Di tanah yang dibatasi oleh sabana, batu karang, dan desir angin laut dari barat Pulau Timor, ibadah selalu lebih dari sekadar pertemuan liturgis. Ia adalah ruang tempat manusia mengingat asal-usulnya, menyusun kembali hati yang tercerai oleh kesibukan dunia, lalu menaruh hidupnya di hadapan Tuhan yang tetap setia memelihara zaman. Demikianlah suasana yang terasa pada minggu kedua Bulan Budaya GMIT di Jemaat GMIT Jemaat Yegar Sahaduta Oenaek.
Hari Minggu (10/5/26), gereja tidak hanya dipenuhi nyanyian dan doa, tetapi juga dipenuhi makna tentang perjalanan pelayanan. Dua orang pendeta berdiri di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya dalam satu momentum yang hening sekaligus agung. Yang seorang berdiri untuk melepaskan tanggung jawab sebagai Ketua Majelis Jemaat, berpamitan menuju ladang pelayanan yang baru. Yang seorang lagi berdiri menerima tongkat pelayanan, menyatakan kesiapan untuk berjalan bersama Tuhan dan umat-Nya dalam tugas organisasi dan pemberitaan Injil.
Pdt. Yefta H. Bani, S.Th melepas tugas organisasi sebagai Ketua Majelis Jemaat Yegar Sahaduta Oenaek, dan diterimakan kepada Pdt. Laura Inggrid Dwimurni Tanesab, S.Th dr GMIT Syalom Oehela. Pdt. Yefta Bani akan bertugas ke Jemaat Nisum masih di Klasis Kupang Barat, sementar Pdt. Laura dimutasi dari Jemaat Syalom Oehela Klasis So’e.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di dalam kehidupan gereja, pergantian tugas sering tampak sederhana: ada yang pergi dan ada yang datang. Namun sesungguhnya, di balik itu terdapat perjalanan batin yang panjang. Sebab pelayanan bukan sekadar jabatan yang dipindahkan dari tangan ke tangan. Pelayanan adalah salib yang dipikul dengan doa, air mata, kesabaran, dan kesediaan untuk mengasihi manusia apa adanya.
Mazmur 1:1–6 yang menerangi ibadah itu menjadi pelita bagi seluruh jemaat. Tentang pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan tidak layu daunnya. Firman itu bukan hanya dibacakan, melainkan hidup di tengah jemaat. Ada pesan kebijaksanaan yang mengalir tenang: bahwa seorang pelayan Tuhan harus berakar dalam firman, bukan dalam pujian manusia; bertumbuh dalam kesetiaan, bukan dalam ambisi; dan tetap teduh sekalipun musim pelayanan berubah.
Balutan liturgi etnis Alor-Pantar menghadirkan kehangatan budaya yang menyatu dengan iman, walau terlihat hari Minggu ini nuansanya multi etnis: Rote, Alor-Pantar, Amarasi, Amanuban, dan Sonba’is. Di sana tampak bahwa Injil tidak mematikan kebudayaan, melainkan menerangi dan memuliakannya. Bahasa tubuh dalam tarian penyambutan, bunyi langkah prosesi para pelayan, corak kain adat, serta alunan saxophone yang mengalir lembut menjadi tanda bahwa Tuhan dapat dijumpai juga melalui keindahan budaya manusia. Gereja tidak berdiri melawan kebudayaan, tetapi berjalan bersama nilai-nilai luhur yang memanusiakan kehidupan.
Pujian dari VG Nisum, Sufan Koro’oto Choir, PS Yegar Sahaduta, dan PS Umi Nii Baki–Koro’oto membuat ibadah itu seperti sungai suara yang mengalir dari banyak mata air. Ada suara yang lembut seperti doa seorang ibu di malam hari. Ada suara yang kokoh seperti batu-batu karang di pesisir selatan. Semua berpadu menjadi nyanyian syukur yang melampaui sekadar harmoni nada. Sebab nyanyian gereja sesungguhnya adalah kesaksian bahwa manusia masih memiliki harapan di tengah dunia yang sering kehilangan arah.
Di tengah zaman ketika banyak orang mengejar kedudukan untuk dihormati, gereja justru memperlihatkan hal yang berbeda: jabatan pelayanan dapat dilepas dengan kerendahan hati, dan diterima dengan kesadaran akan tanggung jawab. Itulah kebijaksanaan rohani yang mulai langka. Bahwa menjadi pemimpin bukan berarti menjadi paling tinggi, melainkan menjadi orang yang rela berdiri paling depan untuk melayani dan paling belakang untuk menanggung beban umat.
Mungkin itulah sebabnya suasana ibadah terasa begitu menggetarkan. Jemaat bukan hanya menyaksikan serah terima tugas organisasi. Jemaat sedang belajar tentang kefanaan manusia dan kesetiaan Tuhan. Pelayan datang dan pergi, generasi berganti, tetapi Injil tetap berjalan melintasi waktu seperti angin yang tak dapat dibendung.
Ketika satu unit saxophone mengalunkan nada lembut di antara sunyinya doa-doa, tarian, dan nyanyian jemaat, seakan ada pesan sunyi yang turun dari langit: bahwa pelayanan yang sejati bukan tentang siapa yang dikenang paling lama, melainkan siapa yang dengan setia menanam kasih Tuhan dalam hati manusia, walau namanya perlahan dilupakan zaman.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara








