Penguatan budaya baca dan karya di SMK N 3 Wewewa Barat

Minggu, 14 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru SMK N 2 Wewewa Barat; ft: Yuven

Guru SMK N 2 Wewewa Barat; ft: Yuven

Sumba Barat Daya, CMBNews.id.-  Penguatan literasi di sekolah bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi dengan membangun budaya belajar sepanjang hayat. Kesadaran inilah yang mendorong Guru Muda Pijar CT.Arsa Foundation berkolaborasi dengan Penerbit Erlangga Cabang Weetabula dalam kegiatan pendampingan penguatan literasi bagi guru-guru di SMKN 3 Wewewa Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (13/6/26) ini, bertempat di Aula SMKN 3 Wewewa Barat diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal sekolah dalam memperkuat budaya literasi, terutama setelah adanya evaluasi terhadap capaian rapor pendidikan dan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) peserta didik.

Selama kurang lebih enam jam, para guru mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Sebelum pemaparan materi dimulai, kepala sekolah mengajak seluruh guru untuk berpartisipasi aktif, berdiskusi, serta menggali berbagai strategi dan praktik baik dalam mengembangkan literasi di lingkungan sekolah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Guru sebagai Kurikulum yang Hidup

Dalam kegiatan ini, Yuven Lana sebagai Guru Muda Pijar membawakan materi bertema “Guru sebagai Teladan Literasi”. Ia menekankan bahwa guru memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan literasi peserta didik.

Menurutnya, salah satu “kurikulum” yang paling lama diingat oleh peserta didik bukan hanya materi pelajaran, melainkan keteladanan dari seorang guru.

“Peserta didik meniru apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang diperintahkan,” menjadi pesan utama dalam sesi tersebut.

Guru tidak dapat membiarkan peserta didik berjalan sendiri dalam proses belajar. Pendampingan, bimbingan, dan keteladanan guru menjadi fondasi penting agar budaya literasi tumbuh secara alami di sekolah.

Guru tidak dapat membiarkan peserta didik berjalan sendiri dalam proses belajar. Pendampingan, bimbingan, dan keteladanan guru menjadi fondasi penting agar budaya literasi tumbuh secara alami di sekolah. Guru bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan ruang belajar yang mendorong rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kebiasaan mengeksplorasi berbagai sumber informasi. Ketika guru menunjukkan kecintaan terhadap membaca, menulis, dan belajar, peserta didik akan melihat bahwa literasi bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan bagian dari cara hidup untuk terus berkembang.

Dari Membaca Menuju Berkarya

Materi berikutnya disampaikan oleh Yosep David Huan, staf Penerbit Erlangga Cabang Weetabula, dengan tema “Membaca ke Berkarya”.

Ia menjelaskan bahwa gerakan literasi sekolah dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu membaca. Dari kebiasaan membaca, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman, menghasilkan gagasan, dan menciptakan karya.

Literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku, tetapi berkembang menjadi kegiatan kreatif yang terintegrasi dengan pembelajaran. Produk akhir dari proses tersebut dapat berupa majalah dinding sekolah, poster, tulisan, maupun berbagai bentuk karya lainnya.

Literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku, tetapi berkembang menjadi kegiatan kreatif yang terintegrasi dengan pembelajaran. Produk akhir dari proses tersebut dapat berupa majalah dinding sekolah, poster, tulisan, maupun berbagai bentuk karya lainnya. Melalui proses ini, peserta didik belajar mengolah informasi, menyampaikan gagasan, serta membangun kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Literasi menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, karena setiap bacaan dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, budaya literasi tidak hanya menghasilkan peserta didik yang gemar membaca, tetapi juga mampu berkomunikasi, berkolaborasi, dan menghasilkan karya sebagai bentuk ekspresi intelektual mereka.

Literasi sebagai Budaya Sekolah

Salah satu hasil nyata dari kegiatan ini adalah sekolah berhasil menyusun artikel sekolah dan membuat platform blog untuk mempublikasikan berbagai kegiatan sekolah, tulisan guru, serta karya peserta didik.

Dalam sesi wawancara, Kornelia Kolo Dere, S.Pd., selaku Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan sekolah, khususnya dalam mendorong guru menjadi penggerak budaya literasi.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga budaya membaca dan menulis tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi menjadi kebiasaan bersama.

“Literasi itu penting karena mendukung kemampuan memahami, mengidentifikasi, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan,” ungkapnya.

Pada akhirnya, guru sebagai teladan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi tentang menghadirkan semangat belajar yang terus hidup.

Pada akhirnya, guru sebagai teladan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi tentang menghadirkan semangat belajar yang terus hidup. Guru yang memiliki budaya literasi akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang penuh inspirasi, tempat peserta didik merasa dihargai, didorong untuk berpikir, dan berani menghasilkan karya. Keteladanan seorang guru dalam membaca, menulis, berdiskusi, dan terus mengembangkan diri menjadi pesan pendidikan yang kuat bahwa belajar bukanlah proses yang berhenti di ruang kelas, melainkan perjalanan sepanjang hayat.

Dari tangan guru yang mencintai literasi, tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

“Mari mulai dari diri sendiri: satu buku, satu artikel, satu komunitas. Jadikan literasi sebagai budaya sekolah.” Demikian Kornelia Koro Dere menutup percakapan dengan penulis.

 

Penulis: Yuven Lana, S.Pd
Editor: Heronimus Bani

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Aksara yang Mengubah Nasib
Siklus Alami Abdi Negara: Moment Pisah Sambut Kepala UPTD SMP N 2 Amarasi Selatan
Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru: Apa Saja Keunggulan STIKUM Prof. Dr. Yohanes Usfunan 
UPTD SD Negeri Leomanu Sukses Gelar Leomanu Berkarya Edisi 4
Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno
Keluluisan SD se-Kecamatan Amarasi mencapai angka 99,31%
Belajar Sejarah Langsung dari Sumbernya, Murid Kelas 6 SD I Nekmese Kunjungi Museum Negeri Kupang
Po’uk untuk Guru, Harapan untuk Masa Depan

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 16:54

Aksara yang Mengubah Nasib

Senin, 15 Juni 2026 - 16:35

Siklus Alami Abdi Negara: Moment Pisah Sambut Kepala UPTD SMP N 2 Amarasi Selatan

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:06

Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru: Apa Saja Keunggulan STIKUM Prof. Dr. Yohanes Usfunan 

Sabtu, 6 Juni 2026 - 04:21

UPTD SD Negeri Leomanu Sukses Gelar Leomanu Berkarya Edisi 4

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:49

Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno

Berita Terbaru

Marselina Timo, foto: Simon

Pendidikan

Aksara yang Mengubah Nasib

Senin, 15 Jun 2026 - 16:54

Konten tidak bisa disalin.