MBG di Depan Buruh: Antara Angin Janji dan Dahaga Tanah

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden di depan buruh; ilustrasi oleh ChatGPT

Presiden di depan buruh; ilustrasi oleh ChatGPT

Peristiwa itu seperti suara yang dilempar ke sabana: luas, terbuka, tetapi tidak selalu kembali sebagai gema yang diharapkan.

Pada hari Hari Buruh Internasional, ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan barisan buruh, ia ibarat seorang penggembala yang mencoba memanggil ternaknya di padang terbuka. Ia percaya suaranya akan dikenali, akan diikuti, akan dijawab dengan kesepahaman yang jinak.

Namun sabana punya hukumnya sendiri.
Ternak yang dilepas tidak selalu pulang hanya karena dipanggil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“MBG bermanfaat atau tidak?”

Pertanyaan itu meluncur seperti angin kering yang menyapu ilalang, ringan di permukaan, tetapi menyimpan harapan akan hujan jawaban yang menyejukkan. Ia mengandaikan bahwa tanah sudah siap menerima, bahwa benih kebijakan akan tumbuh tanpa tanya.

Tetapi dari tengah kerumunan itu, suara bangkit seperti gema dari bukit batu:

“Tidak.”

Satu kata itu keras, seperti kaki yang menghentak tanah kering. Ia bukan sekadar jawaban, melainkan tanda bahwa tanah ini tidak sedang menunggu janji, ia sedang menunggu air.

Di tanah seperti Timor, orang tidak pernah salah membedakan antara angin dan hujan. Angin bisa datang setiap hari, membawa debu, menyibakkan daun, mengabarkan sesuatu yang lewat. Tetapi hujan, hujan memberi kehidupan. Ia ditunggu, diidamkan, bahkan didoakan dalam diam yang panjang.

Begitu pula dengan kata-kata negara.

Bagi negara, program seperti Makan Bergizi Gratis adalah aliran yang hendak disalurkan, seperti sungai yang digambar di peta: jelas arahnya, pasti tujuannya. Tetapi bagi buruh, hidup tidak selalu mengikuti peta. Ia seperti sungai berliku, yang kadang mengering sebelum sampai ke hilir, yang kadang hilang ditelan tanah berbatu dan retak.

Buruh tidak hanya bertanya tentang makan hari ini. Mereka bertanya tentang esok yang terus menjauh seperti air di musim kemarau. Ke mana mendapatkannya?

Di kontrakan yang pengap, di sela suara mesin yang tak pernah benar-benar diam, kebijakan tidak hadir sebagai angka atau slogan. Ia hadir sebagai rasa: cukup atau tidak, layak atau tidak, hidup atau sekadar bertahan.

Dan ketika rasa itu tidak menemukan kesejukan, maka jawaban pun lahir tanpa ragu.

“Tidak.”

Jawaban itu adalah bahasa tanah. Tanah yang retak karena lama menunggu. Ia tidak marah, tetapi ia jujur. Ia tidak panjang, tetapi dalam.

Dalam kebudayaan yang dekat dengan alam, kata tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa jejak: jejak kaki di tanah, jejak keringat di dahi, jejak harap yang tidak selalu sampai. Kata yang tidak menyentuh jejak itu akan menguap seperti embun yang kalah oleh matahari.

Maka di panggung itu, sesungguhnya bukan sekadar percakapan yang terjadi.
Itu menjadi pertemuan dua dunia: satu yang berbicara seperti angin, dan satu yang menunggu seperti tanah.

Dan tanah, kita tahu, tidak pernah bisa dibohongi dan membohongi.

Ia hanya menerima yang benar-benar jatuh sebagai air.

Selain itu, ia akan tetap diam atau, seperti hari itu, menjawab dengan satu kata yang menggema lebih jauh dari pidato mana pun:

“Tidak.”

©Heronimus Bani-Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepala Dinas PUPR NTT Tekankan Pentingnya Kurikulum yang Menjawab Tantangan Pembangunan
Bupati TTU: RSU Leona Harus Lindungi Dokter, Bukan Sekadar Mempekerjakan
Bupati TTU: Tidak Ada Toleransi bagi Pelaku Intimidasi terhadap Tenaga Medis
Wakil Rakyat, Algojo Senyap Mengadili Kekuasaan di Balik Kematian dr. Icha
Polres Kupang Berhasil Ungkap 2 Pelaku Pelemparan Mobil di Camplong 
Usman Husin Mengawal Asa Petani NTT, Jangan Biarkan Pupuk Hanya Menumpuk di Gudang
Kombespol FX Irwan Arianto Emban Amanah Baru Sebagai Dirkrimsus Polda NTT 
KADIN NTT–CCI Dili Perkuat Kolaborasi Penerbangan Langsung Kupang–Dili

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 04:25

Kepala Dinas PUPR NTT Tekankan Pentingnya Kurikulum yang Menjawab Tantangan Pembangunan

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:41

Bupati TTU: RSU Leona Harus Lindungi Dokter, Bukan Sekadar Mempekerjakan

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:54

Bupati TTU: Tidak Ada Toleransi bagi Pelaku Intimidasi terhadap Tenaga Medis

Minggu, 28 Juni 2026 - 01:57

Wakil Rakyat, Algojo Senyap Mengadili Kekuasaan di Balik Kematian dr. Icha

Jumat, 26 Juni 2026 - 11:33

Usman Husin Mengawal Asa Petani NTT, Jangan Biarkan Pupuk Hanya Menumpuk di Gudang

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.