Manakah Pilihan Frasa yang Tepat?

Rabu, 6 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frasa “waktu dan tempat kami persilakan” terdengar begitu akrab di telinga kita. Ia meluncur ringan dari bibir para pemandu acara, seolah menjadi bagian baku dari tata krama berbahasa dalam ruang-ruang resmi. Namun, justru karena kebiasaannya itulah, kita jarang berhenti sejenak untuk memeriksa: apa sebenarnya yang sedang kita katakan?

Dalam logika bahasa, frasa itu mengandung kejanggalan. “Waktu” dan “tempat” adalah konsep, bukan subjek yang dapat “dipersilakan”. Ia tidak berjalan ke podium, tidak menyampaikan pidato, tidak menyapa hadirin. Yang hendak dipersilakan adalah manusia, subjek hidup yang akan berbicara, memberi sambutan, atau menyampaikan pikiran. Maka ketika (misalnya) seorang MC berkata, “Kepada Bapak Gubernur, waktu dan tempat kami persilakan,” sebenarnya terjadi semacam pergeseran makna: yang konkret digantikan oleh yang abstrak.

Di sinilah kita melihat bagaimana bahasa sering kali tidak hanya mengikuti logika, tetapi juga kebiasaan sosial. Frasa tersebut kemungkinan lahir dari niat baik: memberi ruang sepenuhnya kepada pembicara. “Waktu dan tempat” menjadi simbol penyerahan kendali, sebuah bentuk penghormatan. Namun, dalam perjalanan waktu, simbol ini membeku menjadi formula yang diulang tanpa refleksi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini mencerminkan sesuatu yang lebih luas dalam budaya kita: kecenderungan untuk menghafal bentuk tanpa selalu memahami isi. Dalam banyak konteks, termasuk pendidikan dan birokrasi, ungkapan-ungkapan formal sering diwariskan sebagai “pakem” yang tidak boleh diganggu. Akibatnya, bahasa kehilangan ketajamannya sebagai alat berpikir, dan berubah menjadi sekadar alat seremonial.

Padahal, bahasa yang baik tidak hanya sopan, tetapi juga tepat. Kesopanan tanpa ketepatan bisa melahirkan kerancuan. Dalam kasus ini, alternatif yang lebih jernih sebenarnya sederhana:

“Kepada Bapak Gubernur, kami persilakan.”
Atau jika ingin lebih lengkap:
“Kepada Bapak Gubernur, kami persilakan untuk menyampaikan sambutan.”

Ungkapan ini langsung menunjuk pada subjeknya, tanpa perantara metafora yang membingungkan. Ia tetap santun, tetapi juga jelas.

Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menertawakan para MC. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa bahasa adalah cermin cara berpikir. Ketika kita membiarkan ungkapan-ungkapan yang kurang tepat terus beredar, kita juga sedang membiarkan pola pikir yang kabur tetap hidup.

Di ruang-ruang publik seperti acara resmi, sekolah, institusi keagamaan, atau forum budaya, dan lain-lain lokus, peran pemandu acara sebenarnya sangat strategis. Ia bukan sekadar pengatur alur, tetapi juga penjaga kualitas bahasa di hadapan khalayak. Setiap kalimat yang diucapkan menjadi contoh, terutama bagi generasi muda yang mendengar dan menirunya.

Maka memperbaiki satu frasa sederhana seperti ini bukan perkara kecil. Ia adalah bagian dari upaya merawat kejernihan bahasa, yang pada gilirannya merawat kejernihan berpikir. Dari hal-hal kecil seperti inilah budaya tutur yang lebih kritis dan sadar dapat bertumbuh.

Barangkali sudah saatnya kita tidak sekadar “mengulang yang biasa”, tetapi mulai “memilih yang benar”. Karena dalam bahasa, seperti juga dalam kehidupan, kebiasaan tidak selalu identik dengan kebenaran.

 

Heronimus Bani-Pemulung Aksara
Nekmese, 06 Mei 2026

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Guru-guru di ujung Timur Angin
Cincin emas simbol ketulusan cinta dan kebersamaan
PT Adhy Karya Pastikan Saluran Irigasi Aika Rohon di Amarasi Dilanjutkan Demi Petani
Simpang tiga: persaudaraan, peluang dan jalan menuju kemandirian
Ketika Suara dari Pinggiran Timor Menembus Jarak
Jaga Martabat Pemilu, GAMKI NTT dan Bawaslu Dorong Gerakan Pengawasan Partisipatif
Menjemput Keadilan di dalam Arus Waktu: Senjakala Hak Istimewa
Simfoni Puing: Refleksi Iman di Balik Distorsi Brian Welch

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:03

Guru-guru di ujung Timur Angin

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:01

Cincin emas simbol ketulusan cinta dan kebersamaan

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:20

PT Adhy Karya Pastikan Saluran Irigasi Aika Rohon di Amarasi Dilanjutkan Demi Petani

Jumat, 8 Mei 2026 - 00:01

Simpang tiga: persaudaraan, peluang dan jalan menuju kemandirian

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:35

Jaga Martabat Pemilu, GAMKI NTT dan Bawaslu Dorong Gerakan Pengawasan Partisipatif

Berita Terbaru

ilustrasi konteks geografis & pendidikan di perbatasan; Gbr CHTGPT

Budaya

Guru-guru di ujung Timur Angin

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:03

Menyematkan cincin pada Sahabat; foto; SD N Loemanu

Budaya

Cincin emas simbol ketulusan cinta dan kebersamaan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:01

Konten tidak bisa disalin.