Senja turun perlahan, seperti tangan ibu yang tak pernah lelah memanggil pulang anak-anaknya. Langit menguning lembut, menyaring cahaya terakhir yang jatuh di sela-sela daun, seakan waktu sendiri sedang berdoa dalam diam. Angin kecil berbisik, membawa kabar pulang bagi segala yang lelah berkelana.
Di tanah yang sederhana, tiga ekor ayam kampung menunduk khusyuk, mematuk butir demi butir rezeki yang tersisa. Tak ada tergesa, tak ada iri, hanya kesadaran purba tentang cukup, tentang hari yang segera ditutup dengan syukur. Paruh-paruh kecil itu seperti menulis doa di atas debu, mengucap terima kasih tanpa kata.
Dan ketika cahaya makin redup, panggilan itu semakin jelas, bukan suara, melainkan rasa. Ranting-ranting pohon telah bersiap menjadi pelukan, cabang-cabang menjelma tempat bersandar. Seekor demi seekor akan melompat, meninggalkan tanah, menuju ketinggian yang aman, seperti anak-anak yang akhirnya kembali ke pangkuan ibu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Senja pun tersenyum, sebab semua yang pergi tahu jalan pulang.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara









