Perempuan yang Menumpang Jalan, tetapi Menjadi Penunjuk Arah
Waktu menunjuk April 1991. Ketika itu seorang guru perempuan memasuki satu ruang kelas yang dindingnya masih sederhana. Ia duduk tegak di balik meja kayu. Tangannya terulur bukan sekadar menunjuk arah, melainkan seolah sedang meraba masa depan yang tak pernah ia tempuh dengan jalan yang mudah. Namanya Yane E. Suni. Ia tidak lahir untuk langsung menjadi pengawas sekolah, tidak pula langsung berdiri di pucuk otoritas pendidikan. Ia bertumbuh perlahan, seperti akar yang menembus tanah keras: dari guru kelas, menjadi kepala sekolah, lalu berpuncak sebagai pengawas pembina bagi puluhan sekolah dasar yang tersebar di bentang tanah yang tak selalu ramah.
Dua puluh lima satuan pendidikan berada dalam lingkar tanggung jawabnya, baik di Amarasi Selatan, maupun di Amfoang Barat Laut. Angka-angka itu bukan sekadar data administratif; ia adalah jarak, waktu, dan tenaga yang harus ditaklukkan. Sebab ia, dalam ungkapan yang getir namun jujur, “tidak punya kaki sendiri.” Ia bergantung pada deru ojek, pada ruang sempit kendaraan umum, pada kemurahan hati tumpangan yang datang tak selalu pasti. Kadang-kadang ia memaksa suami atau anak yang sudah punya tanggung jawab sendiri. Namun, justru dari keterbatasan itu, langkahnya menjadi lebih luas dari sekadar hitungan kilometer.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia melintasi jalan aspal yang kadang retak oleh usia, juga jalan berbatu yang mengguncang tubuh dan keyakinan. Ia menyeberangi sungai yang pada musim kering hanya menyisakan batu-batu sunyi, dan pada musim hujan berubah menjadi arus yang menggertak keberanian. Pernah suatu waktu, air sungai membanjir hingga merendam hampir seluruh tubuhnya, menyisakan leher dan kepala sebagai tanda bahwa hidup masih berpegang. Dalam arus itu, ia tidak sendiri, tangan-tangan lain hadir, menguatkan, menyelamatkan. Dan dari peristiwa itu, ia tidak hanya menyeberangi sungai, tetapi juga melampaui batas ketakutan yang paling manusiawi.
Di balik semua perjalanan itu, ia tetap seorang perempuan yang tekun merawat pengetahuan. Ia melanjutkan studi hingga jenjang pascasarjana, menenun antara tugas lapangan dan tugas akademik dengan kesabaran yang jarang disorot. Kini ia menunggu wisuda, satu penanda formal dari perjuangan panjang yang sesungguhnya telah lama ia menangkan dalam diam.
Kisahnya bukan sekadar biografi seorang guru, melainkan cermin dari wajah pendidikan di pinggiran: tentang dedikasi yang tak selalu mendapat sorotan, tentang tubuh yang lelah namun enggan menyerah, dan tentang harapan yang terus berjalan, meski harus menumpang pada roda orang lain. Dalam dirinya, kita melihat bahwa ketangguhan bukanlah suara yang lantang, melainkan langkah yang tetap bergerak, bahkan ketika jalan tak pernah benar-benar tersedia.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara









