KUPANG,- Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Kupang yang digelar di Hotel Sahid T-More pada Minggu, 31 Mei 2026, mendadak ditunda. Padahal, dinamika politik sudah mulai menghangat dengan hadirnya dua figur yang mendaftarkan diri sebagai calon Ketua DPD II, yakni Jhon Oematan dan Alberto Tatibun. Namun di tengah riuhnya agenda suksesi itu, satu pertanyaan justru menggema paling keras di ruang-ruang diskusi kader: di manakah Daniel Taimenas?
Nama Daniel Taimenas bukanlah nama asing dalam sejarah politik Partai Golkar Kabupaten Kupang. Ia adalah figur yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menempatkan Golkar tetap berdiri tegak di tengah gelombang perubahan politik lokal. Di bawah kepemimpinannya, partai berlambang pohon beringin itu sukses meraih kemenangan legislatif dengan suara terbanyak selama dua periode berturut-turut. Sebuah pencapaian yang tidak lahir dari keberuntungan, melainkan hasil dari kerja organisasi, konsolidasi akar rumput, dan loyalitas panjang terhadap partai.
Dalam filsafat politik, Niccolò Machiavelli pernah mengatakan bahwa kekuasaan bukan hanya soal merebut, tetapi mempertahankan legitimasi di mata rakyat dan elite. Daniel Taimenas tampaknya memahami hal itu. Ia membangun kepemimpinan bukan semata lewat panggung retorika, tetapi melalui pendekatan kaderisasi, kedekatan sosial, dan kemampuan menjaga stabilitas internal partai. “Leadership is not about being loud, but about being trusted,” demikian ungkapan yang seolah menggambarkan karakter politiknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak kader Golkar Kabupaten Kupang melihat Daniel sebagai representasi loyalitas yang mulai langka dalam dunia politik modern. Ketika sebagian politisi menjadikan partai sekadar kendaraan menuju kekuasaan, Daniel justru dikenal sebagai sosok yang tumbuh bersama Golkar. Ia melewati dinamika politik dari bawah, memahami denyut organisasi, hingga menjaga marwah partai dalam situasi sulit sekalipun. Loyalitas itu yang membuat namanya tetap kuat di kalangan akar rumput.
Penundaan Musda XI pun memunculkan spekulasi politik. Sebab di tengah munculnya kandidat baru, tidak sedikit kader yang menilai Daniel Taimenas masih sangat layak memimpin Golkar Kabupaten Kupang. Prestasi elektoralnya belum tergantikan. Jaringan politiknya masih kuat. Pengaruhnya terhadap struktur partai juga belum sepenuhnya memudar. Maka ketika Musda tiba-tiba ditunda, publik mulai membaca adanya kemungkinan agenda politik yang lebih besar di balik keputusan tersebut.
Apakah Daniel Taimenas sedang “digeser” secara perlahan? Ataukah ada skenario politik tertentu yang sedang dirancang oleh DPD I maupun DPP Partai Golkar? Pertanyaan-pertanyaan itu kini beredar liar di kalangan kader. Dalam dunia politik, silence is often louder than words. Diam kadang menjadi bahasa paling keras untuk membaca arah kekuasaan.
Bagi sebagian kader senior, Daniel Taimenas adalah simbol stabilitas. Ia dianggap mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan elite dan kebutuhan kader di tingkat bawah. Dalam politik lokal yang sering kali mudah terbelah oleh kepentingan sesaat, sosok seperti Daniel dinilai penting untuk menjaga kesinambungan partai. Sebab partai politik bukan sekadar alat perebutan jabatan, tetapi rumah ideologis yang membutuhkan fondasi loyalitas dan pengalaman.
Di sisi lain, munculnya figur-figur baru seperti Jhon Oematan dan Alberto Tatibun menunjukkan bahwa regenerasi dalam tubuh Golkar Kabupaten Kupang memang sedang berjalan. Namun regenerasi yang sehat mestinya dibangun di atas etika politik dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan kader. Politik yang dewasa tidak membunuh tokoh lama hanya demi membuka ruang baru. Politik yang matang justru merawat pengalaman sambil menyiapkan masa depan.
Daniel Taimenas telah membuktikan bahwa kemenangan politik tidak selalu dibangun dengan gaduh. Ia bekerja dalam senyap, tetapi hasilnya nyata. Dua kemenangan legislatif berturut-turut menjadi bukti konkret bahwa strategi politiknya efektif. Dalam bahasa filsafat kekuasaan, legitimacy grows from consistency. Legitimasi tumbuh dari konsistensi, bukan sekadar popularitas sesaat.
Kini, publik dan kader Golkar Kabupaten Kupang sedang menunggu arah angin politik berikutnya. Apakah penundaan Musda XI hanya soal teknis organisasi? Ataukah ada agenda konsolidasi besar dari DPD I dan DPP untuk menentukan arah baru Golkar Kabupaten Kupang menjelang momentum politik mendatang? Sebab dalam politik, keputusan menunda sering kali bukan tentang waktu, melainkan tentang perhitungan kekuasaan.
Apa pun yang terjadi, nama Daniel Taimenas telah meninggalkan jejak penting dalam perjalanan Partai Golkar Kabupaten Kupang. Ia bukan hanya ketua partai, tetapi simbol tentang bagaimana loyalitas dan kerja politik dapat menghasilkan kemenangan yang berulang. Dalam dunia yang penuh pragmatisme, figur seperti Daniel menjadi pengingat bahwa politik sejatinya adalah seni menjaga kepercayaan.
Di tengah riuh perebutan posisi dan agenda tersembunyi itu, satu hal yang perlu direnungkan seluruh kader Golkar adalah: apakah partai ini sedang mencari pemimpin baru, atau justru sedang kehilangan salah satu pemimpin terbaiknya?**
Penulis: Chris M. Bani, S.H









