
Kerja Guru disanding dengan Obat Nyamuk bakar dan Recharging
Begitu menyebut obat nyamuk (bakar) khalayak sudah memastikan model dan wujudnya. Cara menghidupkannya dan cara kerjanya. Pasti tidak bisa dibandingkan antara kerja guru dengan kerjanya obat nyamuk bakar. Guru yang profesional harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Paling tidak seorang guru memiliki ketrampilan dasar mengajar sebagaimana yang dikemukakan oleh James Cooper (dalam Buchari Alma, 2010); 1) instructional planning, 2) writting instructional objectives, 3) lesson presentation skills, 4) questioning skills, 5) teaching consepts, 6) interpersonal communication skills, 7) classroom management, 8) observation skills, 9) evaluation. Keseluruhan ketrampilan dasar ini mesti dimiliki seorang guru. Banyak ahli memberikan pandangan yang mirip tentang ketrampilan dasar seorang guru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam persoalan guru di abad ke-XXI menurut Suharnan (dalam Deni Koswara, 2008), seorang guru yang SUKSES adalah guru yang mempunyai Sasaran, Ulet, Komitmen, Serius, Energi, Suka tantangan. Suharnan menjelaskan masing-masing item tersebut sebagai berikut. 1) Sasaran: mempunyai angan-angan, cita-cita, impian gambaran masa depan jauh; mempunyai sasaran dan target jangka pendek dan jangka panjang; mempunyai obsesi dan berpikir besar; 2) Ulet: kekerasan hati (gigih, bertekad kuat) dalam berusaha sampai berhasil, tekun, sabar, dan konsisten dalam bekerja, pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan dan hambatan, tahan banting; 3) Komitmen: selalu berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan, bertanggung jawab dalam tindakan yang dilakukan, berpegang teguh pada janji yang pernah dibuat, jujur pada diri sendiri dan orang lain, mampu menunda kesenangan sesaat dan mengendalikan diri. Tidak suka menunda pekerjaan; 4) Serius: bersungguh-sungguh dalam bekerja atau melaksanakan tugas, tidak bekerja asal jadi, tetapi bekerja dengan standar kualitas yang baik, sanggup berkonsentrasi/fokus pada tugas-tugas dalam jangka waktu cukup lama, bekerja secara maksimal; 5) memiliki energi fisik dan stamina yang prima; sehat dan tidak gampang sakit, memiliki energi mental (pikiran) cukup, tidak mudah jenuh atau lelah, memiliki semangat tinggi dan kemauan bekerja keras untuk meraih sukses; 6) Suka tantangan: memanfaatkan peluang, menciptakan peluang, sanggup menerima tugas baru, tidak menolak sebelum mencobanya, mencari sesuatu yang belum pernah dilakukan, mengambil inisiatif sendiri tanpa tergantung pada orang lain, mampu menentukan sendiri target dan sasaran yang akan dicapai.
Bani (2010) dalam Jurnal Socius Religius menulis satu judul Menjadi Guru Sekolah Dasar di Pedesaan di Awal Abad 21. Uraiannya singkatnya adalah, bahwa para guru di pedesaan mesti ada usaha untuk mengejar ketertinggalan mereka, ketika teknologi informasi dan komunikasi (TIK) semakin kencang larinya. Para guru di pedesaan untuk berangkat ke kota membutuhkan transportasi yang lancar, tetapi harus lebih lancar lagi dalam mengejar segala pengetahuan dan ketrampilan baru yang berhubungan dengan memperkaya diri sebagai guru. Para siswa yang memanfaatkan produk TIK dapat saja lebih lancar dan kencang larinya dibanding gurunya. Itulah sebabnya Suharnan tidak keliru menyebutkan beberapa item di atas. Dapatkah pembaca membayangkan jika seorang guru tidak menguasai TIK? Jika tidak menguasai TIK dan hanya menggunakan handphone (HP) untuk kepentingan menelpon/menerima telpon atau pesan singkat; sementara banyak akses yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dari dalam HP, maka sang guru di pedesaan sebenarnya sedang ketinggalan kereta, yang sama artinya dengan ia belum memanfaatan energi pada dirinya yaitu belajar sungguh-sungguh dengan memanfaatkan peluang dan produk yang sesungguhnya ikut membantu pemerkayaan pengetahuan dan ketrampilan.
Seorang guru jebolan perguruan tinggi (FKIP/STIKIP, dll) telah terisi energi yang cukup padanya. Energi yang telah dichargekan (su cas 100%) kepadanya itu harus diperbaharui terus-menerus sepanjang ia menjadi guru. Ia tidak boleh mengandalkan secara total energi yang diberikan oleh almamaternya semata, karena ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan seni terus berkembang dan berubah. Bila ia tidak melakukan recharge maka ia akan sama dengan obat nyamuk bakar yang akan habis energinya. Bila ia melakukan recharge ia akan sama dengan HP atau hardware computer (desktop, laptop) yang terus-menerus mendapatkan energi untuk beroperasi, atau yang sama dengan sepeda motornya para guru di pedesaan yang mengganti bahan bakar (oli dan bensin) senantiasa sebagai sumber energinya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









