ATAMBUA,- Setelah mengalami kevakuman organisasi selama enam tahun, Pengurus Kabupaten Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Belu resmi dilantik dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) yang digelar di Gedung Betelalenok, Atambua, Jumat (15/5/2026).
Dalam forum tersebut, Migel Lona terpilih sebagai Ketua Pengkab PBVSI Belu, didampingi Eddy Fernandes sebagai Sekretaris Umum dan Agustinus Manek sebagai Bendahara Umum.
Pelantikan dihadiri Ketua Umum Pengurus Provinsi PBVSI Nusa Tenggara Timur Winston Rondo beserta jajaran, Ketua KONI Kabupaten Belu Feby Djuang, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Asisten I Setda Bidang Pemerintahan Kabupaten Belu, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua KONI Kabupaten Belu Feby Djuang mengatakan, olahraga bola voli memiliki basis penggemar yang kuat di Kabupaten Belu. Karena itu, ia berharap kepengurusan baru dapat bergerak cepat membenahi organisasi dan menghidupkan kembali prestasi voli di daerah tersebut.
“Pekerjaan rumah pengurus baru sangat banyak, terutama dalam menata kembali organisasi yang sudah lama vakum. Kami berharap ada kerja cepat untuk mengembalikan voli sebagai olahraga rakyat di Kabupaten Belu,” kata Feby.
Sementara itu, Ketua Pengkab PBVSI Belu Migel Lona menyatakan langkah awal yang akan dilakukan ialah membangun konsolidasi internal dan melibatkan seluruh elemen pecinta voli di Belu.
Menurut dia, upaya kebangkitan organisasi hanya dapat dilakukan melalui kerja bersama dan keterlibatan semua pihak.
“Tugas utama kami sekarang adalah melakukan konsolidasi setelah organisasi ini lama mati suri. Kami ingin bekerja sama dengan semua pihak agar kejayaan voli di Kabupaten Belu bisa kembali,” ujarnya.
Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT Winston Rondo dalam sambutannya menekankan pentingnya soliditas organisasi dan pola kerja modern dalam membangun PBVSI Belu ke depan.
Ia meminta seluruh pengurus bekerja sebagai satu tim dengan mengedepankan disiplin organisasi, komunikasi yang baik, serta kemampuan membangun jejaring.
“Organisasi modern tidak cukup hanya memiliki nama pengurus. Yang dibutuhkan adalah disiplin organisasi, kerja cepat, komunikasi yang rapi, dan kemampuan membangun jaringan dengan berbagai pihak,” kata Winston.
Ia optimistis Kabupaten Belu memiliki potensi besar menjadi salah satu basis kekuatan bola voli di NTT, mengingat tingginya antusiasme masyarakat terhadap olahraga tersebut.
Menurut Winston, Belu memiliki karakter petarung, mental kompetitif, serta kultur voli yang kuat di tengah masyarakat.
“Saya berharap dari Belu lahir atlet voli indoor, voli pasir, pelatih muda, dan wasit berkualitas yang dapat memperkuat NTT menuju PON 2028. Kalau serius bekerja, Belu bisa menjadi salah satu kekuatan utama voli di kawasan Timor,” ujarnya.**








