München,- Di tengah dinginnya udara musim semi di Kota Munich (München), Jerman, langkah seorang gadis muda asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, terasa begitu berarti. Di kawasan bersejarah Marienplatz, pusat keramaian Kota Munich yang dipenuhi bangunan klasik Eropa dan dentang jam lonceng ikonik, Intan Riwu berdiri bukan sebagai wisatawan biasa. Ia hadir sebagai representasi mimpi anak muda NTT yang berhasil menembus dunia internasional.
Pertemuan Intan dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Nusa Tenggara Timur Bobby Lianto menjadi momen yang tidak sekadar penuh kehangatan, tetapi juga menyimpan pesan besar tentang masa depan generasi muda Nusa Tenggara Timur.
Dalam perjalanan kunjungan ke sejumlah negara Eropa, mulai dari Paris, Switzerland hingga Munich, Bobby Lianto memang membawa misi memperkenalkan berbagai produk unggulan asal NTT ke pasar internasional. Namun di sela perjalanan itu, ia menyempatkan diri bertemu dengan para lulusan program pendidikan vokasi KADIN Institute bersama HEY (Habibie Education Youth) dalam program Berufsschule und Ausbildung — sebuah program pendidikan vokasi sambil bekerja di Jerman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Bobby Lianto, pembangunan daerah tidak cukup hanya melalui infrastruktur dan investasi. Masa depan NTT, menurutnya, juga harus dibangun lewat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, sejak awal memimpin KADIN NTT, ia mendorong lahirnya KADIN Institute sebagai wadah pendidikan dan pelatihan vokasi bagi generasi muda.
Melalui kerja sama dengan HEY, program tersebut membuka akses kursus bahasa Jerman, pelatihan budaya kerja Eropa, hingga kesempatan belajar dan bekerja langsung di Jerman. Pada angkatan pertama saja, lebih dari 30 peserta mengikuti program tersebut, dan belasan di antaranya kini telah tinggal dan bekerja di berbagai kota di Jerman.

Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari Intan Riwu, gadis 19 tahun asal Sabu, putri dari Barnabas Riwu dan Dorkas Riwu. Lulusan SMA Kristen Citra Bangsa Kupang itu kini telah lebih dari satu tahun tinggal di Jerman. Dengan penuh semangat, Intan menceritakan bagaimana hidupnya berubah sejak mengikuti program KADIN Institute.
Kini, Intan bekerja di Therme Erding, salah satu wahana pemandian air panas terbesar dan paling terkenal di Jerman yang berada sekitar 45 menit dari Munich. Tempat wisata keluarga itu setiap musim liburan dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Eropa.
Meski mengakui ritme kerja di Jerman cukup melelahkan, Intan merasa semua perjuangan itu terbayar. Dari penghasilannya, ia mampu menabung sekaligus rutin mengirim uang kepada orang tuanya di NTT setiap bulan.
Lebih dari itu, kehidupan di Eropa membuka cakrawala baru bagi Intan. Dari hasil tabungannya, ia bahkan sudah dapat mengunjungi sejumlah negara seperti Italy, France hingga Monaco, selain menjelajahi berbagai kota di Jerman.
Di hadapan Bobby Lianto dan istrinya, Yuliana Nesya Angelina, Intan menyampaikan rasa syukur karena kesempatan tersebut telah mengubah jalan hidupnya. Dari seorang anak muda asal daerah kepulauan di NTT, kini ia mampu berdiri sejajar dengan generasi muda dunia lainnya.
Bobby Lianto menilai, pengalaman seperti yang dialami Intan harus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda NTT lainnya agar tidak takut bermimpi besar.
“Setelah menyelesaikan program Ausbildung selama dua tahun, mereka akan memperoleh sertifikat yang membuka peluang kerja lebih baik di masa depan,” ujar Bobby.
Menurutnya, pengiriman generasi muda NTT untuk belajar dan bekerja di luar negeri bukan hanya soal pekerjaan semata. Lebih dari itu, program tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk membangun pola pikir yang lebih maju, terbuka, disiplin, dan mandiri.
Di tengah tantangan lapangan kerja yang semakin kompetitif, kisah Intan Riwu menjadi bukti bahwa anak-anak muda dari daerah seperti Sabu, Kupang, dan berbagai pelosok NTT memiliki kesempatan yang sama untuk sukses di tingkat global, asalkan memperoleh akses pendidikan, pelatihan, dan keberanian untuk mencoba.
Kisah dari Marienplatz itu akhirnya bukan sekadar cerita perjalanan di Eropa. Ia menjadi simbol harapan baru bagi NTT — bahwa generasi mudanya mampu menembus batas dunia dan kembali membawa perubahan bagi daerahnya.**








