Dalam perjalanan menuju Amfoang Timur, ada satu pelajaran sosial yang diam-diam terasa lebih panjang daripada bentangan jalan itu sendiri. Pelajaran itu muncul bukan dari ruang seminar atau pidato pembangunan, melainkan dari satu tempat, pertigaan jalan di perbatasan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Kupang.
Di tempat itu berdiri sebuah kios, lebih tepatnya toko dengan papan nama sederhana: “Kios Thob.” Kata thob (too, tob) tampaknya diambil dari bahasa Meto’, yang berarti rakyat atau masyarakat. Nama itu terasa akrab, seolah ingin berkata bahwa tempat itu hadir untuk kebutuhan orang banyak. Dan, memang demikian adanya. Toko itu bukan sekadar tempat menjual barang kelontong. Ia menjadi ruang ekonomi kecil yang lengkap: tempat membeli kebutuhan harian, mengisi pulsa, menarik uang, bahkan tempat singgah bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh.
Saya bertanya kepada sopir mobil sewaan tentang siapa pemilik toko tersebut. Jawabannya cukup mengejutkan: pemiliknya berasal dari luar Pulau Timor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di seberang jalan, berdiri pula warung makan yang ramai. Aneka makanan dan minuman tersedia di sana, menghadirkan rasa yang membuat orang rela berhenti sebelum melanjutkan perjalanan panjang. Saya kembali bertanya: siapa pemiliknya? Jawabannya sama, bukan orang Timor.
Pemandangan sosial seperti ini sesungguhnya menyimpan banyak bahan renungan. Tempat itu sangat strategis. Ada pasar mingguan di sekitarnya. Arus kendaraan terus bergerak. Orang datang dan pergi membawa kebutuhan, uang, dan peluang ekonomi. Secara logika sederhana, kawasan seperti itu seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi usaha masyarakat lokal.
Namun kenyataan menunjukkan hal lain. Kesempatan ekonomi sering lebih cepat dibaca oleh orang-orang dari luar dibandingkan oleh masyarakat setempat sendiri.
Tentu ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Orang luar yang datang berdagang justru menunjukkan keberanian membaca peluang dan ketekunan membangun usaha dari tempat-tempat kecil. Mereka melihat jalan sebagai pasar, melihat keramaian sebagai kesempatan hidup, dan melihat kebutuhan masyarakat sebagai ruang pelayanan ekonomi.
Sementara itu, masyarakat Timor memiliki kekayaan lain yang juga sangat berharga: kuatnya persaudaraan sosial. Orang Timor sejak lama hidup dalam budaya saling menerima, menghormati tamu, dan menjaga hubungan kekeluargaan. Dalam banyak keadaan, relasi sosial lebih dipentingkan daripada perhitungan untung-rugi ekonomi. Orang lebih senang duduk bercerita bersama daripada sibuk mengejar keuntungan pribadi semata.
Di situlah letak kebijaksanaan sekaligus tantangannya.
Persaudaraan adalah kekuatan budaya yang tidak boleh hilang. Namun, di zaman sekarang, persaudaraan juga perlu berjalan bersama kemandirian ekonomi. Sebab masyarakat yang hanya kuat dalam solidaritas tetapi lemah dalam penguasaan usaha, lambat laun akan menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Kebudayaan sejatinya tidak mengajarkan kemalasan atau ketergantungan. Leluhur Timor adalah para pekerja keras yang membuka kebun di tanah berbatu, lereng, menggembalakan ternak di padang sabana, dan bertahan hidup dalam musim yang keras. Artinya, semangat kemandirian sebenarnya sudah ada dalam akar budaya itu sendiri. Hanya saja, ia perlu dibangunkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan zaman sekarang: keberanian membaca peluang, mengelola usaha, dan membangun ekonomi lokal tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Mungkin itulah pelajaran kecil dari satu pertigaan jalan menuju Amfoang Timur: bahwa persahabatan dan usaha tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama. Sebab masyarakat yang bijaksana bukan hanya mampu menjaga hubungan sosial yang hangat, tetapi juga mampu membangun kemandirian agar martabat hidup tetap bertumbuh di tanah sendiri.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara









