 besar yang diisi sejumlah pecatur muda berbakat, menandakan potensi regenerasi atlet catur NTT yang terus berkembang.
Percasi NTT menegaskan bahwa turnamen seperti ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata. Ke depan, pembinaan akan diperluas hingga menyasar kelompok usia pelajar.
“Kami merekomendasikan agar ke depan ada kategori pelajar, mulai dari SD hingga SMA. Pembinaan usia dini sangat penting untuk menyiapkan atlet menuju PON 2028,” tegas Herry.
Ia menambahkan, NTT tengah serius mempersiapkan diri untuk meraih prestasi lebih tinggi di ajang nasional, termasuk target medali emas pada Pekan Olahraga Nasional mendatang.
Di sisi lain, Ketua GMKI Kupang, Andraviani Laiya, menekankan bahwa turnamen ini memiliki makna lebih dari sekadar kompetisi.
“Ini adalah ruang konsolidasi kader. Kita sedang membangun persaudaraan yang lebih dalam antara GAMKI dan GMKI,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Rondo. Menurutnya, nilai utama yang dibangun dalam kegiatan ini adalah kolaborasi dan persaudaraan.
“Yang kita bangun bukan hanya strategi di atas papan catur, tetapi strategi persaudaraan. Semua yang hadir adalah pemenang karena memilih untuk berkolaborasi,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen GAMKI untuk terus menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi pengembangan kader muda, baik dari sisi intelektual maupun karakter pelayanan.
Prosesi penyerahan hadiah berlangsung meriah dan penuh keakraban, ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia—menjadi simbol kuat bahwa turnamen ini bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang mempererat relasi dan membangun kepercayaan.
Turnamen ini sekaligus menegaskan bahwa ruang sederhana seperti catur mampu menjadi medium efektif dalam membentuk generasi muda yang strategis, cerdas, dan berakar pada nilai kebersamaan.**









