Fee-Mone: Snasaf ma Smanaf mese’; Naa’ ma Naaf mese’

Jumat, 17 Maret 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengantar

Beberapa hari yang lalu saya ikut sibuk membantu dalam urusan perkawinan adat sepasang kekasih. Saya, lantas berefleksi di dalam judul sebagaimana yang tertera sekarang ini, dan pembaca sedang membacanya.
Saya menuliskannya dalam Bahasa Timor-Amarasi, dan terjemahannya secara harfiah dalam Bahasa Indonesia seperti ini: suami-isteri: satu napas-satu roh; satu darah-satu garis keturunan.
Judul ini saya pertahankan untuk tidak diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia karena kandungan maknanya. Namun saya harus dan berkewajiban memberitahukan artinya dengan menerjemahkannya menjadi suami-isteri: senapas-seroh; sedarah-seketurunan

Bersuami dan beristeri (Amarasi: fee-mone; mafe’e-mamone’ menjadi salah satu dambaan mayoritas insan manusia. Seseorang pemuda akan menjadi suami bila telah mengambil seorang gadis terpilih menjadi isteri, dan seseorang gadis akan menjadi isteri bila ia telah menerima dan mengakui seseorang pemuda sebagai suaminya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perkawinan bukanlah satu permainan layaknya anak-anak bermain masak-masak (Amarasi:tao babaf, dimana ketika bosan bermain, merekapun bubar dan melupakan peran dan fungsi, bahkan dialog-dialog dalam permainan itu. Perkawinan, dimana sepasang suami-isteri telah saling menerima, maka selanjutnya ikatan batin dan roh akan merekatkan seerat-eratnya dua insan berbeda jenis kelamin, dan rumpun-rumpun keluarga.

Apa kata alkitab, Firman Tuhan tentang kehidupan suami-isteri? Alkitab sebagai buku yang berisi Firman Tuhan dan berbagai ragam kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kehidupan keluarga-keluarga. Satu di antaranya adalah keluarga pertama di dunia yaitu Adam dan Hawa.

 

Fee-Mone: Snasaf mese’ – Smanaf mese’

Harfiah ungkapan di atas: isteri-suami: napas satu, roh satu. Maksudnya, senapas-seroh. Ketika Tuhan Allah mengambil debu tanah, membentuknya menjadi manusia, IA menghembuskan napas ke dalam tubuh/bentuk bangunan itu melalui lubang hidung. Napas itu dalam bahasa Timor-Amarasi snasaf. Snasaf menjadi penyebab pertama si tubuh sehingga ia menjadi satu kehidupa baru.

Lalu, darimana smanaf di dalam bangunan tubuh manusia? Datangnya dari Tuhan Allah sendiri,
sesuai pernyataan Kitab Suci. … Roh Allah (Amarasi: Asmaan Akninu Uisneno – Smanaf) sendiri yang melayang-layang di permukaan air. … Dalam teks berbahasa Timor-Amarasi kalimatitu berbunyi: Uisneno In Asmaan ee nabra-rae nbi oe je fafon … Pada saat smanaf ditiupkan masuk, maka detik yang sama Tuhan Allah memasukkan smanaf ke dalam bangunan tubuh manusia. Maka, berkediplah mata, bergeraklah kaki-tangan, terbangunlah telinga dan terjagalah perasaan.

 

Fee-Mone: Naa’ mese’-Naaf mese’

Terjemahan lurus: isteri-suami: darah satu-darah (keturunan) satu. Maksudnya, sedaging-sedarah (dan anak-anak). Tuhan Allah membuat Adam tertidur. Ia mengambil tulang dari rusuknya Adam. Ia membangun satu bangunan baru. Ketika Adam terjaga dari tidurnya, ia terbelalak. Perasaannya bergejolak, lalu berkata, “Ini dia tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku!” Kesendirian menjadi penyebab keterasingan Adam di Taman Eden. Perasaan (Ing:emotion) itu “terjaga” gejolak hati melahirkan puisi indah tanpa basa-basi. Dalam bahasa Timor-Amarasi berbunyi: “Haaa! Esai fe’! Ia ro natai nok kau! In nuif ein huma’ mese’ nok au nu. Ma in sisin huma’ mese’ nok au sisik.”

Pernyataan bernada puitis oleh Adam tidak menggombal karena ia sedang menjomblo. Ia justru memuji sekaligus membuat pengumuman bahwa mereka berdua seimbang dalam tampilan, berbeda tugas dan fungsi. Hal ini untuk saling melengkapi. Itulah sebabnya saya menyebutkannya sebagai sedarahta adanya, dan kesedarahan itu nyata ketika mereka menerima tugas pro creator (mengandung dan melahirkan). Mereka yang lahir dari rahim dan kandungan ibu, kelahiran itu diawali dari kebersamaan hidup sebagai suami-isteri.

 

Penutup

Pasangan suami-isteri yang serasi, mengantar kehidupan rumah tangga yang harmonis. Rumah tangga yang serasi dan harmonis hendaklah memancarkan “setarikan napas” oleh adanya satu roh. Pancaran kehidupan yang demikian itu menggambarkan kesedarahan karena bangunan tubuh yang nampak sama, namun beda fungsi.

Terima kasih. Kiranya berkenan.

Penulis: Heronimus Bani

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah
Roh Kudus turun ketika bumi luka
Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa
Guru dan Siswa Menyeberangi Sungai Demi Ujian Sekolah
Guru Bahasa dan Praktik Berbahasa
Estafet pengabdian di tanah pendidikan Kabupaten Kupang
Menginspirasi dengan buku
Refleksi Setahun Pelayanan, GAMKI NTT Gelar Doa Bersama dan Nobar Film “Pesta Babi”

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Senin, 25 Mei 2026 - 01:16

Roh Kudus turun ketika bumi luka

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:32

Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:43

Guru dan Siswa Menyeberangi Sungai Demi Ujian Sekolah

Senin, 18 Mei 2026 - 23:24

Guru Bahasa dan Praktik Berbahasa

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.