Satu catatan kecil ketika berada di Amfoang Timur
Hari itu, Jumat (8/5/26), kami berada di Dusun Leomanu, Desa Nunuanah, Kecamatan Amfoang Timur. Acara serah terima tugas/jabatan Kepala UPTD SD Negeri Leomanu berlangsung. Sesudah seluruh rangkaian acara dilangsungkan, satu peluang diberikan kepada Pemulung Aksara. Di hadapan Pengawas Pembina Sekolah, Camat Amfoang Timur, Kepala Desa Nunuanah, para kepala sekolah di sekitar, guru dan para orang tua dan murid, Pemulung Aksara membacakan satu “balada”. Bunyi balada itu sebagai berikut:
Perjalanan di tanah Timor selalu terasa seperti membaca sebuah kitab tua yang ditulis oleh alam. Tapak kaki dan kendaraan bergerak melewati jalan aspal hotmix yang mulus, lalu perlahan berubah menjadi aspal lapen yang kasar, sebelum akhirnya memasuki jalan berbatu dan berlubang seakan menguji kesabaran setiap orang yang melintas. Jalan itu tidak pernah benar-benar lurus. Ia mendaki bukit, turun menuju lembah, lalu melingkar mengikuti lekuk perbukitan yang dibungkus padang sabana keemasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di kejauhan tampak ternak-ternak lepas merumput tanpa tergesa, seperti memahami bahwa waktu di Timor tidak berjalan secepat kota. Angin bergerak pelan di sela pohon ampupu dan pohon tambaring yang tegak kurus namun kuat menghadapi musim. Di kampung-kampung, pagar-pagar kayu berdiri mengelilingi rumah warga, seolah menjaga ingatan tentang kehidupan komunal yang masih bertahan dari generasi ke generasi.
Ada sungai-sungai kering berliku dengan batu-batu besar yang menyimpan cerita musim kemarau dan penghujan. Namun, ada pula sungai berair lebar yang memaksa kendaraan berjalan perlahan sambil “berunding” dengan arus. Alam di Timor memang tidak selalu ramah, tetapi justru di sanalah manusia belajar rendah hati.
Pada satu unit sekolah, pohon-pohon tambaring besar berdiri menaungi halaman dan pekarangan sekitar sekolah, menghadirkan teduh yang terasa seperti pelukan bagi para pejalan. Dan ketika perjalanan mulai mendekati pantai, suara angin laut bercampur dengan bau asin air laut menghadirkan kesan bahwa pulau ini tidak hanya keras, tetapi juga indah dengan caranya sendiri.
Di tanah seperti ini, perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah pelajaran tentang ketahanan hidup. Jalan-jalan yang berliku mengajarkan kesabaran. Bukit-bukit mengajarkan keteguhan. Sungai mengajarkan kehati-hatian. Dan padang sabana di perbukitan mengajarkan manusia untuk tidak takut pada kesunyian.
Mungkin karena itulah orang Timor tumbuh dengan watak yang keras sekaligus hangat: sebab mereka dibesarkan oleh alam yang
mengajarkan perjuangan, tetapi juga kesetiaan untuk tetap bertahan di tanah sendiri.
Sesudah membaca “balada” itu, kepada pejabat kepala sekolah yang diganti mendapat tanda kenangan berupa buku.
Nunuanah, 8 Mei 2026
©Heronimus Bani-Pemulung Aksara








