Festival Teres (ide belaka)

Sabtu, 8 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

cinta Teres

cinta Teres

Heronimus Bani
Heronimus Bani

Festival Teres, (Ide Belaka)

Pengantar

Beberapa hari yang lalu penulis mengunjungi pantai Teres. Selanjutnya turunlah opini berjudul, Menengok Teres, Ada Apa Sesungguhnya hari ini? Penulis tidak berhenti sampai di situ. Dalam satu pertemuan informal dengan seorang teman yang berdomisili di kelurahan Buraen, terlontarlah ide untuk diskusi-diskusi di kalangan masyarakat di dalam wilayah kelurahan Buraen dan Amarasi Selatan tentang masa depan pantai Teres. Ide itu penulis sebut FESTIVAL TERES. Ide ini dianggap sesuatu yang bagus. Selanjutnya melalui media pengiriman pesan (sms),kepada beberapa orang teman penulis sampaikan ide ini. Mereka pun menyambutnya dengan baik. Bahkan seorang anggota DPRD mau berdiskusi lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Festival Teres?

Pantai Teres sudah terkenal dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Faktor penarik minat adalah informasi tentang keindahan pantai dan jalan beraspal hotmix. Semua ini berawal dari cerita-cerita ketika hutan di bibir pantai digunduli, bukit batu digusur, kali/sungai pengganggu jalan akan dibangun jembatan. Semakin menjadikan orang makan gigi karena daerah itu secara kasat mata pada hari ini rasanya tidak menghasilkan sesuatu bagi masyarakat dan pemerintah. Bila melintas sepintas di sana, orang berdecak kagum atas keindahan pantai sejauh mata memandang, tengganggunya telinga mendengar gemuruh gelombang yang tiada henti-hentinya, viu batuan cadas di bibir pantai yang tegas, viu bukit Braon dari pantai atau sebaliknya dari bukit ke pantai, licinnya jalan beraspal yang sibuk hanya pada hari libur (terutama setiap hari minggu). Sementara tidak ada kesibukan “mendulang” keuntungan sesaat dengan memanfaatkan kunjungan wisatawan domestik dari kota Kupang, terutama para muda.

 

Semua keindahan yang memanjakan mata dan rasa belum ada polesan artifisial untuk menjadikannya sebagai objek wisata. Animo masyarakat yang tinggi untuk berkunjung ke Teres tidak utuh terhapuskan di sana ketika mereka tiba hanya untuk menikmati jalanan berbatuan, beraspal hotmix dan pantai berhias batuan cadas dan gelombang. Pengunjung belum menemukan oase pemuas kebutuhan fisik ketika kelelahan. Permasalahan ini belum mendapatkan porsinya paling tidak oleh pemerintah Kelurahan Buraen dan Amarasi Selatan.

 

Sepanjang pantai dapat dijadikan lokasi menarik dengan sentuhan yang mungkin masih amatiran atau lebih baik jika profesional. Penyelenggaraan suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan akan menaikkan gengsi dan nilai ekonomi pada Pantai Teres. Salah satu idenya adalah Festival Teres.

Bisa Festival Teres, Bagaimana?

Melahirkan ide itu mudah. Begitu terbersit, langsung dilahirkan dengan ucapan. Orang langsung merespon dengan memberi nilai positif atau negatif. Mereka yang memberi tanggapan positif akan tersenyum dan segera memperkaya ide itu. Mereka yang menanggapi secara negatif akan mereduksi ide. Walau begitu, bila penggagas dapat berargumentasi, kelak dapat terwujud. Jalan berliku untuk mewujudkan ide tersebut.

 

Menjawab pertanyaan pada sub judul ini, pokok pikiran secara gamblang sebagai berikut.

Para tokoh dan pemerintah (minimal Kelurahan dan Kecamatan) dapat melakukan diskusi-diskusi intensif. Hasil diskusi dapat ditindaklanjuti dengan membentuk panitia yang bekerja dalam satuan waktu yang lama (di atas satu semester). Panitia inilah yang selanjutnya diberi kewenangan untuk merencanakan isi festival dan segala hal teknisnya.

 

Penutup

Demikian seuntai ide tentang Festival Teres. Pantai Teres akan menjadi destinasi baru wisata pantai bila masyarakat Buraen, meluas ke Amarasi Selatan dan Amarasi Raya pada umumnya memulainya. Mulainya dengan budaya bnetes dalam pengertian mendahului agar mendapatkan perhatian dan tanggapan positif. Maka, selanjutnya pemangku kepentingan yang lain akan bergabung. Selamat berpikir dan berargumentasi.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Roh Kudus turun ketika bumi luka
Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa
Estafet pengabdian di tanah pendidikan Kabupaten Kupang
Membaca Nunuanah dan Terus Belajar Memaknainya
Simpang tiga: persaudaraan, peluang dan jalan menuju kemandirian
Ketika Suara dari Pinggiran Timor Menembus Jarak
Menjemput Keadilan di dalam Arus Waktu: Senjakala Hak Istimewa
Ketika Baju Dilepas: Tafsir Sosio-Politik atas Gestur Presiden Prabowo Subianto

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 01:16

Roh Kudus turun ketika bumi luka

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:32

Kebangkitan Nasional di Tengah Kegelisahan Bangsa

Senin, 18 Mei 2026 - 04:56

Estafet pengabdian di tanah pendidikan Kabupaten Kupang

Senin, 11 Mei 2026 - 00:20

Membaca Nunuanah dan Terus Belajar Memaknainya

Jumat, 8 Mei 2026 - 00:01

Simpang tiga: persaudaraan, peluang dan jalan menuju kemandirian

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.