KUPANG,- Sejumlah proyek pembangunan infrastruktur Tahun Anggaran 2025 pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kupang saat ini tengah dalam proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ruas jalan hotmix Pitay–Sulamu, yang sebelumnya sempat ditemukan mengalami kerusakan di beberapa titik.
Proyek jalan penghubung Kukak–Sulamu sepanjang kurang lebih 6 kilometer ini memiliki nilai strategis bagi masyarakat. Setelah tujuh tahun terbengkalai, pembangunan kembali ruas tersebut menjadi tonggak penting dalam 100 hari kerja Bupati Kupang Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Titu Eki. Kehadiran jalan ini membuka akses antarwilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa-desa di sekitarnya.
Dengan nilai anggaran sekitar Rp10 miliar, proyek pengaspalan ini saat ini masih berada dalam masa pemeliharaan. Dalam fase tersebut, kualitas pekerjaan tetap menjadi tanggung jawab penuh pihak kontraktor. Dinas PUPR Kabupaten Kupang pun secara aktif melakukan pengawasan dan telah meminta kontraktor untuk segera menindaklanjuti setiap temuan di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil monitoring, termasuk temuan dari Tim Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Kupang, menunjukkan adanya beberapa titik kerusakan pada badan jalan. Namun, yang patut diapresiasi adalah respons cepat dari pihak kontraktor. Tanpa menunda, perbaikan langsung dilakukan sebagai bagian dari komitmen terhadap kualitas pekerjaan dan kepatuhan terhadap kontrak.
Langkah cepat ini menjadi cerminan profesionalisme kontraktor lokal yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian proyek, tetapi juga pada keberlanjutan fungsi infrastruktur itu sendiri. Tanggung jawab dalam masa pemeliharaan dimanfaatkan secara optimal untuk memastikan hasil pekerjaan tetap memenuhi standar teknis yang ditetapkan.
Memasuki akhir April 2026, kondisi ruas jalan Pitay–Sulamu terpantau telah mengalami perbaikan signifikan dan hampir rampung sepenuhnya. Perubahan ini menjadi bukti konkret bahwa pihak ketiga tidak mengabaikan tanggung jawabnya, melainkan hadir dengan solusi nyata atas setiap kekurangan yang ditemukan.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan kontraktor lokal. Dalam dinamika pembangunan daerah, kualitas pekerjaan dan integritas pelaksana menjadi faktor kunci. Apa yang ditunjukkan dalam proyek ini menjadi contoh bahwa profesionalisme dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan dalam menjaga mutu infrastruktur.
Pada akhirnya, pembangunan tidak hanya soal membangun fisik semata, tetapi juga tentang menjaga komitmen. Jalan Pitay–Sulamu kini bukan hanya penghubung wilayah, tetapi juga simbol kepercayaan yang dijaga melalui kerja nyata dan tanggung jawab yang tidak ditinggalkan.***









