KUPANG,- Di tengah riuhnya aktivitas di Kupang, ada satu momen kecil yang nyaris luput dari sorotan. Bukan panggung besar, bukan pula pertemuan penuh seremoni. Hanya sebuah percakapan singkat melalui sambungan telepon—namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Di sela kesibukannya, Simon Petrus Kamlasi menyempatkan diri menghubungi sang istri. Sebuah kebiasaan sederhana, tetapi selalu membawa ruang hangat di tengah rutinitas yang padat. Dengan nada tenang, ia berkata,
“Dik, acara hari ini Abang mau ketemu Pak Gubernur NTT”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat itu terdengar biasa saja. Namun bagi sang istri, ada rasa penasaran yang tak tertahan. Bukan soal pertemuannya, melainkan tentang apa yang dirasakan suaminya, seorang tokoh yang pernah berada di sisi berbeda dalam kontestasi politik. Dengan spontan ia bertanya, mencoba menggali isi hati yang mungkin tersembunyi di balik ketenangan itu.
Jawaban yang datang justru sederhana, bahkan nyaris tanpa beban.
“Ya biasa saja. Demi tujuan yang sama, kita perlu duduk satu meja,”. Singkat, tetapi menggugah.
Di balik kata “biasa saja”, tersimpan kedewasaan yang tidak semua orang miliki. Tidak ada ego yang ditonjolkan, tidak ada bayang-bayang masa lalu yang dibesar-besarkan. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa perjuangan untuk daerah tidak boleh berhenti hanya karena perbedaan pilihan di masa lalu.
Pertemuan dengan Emanuel Melkiades Laka Lena bukan lagi tentang siapa yang pernah berseberangan. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana dua sosok memilih untuk menempatkan kepentingan Nusa Tenggara Timur di atas segalanya. Tentang bagaimana rivalitas bisa bertransformasi menjadi kolaborasi.
Dari momen kecil itulah, sebuah pelajaran besar lahir. Bahwa membangun daerah tidak membutuhkan siapa yang paling kuat berdiri sendiri, melainkan siapa yang bersedia berjalan bersama. Kerja sama, kolaborasi, dan komunikasi, tiga hal yang sering terdengar klise, namun sesungguhnya adalah fondasi utama dalam setiap kemajuan.
Kadang, hal-hal paling sederhana justru menjadi pengingat paling jujur. Bahwa di balik hiruk-pikuk politik dan kepentingan, selalu ada ruang untuk duduk bersama, berbicara dengan hati yang jernih, dan melangkah menuju tujuan yang sama.
Semoga semangat seperti ini terus tumbuh dan terjaga. Agar Nusa Tenggara Timur tidak hanya bergerak maju, tetapi juga bertumbuh dengan kekuatan persatuan. Menjadi berkat, bukan hanya bagi daerahnya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang.
Puji Tuhan
~ Diolah dari EMS Notes, Sabtu 11 April 2026








