Di antara jalan-jalan panjang yang tak selalu ramah, seorang anak pernah belajar memahami dunia tanpa pelukan ibu. Namanya Chris M. Bani. Ia tumbuh dari kehilangan yang terlalu dini, ibunya pergi ketika ia masih kanak-kanak, menyisakan ruang sunyi yang tak pernah benar-benar terisi. Bersama ayah dan seorang saudaranya, mereka berpindah-pindah, seperti angin sabana yang tak menetap. Lalu, satu keluarga membuka pintu: keluarga Bani. Keluarga Bani menerimanya, mengukuhkannya sebagai anak di Umi Nii Baki-Koro’oto. Di sanalah ia tidak hanya ditampung, tetapi juga diterima sebagai anak, sebagai harapan yang ditanam ulang.
Masa kecilnya tidak ditulis dengan tinta keteraturan. Ia pernah menjadi anak yang tidak mudah diatur, yang berjalan di tepi-tepi batas disiplin. Sekolah sempat terasa asing, bahkan nyaris ditinggalkan. Namun, hidup, dengan caranya yang diam-diam, selalu menyelipkan kesempatan kedua. Dari ruang-ruang kelas sederhana, dari buku-buku yang dibuka dengan ragu, ia perlahan menata dirinya. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah atas—bukan dengan gemilang yang riuh, tetapi dengan keteguhan yang sunyi.
Selepas SMA, ia tidak langsung menemukan jalannya. Ia bekerja sebagai petugas marketing, berhadapan dengan angka dan target, sambil diam-diam memelihara kecintaannya pada kata. Dari sana, ia mulai menulis berita—mengamati, mencatat, dan menyusun realitas dalam kalimat-kalimat yang jujur. Pada Agustus 2015, bersama orang tua angkatnya, ia mendirikan sebuah media: INFONTT. Dari bentuk tabloid sederhana, media itu bertumbuh menjadi ruang digital, mengikuti denyut zaman. Sepuluh tahun kemudian, Desember 2025, INFONTT ditutup, tetapi jejaknya telah lebih dahulu menyatu dalam perjalanan hidupnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan jalan pembentukan diri. Ia menempuh uji kompetensi, dan lulus dengan predikat Wartawan Muda, suatu pengakuan atas ketekunan yang dibangun dari nol. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia merasa ada panggilan yang lebih dalam: memahami hukum, bukan hanya sebagai berita, tetapi sebagai medan perjuangan.
Ia memilih Ilmu Hukum, dan melangkah masuk ke bangku Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Profesor Usfunan Kupang. Delapan semester ia jalani dengan disiplin yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Hukum tidak lagi sekadar pasal-pasal, tetapi menjadi bahasa untuk membela, alat untuk memperjuangkan yang kerap tak terdengar. Bersama dua rekannya, ia bahkan pernah mengetuk pintu Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, menguji satu bagian yang terlihat kecil dalam perubahan KUHP dan KUHAP yang baru. Sebagian permohonan mereka diterima, satu tanda bahwa suara kecil pun dapat menggema di ruang besar keadilan.
Perjalanannya menuju profesi advokat tidak singkat. Ia harus melewati dua kali ujian, menahan lelah, dan menimbang kembali niatnya. Hingga akhirnya, Dewan Pengacara Nasional menerimanya. Pada 20 April 2026, di salah satu hotel di Kota Kupang, ia dan rekan-rekannya dikukuhkan sebagai advokat. Sehari kemudian, 21 April 2026; bertepatan dengan Hari Kartini, ia dilantik secara resmi di Pengadilan Tinggi Nusa Tenggara Timur. Suatu ironi yang indah: pada hari emansipasi, seorang anak dari pinggiran berdiri sebagai pembela hukum. Pada peristiwa pelantikan ini, ia tidak sendirian. Ia bersama beberapa rekannya
Kini, Chris M. Bani, S.H., tidak lagi sekadar nama dalam daftar kelulusan atau sertifikat profesi. Ia adalah cerita tentang ketekunan yang menolak menyerah, tentang kehilangan yang tidak mematahkan, tentang kesempatan yang tidak disia-siakan. Dari anak yang nyaris tersesat, ia menjadi seseorang yang memilih berdiri di sisi hukum, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku.
Di titik awal perjalanan ini, ada harapan yang lebih besar dari sekadar karier. Setiap langkahnya di ruang sidang kelak tidak hanya membela perkara, tetapi juga membela manusia untuk memanusiakan. Bahwa hukum tidak ia jadikan alat untuk memperkuat yang kuat, melainkan jembatan bagi mereka yang lemah. Dan bahwa di balik toga hitam yang dikenakannya, tetap hidup ingatan tentang jalan panjang yang pernah ia lalui agar ia ingat: keadilan sejati selalu berpihak pada mereka yang selama ini terpinggirkan, yang suaranya nyaris hilang di antara gemuruh dunia.
Mari berangkat dari kampung, dari kaum yang terpinggirkan sebagaimana INFONTT pernah memulai dari kampung, dari pinggir, tepi yang sunyi di belakang gemuruh kota.
Penulis: Heronimus Bani-Pemulung Aksara









