Saya duduk di emperan sebuah minimarket di kota lama So’e, menunggu fajar menyibak hari, lalu mengizinkan surya menyiram seng berkarat dan genteng rumah tua. Dari kejauhan, seorang anak datang menghampiri. Ia mengenakan pakaian olahraga sekolah, lusuh oleh debu jalanan, dan kakinya telanjang, tanpa sandal, tanpa sepatu, seolah tanah telah menjadi alas yang dipaksakan oleh keadaan.
Sebagai seorang guru sekolah dasar, naluri pertama saya adalah iba. Dunia anak-anak seharusnya diisi dengan buku tulis, suara tawa di halaman sekolah, dan langkah-langkah kecil yang berderap di atas sepatu sederhana. Namun di hadapan saya, dunia itu tampak retak. Ia meminta uang, katanya untuk membeli sandal. Permintaan yang sederhana, nyaris tak berjarak dari rasa kemanusiaan.
Tetapi saya menahan diri. Saya memilih untuk berbincang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari percakapan yang mengalir perlahan, seperti air yang mencari celah di antara batu, saya mengetahui bahwa ia tinggal di sebuah panti asuhan. Bukan karena kehilangan orang tua, bukan pula karena kemiskinan yang menelan segalanya. Ayah dan ibunya masih lengkap, hidup, bekerja, bahkan disebutnya memiliki pekerjaan tetap di sektor swasta dan layanan kesehatan. Anak ini juga tercatat sebagai murid di salah satu sekolah dasar GMIT, lembaga yang selama ini saya kenal sebagai ruang pembentukan iman dan karakter.
Di situlah hati saya mulai bergulat.
Saya melihat bukan lagi sekadar seorang anak tanpa sandal, tetapi sebuah potret kecil dari persoalan sosial yang lebih besar. Ada yang terasa janggal: ketika keluarga yang semestinya menjadi rumah pertama justru menyerahkan tanggung jawab itu ke panti; ketika lembaga pengasuhan mungkin menerima tanpa menyelami latar belakang secara utuh; dan ketika seorang anak, di usia yang seharusnya belajar meminta izin ke toilet di kelas, justru belajar meminta uang di depan toko.
Sebagai guru, saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya perkara membaca dan berhitung, tetapi juga membentuk martabat. Dan di hadapan saya saat itu, saya khawatir sedang menyaksikan proses pengikisan martabat itu, perlahan, tetapi nyata.
Saya akhirnya tidak memberinya uang.
Keputusan itu bukan tanpa rasa bersalah, melainkan suatu kegelisahan yang lebih dalam. Saya takut, memberi uang dalam situasi itu justru menjadi pengesahan diam-diam atas praktik yang keliru, membiarkan anak belajar bahwa meminta adalah jalan yang wajar, sementara tanggung jawab orang dewasa di sekelilingnya menguap tanpa pertanyaan.
Fajar semakin menyibak kabut pagi. Anak itu pergi, meninggalkan jejak kaki kecil di atas debu yang sama. Dan saya tetap duduk di sana, sebagai seorang guru yang hari itu tidak sedang mengajar di kelas, tetapi sedang belajar, tentang rapuhnya makna keluarga, tentang longgarnya pengawasan sosial, dan tentang betapa mudahnya masa depan seorang anak tergelincir di antara celah-celah yang kita biarkan terbuka.
Tugu Lilin-So’e, 28 Maret 2026
Heronimus Bani-Pemulung Aksara








