Koster di Gereja (GMIT)

Senin, 2 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Heronimus Bani

Heronimus Bani

KOSTER DI GEREJA (GMIT)

Heronimus Bani
Suatu ketika, dalam dua tahun yang lalu, saya menyarankan kepada Majelis Klasis Harian (MKH) Amarasi Timur, bila berkenan mengadakan suatu kebaktian atau satu kegiatan yang melibatkan para koster dari jemaat-jemaat se-Klasis Amarasi Timur. Sampai tulisan ini dibuat, MKH belum mewujudkan saran ini, karena terkendala, satu program mesti dibahas matang oleh sidang majelis klasis. Saya pastikan, bahwa itu hanya saran, apalagi disampaikan secara informal, sehingga tidak digubris pun bukan sesuatu yang menjadi persoalan pada saya yang menyarankan.

Nah, pikiran dan perasaan awam terhadap jabatan koster secara gamblang yaitu jabatan dan tugas koster hanyalah sesuatu yang kecil di dalam gereja. Koster, bertugas membersihkan ruang kebaktian dan halaman gereja. Tugas lanjutannya adalah menabuh lonceng gereja tanda akan kebaktian/ibadah. Bila ada kegiatan yang membutuhkan lonceng gereja dibunyikan, maka kosterlah yang diminta membunyikannya. Bila ada kematian, koster diminta membunyikan lonceng gereja. Bila ada tugas lain yang diberikan oleh Majelis Jemaat Harian (mis: Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan anggota), ia sigap melakukannya. Sering orang berkata, ”Lu koster sa ju… .“ Kata-kata ini sangat mengecilkan jabatan koster. Dampaknya, para koster pun merasa sebagai orang rendahan. Tapi, berapa banyak orang yang mau “menyerahkan” diri untuk tugas kecil itu?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya berpikir agak berbeda. Mengapa? Nampaknya tugas yang dianggap sederhana dan kecil itulah, maka perhatian terhadap mereka pun dianggap “kurang penting” sekalipun dibutuhkan. Jika demikian, mengapa  para koster tidak dibuatkan program misalnya, pembinaan koster. Mula-mula melalui suatu kebaktian, lalu diikuti pembinaan berkelanjutan, sebab koster itu satu jabatan dan fungsi gerejawi.

Pembaca. Mari membayangkan. Jika satu jemaat (gereja di GMIT) punya satu koster saja. Lalu suatu ketika si Koster sakit demam atau sakit kritis dan  tidak sempat mengabarkan kepada MJH, lalu lonceng gereja tidak dibunyikan untuk kebaktian. Siapa yang disalahkan? Pasti si Koster. Anggota jemaat pasti kecewa dan marah; apalagi anggota MJ. Mereka akan makan gigi kalau koster tidak membunyikan lonceng gereja. Anggota jemaat akan sangat kecewa dan mempersalahkan koster jika mendapati bangku,kursi dan ruang ibadah berdebu. “Koster kerja apa ko sonde basapu, sonde pel lante, sonde lap bangku, kursi, sonde lap kaca jendela?” Kira-kira begitulah suara-suara sumbang dari mereka yang menganggap koster kurang kerja.

Dalam pengalaman hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan dan terutama menjadi anggota jemaat dan ketika menjadi anggota MJ, saya melihat dan merasakan hal itu. Koster bagai pesuruh kelas bawah. Ia “berlari”  untuk mengurus rumah tangganya sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga, sambil pikiran, perasaannya tetap diarahkan ke gedung gereja, halaman gereja dan lonceng gereja. Ia selalu harus ada di sekitar lingkungan/kintal gereja, jika ada rumah koster ia menetap disana. Jika tidak ada rumah koster, sehingga ia tinggal di luar kompleks gereja, maka ia pun harus selalu berada di rumah.

Suatu ketika koster di tempat saya mendapat kabar duka dari keluarganya  di kota Kupang. Saya pun mendapat kabar yang sama. Si Koster “mengeluh” karena harus datang melayat dan hadir dalam upacara subat, sementara pada hari besoknya, ada kegiatan di gereja. Ia harus memilih antara pergi melayat atau tidak. Lalu, saya minta si Koster ini pergi ke kota bersama saya dengan berkendaraan sepeda motor. Di tempat kedukaan, sesudah upacara pemakaman, kami bergegas pulang, sekalipun si Koster mestinya tinggal dulu karena ia bagian dari keluarga duka itu. Di perjalanan, ia menceritakan suka-dukanya menjadi koster.

Saya sangat bersimpati padanya. Lalu, terpikirlah untuk menyarankan kepada MKH Amarasi Timur untuk memprogramkan satu kegiatan (atau kebaktian) yang khusus dan khas para koster. Karmana ko?

[1]Sebuah refleksi menyongsong 70 tahun GMIT

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Roh Kudus turun ketika bumi luka
Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa
Estafet pengabdian di tanah pendidikan Kabupaten Kupang
Dari Bukit Golgota ke Bukit Zaitun
Membaca Nunuanah dan Terus Belajar Memaknainya
Simpang tiga: persaudaraan, peluang dan jalan menuju kemandirian
Ketika Suara dari Pinggiran Timor Menembus Jarak
Menjemput Keadilan di dalam Arus Waktu: Senjakala Hak Istimewa

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 01:16

Roh Kudus turun ketika bumi luka

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:32

Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa

Senin, 18 Mei 2026 - 04:56

Estafet pengabdian di tanah pendidikan Kabupaten Kupang

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:52

Dari Bukit Golgota ke Bukit Zaitun

Senin, 11 Mei 2026 - 00:20

Membaca Nunuanah dan Terus Belajar Memaknainya

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.