Mengenai Menari di Hadapan Tuhan dalam Bulan Budaya GMIT

Senin, 1 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi oleh AI; Tarian dalam liturgi ibadah

Gambar Ilustrasi oleh AI; Tarian dalam liturgi ibadah

 

Bulan Budaya GMIT tahun 2026 telah berakhir. Berbagai ekspresi budaya tampil menghiasi ruang-ruang ibadah: bahasa daerah yang kembali terdengar di mimbar, kain tenun yang dikenakan dengan bangga, alat musik tradisional yang dibunyikan dengan sukacita, serta tarian adat atau tari kreasi baru yang menggerakkan tubuh umat dalam irama kebersamaan. Semua itu menghadirkan kegembiraan tersendiri. Gereja (GMIT) seakan diingatkan kembali bahwa Injil telah berdiam dalam durasi yang cukup lama di tanah Timor, Rote, Sabu, Alor, Sumba, Flores, dan berbagai pulau lain di Nusa Tenggara. Injil bukan lagi tamu, melainkan telah menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat.

Namun, setelah sorak sukacita mereda, gereja perlu menyediakan ruang bagi refleksi. Sebab liturgi bukan hanya perayaan, melainkan juga perenungan. Liturgi bukan sekadar panggung ekspresi, melainkan ruang perjumpaan antara Tuhan dan umat-Nya. Dalam liturgi, Allah berbicara melalui Firman dan umat menjawab melalui doa, nyanyian, pengakuan iman, persembahan, dan seluruh sikap hidupnya. Karena setiap unsur yang masuk ke dalam liturgi patut ditanyakan kembali: apakah ia menolong umat mendengar suara Tuhan atau justru mengalihkan perhatian dari-Nya?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika gereja menghadirkan tarian budaya dalam ibadah.  Di antaranya kosu’ yang khas masyarakat adat Amarasi Raya. Tarian hampir tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditemani musik. Musik sering kali membawa syair atau lirik. Di sinilah muncul satu pertanyaan teologis yang sederhana tetapi penting: jika tarian diperbolehkan masuk ke dalam liturgi, bagaimana dengan pesan yang dibawa oleh musik dan syair yang mengiringinya?

Sering kali musik tradisional yang digunakan dalam ibadah berasal dari ruang sosial masyarakat. Syairnya berbicara tentang persahabatan, percintaan, pesta adat, kisah leluhur, atau pengalaman hidup sehari-hari. Semua itu baik dan memiliki tempat terhormat dalam kehidupan budaya masyarakat. Namun liturgi memiliki tujuan yang berbeda. Liturgi tidak terutama berbicara tentang manusia, melainkan tentang Allah dan karya keselamatan-Nya. Karena itu muncul pertanyaan lanjutan: apakah gereja sedang membudayakan Injil atau justru sedang meliturgikan budaya?

Pertanyaan ini bukanlah ajakan untuk menolak budaya. Justru sebaliknya. Kekristenan sejak awal selalu bertumbuh melalui dialog dengan kebudayaan. Injil diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, Latin, Jerman, Inggris, Indonesia, hingga bahasa-bahasa lokal di Nusa Tenggara. Alkitab sendiri lahir dalam konteks budaya tertentu. Namun sejarah gereja juga menunjukkan bahwa setiap unsur budaya yang masuk ke dalam kehidupan gereja selalu melewati proses penilaian teologis. Budaya diterima, diuji, dimurnikan, lalu dipersembahkan kembali kepada Allah.

Rasul Paulus menasihati jemaat, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Nasihat ini dapat menjadi prinsip penting dalam hubungan antara gereja dan budaya. Tidak semua unsur budaya harus ditolak. Tetapi tidak semua unsur budaya harus diterima tanpa refleksi. Gereja dipanggil untuk menimbang dengan bijaksana mana yang dapat menjadi sarana pewartaan Injil dan mana yang perlu diperbarui oleh terang Firman Tuhan.

Di sinilah sesungguhnya terletak tantangan Bulan Budaya GMIT pada masa depan. Tantangan terbesar bukanlah menghadirkan lebih banyak tarian atau lebih banyak simbol budaya. Tantangan sesungguhnya adalah menghasilkan lebih banyak karya budaya yang mengandung kedalaman teologi Kristen. Mengapa gereja tidak mendorong lahirnya syair-syair pujian baru dalam bahasa Amarasi, Alor, Amanuban, Amanatun, Fatule’u, Molo,  Melayu Kupang, Helong, Tetun, Rote, Sabu, atau Flores, misalnya Lamaholot? Mengapa ritme tradisional tidak dipadukan dengan narasi Alkitab? Mengapa gerak tari adat tidak dirancang untuk mengisahkan penciptaan, pembebasan, salib, kebangkitan, atau karya Roh Kudus?

Mazmur memberikan teladan yang menarik. Bangsa Israel mengenal musik, puisi, dan tarian. Namun semuanya dipenuhi dengan kisah tentang Allah. Mereka bernyanyi tentang penciptaan, keadilan, pertobatan, pengharapan, dan penyelamatan. Pemazmur berseru, “Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian” (Mazmur 150:4). Perintah itu menunjukkan bahwa tarian memiliki tempat dalam penyembahan. Tetapi tarian yang dimaksud tidak pernah dipisahkan dari pujian kepada Allah.

Dalam konteks masyarakat Atoin Meto’, refleksi ini menjadi semakin penting. Bahasa daerah sering dianggap hanya sebagai bahasa percakapan, bahasa adat, atau bahasa rumah tangga. Padahal bahasa daerah juga mampu menjadi bahasa teologi. Ketika Perjanjian Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Amarasi-Kotos, Roi’is, Delha, Rikou,  Lole, Dhao, Sabu/Hawu, Amanuban, Amanatun, Amfo’an, Molo, Fatule’u, Teiwa, Melayu Alor, Melayu Kupang, Adang, dan lain-lain, sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar penerjemahan kata-kata. Yang terjadi adalah perjumpaan antara Firman Allah dan jiwa suatu suku bangsa. Allah berbicara dalam bahasa yang dipahami umat. Kristus hadir dalam kosakata yang akrab di telinga masyarakat.

Karena itu gereja jangan berhenti pada penggunaan bahasa daerah sebagai simbol identitas budaya. Bahasa daerah perlu menjadi sarana pewartaan Injil yang hidup. Syair lagu, doa, pengakuan dosa, pengakuan iman, dan pujian dapat terus dikembangkan dalam bahasa lokal dengan kekayaan makna yang dimilikinya. Dengan demikian budaya tidak hanya tampil sebagai hiasan liturgi, melainkan menjadi wadah teologis yang membawa umat semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, refleksi mengenai Bulan Budaya bukanlah perdebatan antara budaya dan Injil. Yang dipersoalkan bukanlah apakah budaya boleh hadir dalam gereja. Pertanyaan yang lebih mendalam yakni bagaimana produk budaya dapat dipersembahkan secara utuh kepada Tuhan. Sebab produk budaya yang telah disentuh oleh Injil tidak kehilangan keasliannya. Ia justru menemukan makna terdalamnya.

Inilah tugas besar gereja: bukan sekadar mengundang budaya dan produknya masuk ke dalam liturgi, melainkan membentuk dan membangun budaya yang mampu bernyanyi dan menari tentang Kristus. Bukan sekadar menghadirkan tarian adat  dengan iringan musik dan syair/lirik lagu di depan altar, melainkan menjadikan setiap gerak tarian sebagai doa dan penyembahan. Bukan sekadar memainkan musik tradisional di ruang ibadah, melainkan mengisinya dengan syair/lirik yang mengabarkan kasih Tuhan.

Ketika hal itu terjadi, budaya tidak lagi berdiri di samping liturgi. Budaya akan menari di hadapan Tuhan. Dan gereja akan menyaksikan satu perjumpaan yang indah: Injil tetap setia pada kebenarannya, sementara budaya tetap setia pada jati dirinya. Keduanya bersama-sama memuliakan Tuhan, Allah Bapa Sang Pencipta segala bahasa, segala bangsa, dan segala kebudayaan. Memuliakan Kristus Yesus Tuhan yang menyertai umat-Nya. Memuliakan Roh Kudus yang terus menghibur dan menguatkan.

Catatan  ini sengaja tidak berhenti pada kritik, melainkan mengarah pada sebuah agenda kreatif: mendorong lahirnya himne, mazmur, pujian, puisi, musik, dan tarian berbahasa lokal yang berakar pada teologi Kristen. Dengan demikian Bulan Budaya tidak hanya menjadi perayaan identitas, tetapi juga menjadi ruang penciptaan kebudayaan Kristen yang baru dan kontekstual.

 

Penulis: Heronimus Bani~Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Simon Petrus Kamlasi Dorong Penguatan Pertanian Jagung di Sumba Barat Daya
UPTD SD Inpres Nekmese dalam Upacara Harlah Pancasila
Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah
Ayo Bergabung di Road To Event Academy GAMKI NTT, Langkah Besar Pemuda Flobamora Naik Kelas
Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata
Drama Gol dan Semangat Juang Membara di LPI 2026 zona Amfoang Raya
Roh Kudus turun ketika bumi luka
Menyusuri Sekolah Pinggiran, GAMKI NTT Distribusikan Paket Pendidikan dan Sarana Olahraga

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 02:28

Simon Petrus Kamlasi Dorong Penguatan Pertanian Jagung di Sumba Barat Daya

Senin, 1 Juni 2026 - 02:05

UPTD SD Inpres Nekmese dalam Upacara Harlah Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 - 00:39

Mengenai Menari di Hadapan Tuhan dalam Bulan Budaya GMIT

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Rabu, 27 Mei 2026 - 00:40

Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.