Aksara yang Mengubah Nasib

Senin, 15 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marselina Timo, foto: Simon

Marselina Timo, foto: Simon

Aksara yang Mengubah Nasib
(Berdasarkan kisah Marsalina Timo)


Di bawah atap pondok yang sederhana,
kami tumbuh dalam keterbatasan yang nyata.
Ayah dan ibu memeras keringat di ladang orang,
menerima upah seadanya, dalam pelukan malam yang panjang.
Saat anak-anak lain melangkah ke gerbang sekolah,
aku hanya bisa memandang dengan rindu yang membuncah.

Seminggu di taman kanak-kanak, lalu semua terhenti,
Kemiskinan mengunci mati mimpi-mimpi di hati.
Usia merangkak naik, angka enam berganti empat belas,
Pintu sekolah dasar telah tertutup, menganggapku terlambat di kelas.
Namun lututku tak lelah bertelut,
Dalam doa yang sunyi, asaku tak kunjung surut.

Tuhan mendengar dari balik langit yang sunyi,
Mengirimkan tangan-tangan penolong yang berhati murni.
Bapak Doni dan Mama Pendeta Lyla membuka pintu rumah mereka,
Menjadi saksi baptis, memberi ruang bagi harapan yang sempat reda.
Lalu Mama Ani membawa kabar tentang satu lentera,
Satu tempat bernama PKBM, di mana asa kembali membara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Awalnya aku melangkah tanpa tahu apa-apa,
Gemetar, penakut, dan tak berani mengeja kata.
Namun di PKBM Sabarprim Inter Pares, dunia baru terbuka,
Bapak Simon Anunu dan Ibu Rosa menuntun jemariku dengan setia.
Kini, aku tak lagi terpasung dalam sepi,
Aku bisa membaca, menulis, menghitung, dan berdiri menjadi ketua kelas hari ini.

Kini seragam SMP telah menanti di depan mata,
Dan sebuah mimpi besar kutanam dalam dada:
“Aku ingin menjadi dokter,” bisikku pada angin malam,
Mengubah nasib keluarga, menyembuhkan luka yang terpendam.
Terima kasih Bapak Simon, Ibu Rosa, dan semua yang berjuang,
Terima kasih Bapak dan Mama Ani yang membuat jalanku terang.
Pengorbananmu tak ‘kan luntur oleh waktu yang berputar,
Uisneno nok kit ok-oke — Tuhan menyertai dan memberkati kita .

Editor: Heronimus Bani

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban
ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun
Sungai yang Mengajari Kami Pulang
Stevano Adranacus Dorong Pemerataan Pendidikan hingga Pelosok Sabu
Diplomasi Literasi Tapal Batas
Guru Desa dan Buku di Tangan Dekan FKIP Undana Kupang
Tag :

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 05:21

Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar

Kamis, 17 September 2026 - 04:49

KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar

Kamis, 17 September 2026 - 04:28

Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Selasa, 15 September 2026 - 10:21

ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun

Jumat, 11 September 2026 - 08:02

Sungai yang Mengajari Kami Pulang

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.