Refleksi Setahun Pelayanan, GAMKI NTT Gelar Doa Bersama dan Nobar Film “Pesta Babi”

Kamis, 14 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama usia Nobar Film

Foto bersama usia Nobar Film "Pesta Babi"

KUPANG,- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Nusa Tenggara Timur menggelar doa syukur satu tahun pelayanan yang dirangkaikan dengan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi karya jurnalis Dandhy Laksono di Sekretariat DPD GAMKI NTT, Tofa, Kupang, Kamis (14/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya aktivis senior Gusti Brewon, Komisioner KPID NTT Kekson Salukh, akademisi UKAW Kupang Zet Malelak, akademisi Universitas Nusa Cendana sekaligus Ketua Bidang Politik DPD GAMKI NTT Yefta Sabaat, jurnalis senior Ana Dju Kana, Sekretaris DPD GAMKI NTT Amos Lafu, serta Koorwil VII PP GMKI Mikdon Hede Patu.

Kegiatan itu menjadi momentum refleksi satu tahun kepengurusan DPD GAMKI NTT sejak dilantik oleh DPP GAMKI. Dalam periode tersebut, DPD GAMKI NTT meraih penghargaan sebagai DPD Berprestasi Nomor 1 Nasional dalam GAMKI Award.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua DPD GAMKI NTT Winston Rondo mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh pengurus dan kader organisasi.

“Penghargaan ini bukan karena satu atau dua orang, tetapi kerja bersama seluruh pengurus dan sahabat yang melayani dengan caranya masing-masing,” kata Winston dalam sambutannya.

Menurut dia, salah satu aspek yang menjadi perhatian DPP GAMKI ialah banyaknya program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

“Sebagian besar kegiatan kami dilakukan di tengah masyarakat, bukan hanya dalam ruang rapat,” ujarnya.

Winston menambahkan, pemutaran film Pesta Babi sengaja dipilih sebagai ruang pembelajaran kader agar lebih peka terhadap isu kemanusiaan dan persoalan sosial.

“Kita tidak hanya bicara iman dan doa, tetapi juga harus hadir di tengah persoalan masyarakat. Pembangunan harus tetap memanusiakan manusia,” katanya.

Refleksi doa syukur dipimpin Wakil Ketua DPD GAMKI NTT Yomiani Radja. Dalam refleksinya, ia mengajak kader memaknai satu tahun pelayanan sebagai perjalanan iman dan pengabdian.

“Kita mungkin hanya berada di NTT, tetapi pelayanan GAMKI bisa menjangkau banyak orang melalui kerja nyata dan media sosial. Semua ini karena penyertaan Tuhan,” ujarnya.

Diskusi film yang dimoderatori Ren Bonlae berlangsung hangat dan kritis. Akademisi UKAW Kupang, Zet Malelak, membedah film tersebut dari perspektif teologi, hukum lingkungan, ekonomi, dan ketahanan pangan.

Menurut dia, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan dampak sosial dan ekologis.

“Pembangunan selalu memiliki efek. Persoalannya, apakah dampak lingkungan dan kemanusiaannya sudah dihitung secara serius,” katanya.

Ia juga menyoroti paradigma pembangunan pangan nasional yang dinilai terlalu bertumpu pada beras, sementara sistem pangan lokal masyarakat adat berpotensi terpinggirkan.

Sementara itu, Yefta Sabaat menilai film dokumenter merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan kritik sosial yang dijamin dalam negara demokrasi.

“Film dokumenter adalah medium untuk menyampaikan realitas dan suara masyarakat yang sering tidak terdengar,” ujarnya.

Menurut Yefta, perbedaan pandangan terhadap sebuah karya seharusnya dijawab melalui diskusi dan dialog, bukan intimidasi atau pembubaran pemutaran film.

Pandangan serupa disampaikan Ana Dju Kana. Ia mengapresiasi keberanian GAMKI NTT membuka ruang diskusi di tengah polemik pemutaran film dokumenter di sejumlah daerah.

“Tidak semua orang harus setuju terhadap sebuah karya, tetapi kebebasan berekspresi tetap harus dihormati,” kata Ana.

Ia menegaskan, apabila ada pihak yang merasa dirugikan oleh karya jurnalistik atau film dokumenter, mekanisme yang tersedia adalah hak jawab dan Dewan Pers.

Diskusi juga menyinggung pentingnya keberpihakan terhadap Papua dengan tetap menghormati masyarakat adat, budaya, dan ruang hidup masyarakat lokal dalam setiap proses pembangunan.

Bagi GAMKI NTT, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda nonton bersama, tetapi juga ruang pembelajaran politik, kemanusiaan, dan kebangsaan bagi kader muda Kristen.

Menutup kegiatan, Winston Rondo menegaskan penghargaan nasional yang diraih GAMKI NTT harus menjadi tanggung jawab moral untuk terus hadir di tengah masyarakat.

“Pelayanan bukan hanya di altar gereja, tetapi juga di jalan, di pasar, dan di tengah penderitaan rakyat,” ujarnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan malam kebersamaan seluruh kader serta tamu undangan.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

PBVSI Belu Bangkit Setelah Vakum Enam Tahun, Migel Lona Pimpin Kepengurusan Baru
Cerita dari Marienplatz untuk NTT: Mimpi Anak Sabu Menjadi Nyata di Jerman
Kepala BPJN NTT Tinjau Titik Longsor dan Target Proyek Jalan Nasional di Trans Timor
Penghakiman Terhadap PT. Cahaya Berlian Jaya Abadi Tak Berdasar dan Sepihak
PT Bumi Indah Berhak Dinilai Objektif, Opini Sepihak Merusak Iklim Investasi di Daerah
Jejak kata dari Pah Amarasi
Evakuasi hingga Pemulihan, Langkah Cepat Pemprov NTT untuk Panti Holy Angel
CV Laksman Diharapkan Hadirkan Infrastruktur Berkualitas bagi Warga Oeltua

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 00:28

PBVSI Belu Bangkit Setelah Vakum Enam Tahun, Migel Lona Pimpin Kepengurusan Baru

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:44

Cerita dari Marienplatz untuk NTT: Mimpi Anak Sabu Menjadi Nyata di Jerman

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:10

Kepala BPJN NTT Tinjau Titik Longsor dan Target Proyek Jalan Nasional di Trans Timor

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:41

Refleksi Setahun Pelayanan, GAMKI NTT Gelar Doa Bersama dan Nobar Film “Pesta Babi”

Kamis, 14 Mei 2026 - 05:55

Penghakiman Terhadap PT. Cahaya Berlian Jaya Abadi Tak Berdasar dan Sepihak

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.