Di lorong panjang sejarah manusia, nama-nama besar sering lahir dari kekuasaan, perang, atau kemenangan politik. Namun, nama Yesus lahir dari jalan sunyi penderitaan. Ia dipanggil dengan berbagai sebutan: Yesus dari Nazaret, Rabi, Guru, Tuan, Mesias. Sebagian menyebut-Nya dengan hormat, sebagian lagi dengan nada curiga, bahkan kebencian. Di tengah masyarakat Yudea, Galilea, Samaria, dan kampung-kampung sekitarnya, hingga kota besar Yerusalem yang penuh ketegangan sosial, penjajahan Romawi, kemiskinan, dan kecemasan religius, hadir seorang Guru Agung yang berjalan dari kampung ke kampung, menyentuh orang sakit, makan bersama para pendosa, berbicara tentang kasih, pengampunan, dan Kerajaan Allah. Tetapi dunia sering kali gelisah terhadap pribadi yang membawa terang. Terang membuat manusia melihat luka, dosa, kemunafikan, dan kerakusan dirinya sendiri.
Ketika Yesus ditangkap, malam itu bukan hanya langit Yerusalem yang gelap, tetapi juga batin para murid-Nya. Mereka yang sebelumnya berjalan penuh keyakinan tiba-tiba dicekam ketakutan psikologis yang amat manusiawi. Petrus menyangkal. Murid-murid lain bersembunyi. Ada kecemasan kolektif yang merambat seperti racun ke dalam jiwa mereka: “Apakah perjuangan ini berakhir sia-sia? Apakah Guru yang kami ikuti ternyata kalah?” Trauma mulai bekerja. Mereka menyaksikan tubuh Sang Guru dicambuk, dihina, diludahi, dipaksa memikul kayu salib menuju Golgota. Mereka mendengar dentingan palu menembus tangan dan kaki-Nya. Mereka melihat darah dan penderitaan yang sulit dipahami akal manusia.
Secara psikologis, kematian Yesus adalah runtuhnya pusat harapan para murid. Mereka kehilangan figur pemimpin, sahabat, sekaligus tempat menggantungkan masa depan. Dalam pengalaman manusia, kehilangan seperti itu sering melahirkan kehampaan. Ketika seseorang yang menjadi sumber makna hidup tiba-tiba direnggut, manusia merasa dunia berhenti bergerak. Itulah yang dialami para murid. Mereka hidup dalam ketakutan, bukan hanya terhadap ancaman fisik dari penguasa, tetapi juga terhadap kehancuran batin mereka sendiri. Kesedihan yang mendalam sering membuat manusia merasa Tuhan pun diam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun justru di titik paling gelap itulah kabar kebangkitan datang. Kubur kosong menjadi simbol bahwa kematian bukan akhir. Secara teologis, kebangkitan Yesus bukan sekadar mukjizat tentang seseorang hidup kembali. Kebangkitan adalah deklarasi ilahi bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, terang lebih kuat daripada kegelapan, dan kehidupan lebih kuat daripada kematian. Murid-murid yang semula gemetar perlahan dipulihkan. Mereka melihat kembali Sang Guru. Luka di tangan-Nya masih ada, tetapi kini luka itu menjadi tanda kemenangan, bukan kekalahan.
Kenaikan Yesus ke surga di bukit Zaitun menghadirkan dinamika psikologis yang unik. Para murid kembali menghadapi perpisahan. Tetapi kali ini berbeda. Mereka tidak lagi ditinggalkan dalam keputusasaan. Mereka telah belajar bahwa kehadiran Allah tidak dibatasi tubuh fisik. Yesus yang terangkat ke surga bukan meninggalkan manusia, melainkan membuka kesadaran baru bahwa Tuhan bekerja melampaui mata yang melihat. Dalam pengalaman iman Kristen, kenaikan menjadi jembatan antara bumi dan kekekalan: manusia diajak memandang hidup tidak hanya dari luka hari ini, tetapi juga dari pengharapan yang melampaui sejarah.
Secara sosio-kultural, peringatan Kenaikan Tuhan Yesus setiap tahun bukan sekadar ritual gerejawi. Ia adalah pengingat bahwa manusia modern pun hidup dengan kecemasan yang serupa dengan para murid dahulu. Dunia hari ini dipenuhi ketakutan: kehilangan pekerjaan, konflik politik, keretakan keluarga, krisis moral, kemiskinan, perang digital berupa fitnah dan kebencian di media sosial, bahkan kecemasan akan masa depan generasi muda. Banyak orang tampak tersenyum di luar, tetapi menyimpan kegelisahan di dalam jiwa. Banyak rumah terang lampunya, tetapi gelap percakapannya. Banyak manusia hidup di tengah keramaian, tetapi kesepian secara batin.
Dalam keadaan demikian, kisah Yesus yang disalibkan, bangkit, lalu naik ke surga menjadi cermin spiritual bagi manusia. Bahwa luka hidup tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Bahwa kadang-kadang manusia harus melewati Golgota sebelum memahami arti kebangkitan. Bahwa iman bukan hidup tanpa air mata, melainkan keberanian berjalan bersama Tuhan di tengah air mata itu sendiri.
Kenaikan Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh terus tinggal di kubur masa lalu: kubur trauma, kubur dendam, kubur kegagalan, kubur rasa bersalah, maupun kubur ketakutan. Sebab Kristus yang bangkit menghendaki manusia bangkit pula secara batin. Ia tidak memanggil manusia menjadi tawanan kecemasan, tetapi menjadi pembawa pengharapan bagi sesama.
Pesan rohani itu akhirnya sederhana namun dalam: ketika hidup terasa gelap dan Tuhan seolah jauh, ingatlah bahwa para murid pun pernah berada dalam ketakutan yang sama. Tetapi ketakutan bukan akhir cerita. Kubur bukan akhir cerita. Air mata bukan akhir cerita. Dalam iman Kristen, selalu ada fajar sesudah malam, selalu ada kebangkitan sesudah penderitaan, dan selalu ada pengharapan bagi jiwa yang mau percaya. Sebab Tuhan yang naik ke surga bukan Tuhan yang meninggalkan manusia, melainkan Tuhan yang mengajarkan bahwa hati yang percaya akan selalu menemukan jalan pulang menuju terang.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara








