Aksara yang Mengubah Nasib
(Berdasarkan kisah Marsalina Timo)
Di bawah atap pondok yang sederhana,
kami tumbuh dalam keterbatasan yang nyata.
Ayah dan ibu memeras keringat di ladang orang,
menerima upah seadanya, dalam pelukan malam yang panjang.
Saat anak-anak lain melangkah ke gerbang sekolah,
aku hanya bisa memandang dengan rindu yang membuncah.
Seminggu di taman kanak-kanak, lalu semua terhenti,
Kemiskinan mengunci mati mimpi-mimpi di hati.
Usia merangkak naik, angka enam berganti empat belas,
Pintu sekolah dasar telah tertutup, menganggapku terlambat di kelas.
Namun lututku tak lelah bertelut,
Dalam doa yang sunyi, asaku tak kunjung surut.
Tuhan mendengar dari balik langit yang sunyi,
Mengirimkan tangan-tangan penolong yang berhati murni.
Bapak Doni dan Mama Pendeta Lyla membuka pintu rumah mereka,
Menjadi saksi baptis, memberi ruang bagi harapan yang sempat reda.
Lalu Mama Ani membawa kabar tentang satu lentera,
Satu tempat bernama PKBM, di mana asa kembali membara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya aku melangkah tanpa tahu apa-apa,
Gemetar, penakut, dan tak berani mengeja kata.
Namun di PKBM Sabarprim Inter Pares, dunia baru terbuka,
Bapak Simon Anunu dan Ibu Rosa menuntun jemariku dengan setia.
Kini, aku tak lagi terpasung dalam sepi,
Aku bisa membaca, menulis, menghitung, dan berdiri menjadi ketua kelas hari ini.
Kini seragam SMP telah menanti di depan mata,
Dan sebuah mimpi besar kutanam dalam dada:
“Aku ingin menjadi dokter,” bisikku pada angin malam,
Mengubah nasib keluarga, menyembuhkan luka yang terpendam.
Terima kasih Bapak Simon, Ibu Rosa, dan semua yang berjuang,
Terima kasih Bapak dan Mama Ani yang membuat jalanku terang.
Pengorbananmu tak ‘kan luntur oleh waktu yang berputar,
Uisneno nok kit ok-oke — Tuhan menyertai dan memberkati kita .
Editor: Heronimus Bani









